Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Enam Manusia Bertopeng


__ADS_3

"Tidak perlu repot-repot seperti itu, Tuan. Aku jadi merasa tidak enak," Zhang Fei segera meminta pria itu untuk duduk kembali di kursinya.


Melihat respon yang diberikan oleh Zhang Fei, akhirnya dia pun menurut dan kembali duduk.


Sementara itu, setelah beberapa waktu kemudian, Ketua Dunia Persilatan mulai berbicara lebih lanjut lagi.


"Kalau aku boleh tahu, siapa Tuan-tuan ini? Aku merasa belum mengenal kalian,"


Zhang Fei memang merasa asing. Rasanya, dia baru bertemu mereka kali ini saja.


Biasanya kalau memang orang-orang itu teman lama, hanya melihat dari pakaian dan postur tubuhnya pun, Zhang Fei sudah bisa mengenalinya.


Tetapi ini, walaupun ia telah menyelidiki mereka sejak tadi, hasilnya tetap nihil. Zhang Fei tidak berhasil mengetahui siapa saja keenam orang tersebut.


"Ah, maaf, Ketua Fei. Kami bahkan sampai lupa memperkenalkan diri," salah seorang pria bertopeng buru-buru menjawab. Ia kemudian bangkit dan mulai memperkenalkan diri. "Untuk saat ini, Ketua Fei hanya perlu memanggil kami sebagai Enam Manusia Bertopeng. Kami jauh-jauh datang kemari hanya untuk bertemu sekaligus meminta bantuan Ketua Fei,"


Enam Manusia Bertopeng? Meminta bantuan?"


Ketua Dunia Persilatan termenung cukup lama. Ia pun mengerutkan keningnya.


Zhang Fei merasa baru mendengar julukan itu. Di satu sisi, dia pun merasa heran, kira-kira bantuan apa yang dimaksudkan oleh pria tersebut?


"Maaf, Tuan, aku merasa baru mendengar ada julukan seperti ini," katanya dengan jujur.


"Kami mengerti, Ketua Fei. Memang, di kota-kota besar seperti ini, kami kurang terkenal. Tetapi kalau di pelosok sebelah Barat, rasanya hampir semua orang tahu siapa kami,"


Ketua Dunia Persilatan mengangguk beberapa kali. Karena mendengar ucapannya yang cukup meyakinkan, akhirnya Zhang Fei pun tidak banyak bicara lagi.


Untuk menilai apakah orang itu baik atau tidak, biasanya Zhang Fei hanya perlu melihat bagaimana sikap dan bicaranya saja. Dan menurut anggapannya, keenam pria itu bisa dibilang bukanlah lawan.


Untuk saat ini, setidaknya mereka masuk dalam kategori kawan.


"Lalu, bantuan apa yang Tuan maksud?"


"Begini, Ketua Fei," orang itu segera membetulkan posisi duduknya. Setelah mendapat posisi yang pas, ia segera berkata lebih lanjut. "Walaupun usia Ketua jauh lebih muda, tetapi kami sangat yakin bahwa pengetahuan Ketua jauh mengungguli kami semua," orang itu berbicara seolah-olah sedang memuji Zhang Fei.

__ADS_1


"Lanjutkan saja, Tuan," pintanya.


"Baiklah. Begini, Ketua Fei, beberapa waktu lalu kami menemukan sebuah kitab yang usianya sudah sangat tua. Tetapi ketika dibuka, kami tidak bisa mengetahui apa isinya. Sebab tulisan yang terdapat di dalam kitab tersebut berbeda dengan tulisan di negeri kita. Maka dari itu, kami meminta Ketua Fei untuk membaca dan menerangkannya kepada kami," kata orang itu menjelaskannya lebih lanjut.


"Hemm ... apakah kitab itu berisi tentang ajaran ilmu silat?"


"Sepertinya begitu, karena setiap gambar yang terdapat di dalamnya, melambangkan orang yang sedang bersilat,"


"Apakah sekarang, kitab itu ada di sini?"


"Sayang sekali, kami tidak membawanya, Ketua. Kitab tersebut berada di markas kami. Jadi kalau ingin membantu, terpaksa Ketua harus pergi ke sana,"


"Apakah markas kalian jauh dari sini?"


"Tidak," pria bertopeng itu menggelengkan kepalanya. "Markas kami terletak di hutan sebelah Timur,"


Zhang Fei tampak berpikir sebentar. Di satu sisi dia merasa sedikit curiga. Namun di sisi lain, dia juga percaya sekaligus merasa penasaran.


Sementara itu, diam-diam keenam pria bertopeng juga memperhatikan Zhang Fei. Bahkan sebagian dari mereka tampak memandanginya sambil menyelidik.


"Bagaiamana, Ketua? Apakah Ketua Fei bersedia untuk pergi ke sana?" tanya pria yang lain.


"Tetapi sebelumnya maaf, Ketua. Untuk sementara waktu, kalau bisa tidak boleh ada orang lain yang mengetahui akan hal ini. Sebab kami tidak ingin ada orang luar yang ikut campur. Kami khawatir nantinya akan terjadi hal-hal buruk,"


Zhang Fei menatap orang itu cukup tajam. Dia merasa ucapan barusan seperti mengandung banyak arti. Bahkan di satu sisi, ia pun menilai bahwa orang itu telah membaca pikirannya.


"Baik. Aku pastikan tidak akan ada orang luar yang tahu," katanya dengan tegas.


"Ah, syukurlah kalau Ketua Fei setuju. Jika demikian, mari kita pergi ke sana sekarang juga,"


"Mari,"


Ketujuh orang itu kemudian bangkit berdiri. Mereka lalu berjalan keluar dari ruangan. Sebelum benar-benar pergi, Zhang Fei sempat izin untuk pergi mengambil kudanya.


Sembari melakukan hal itu, diam-diam dia berbisik ke telinga seorang penjaga kuda. Tidak lupa, Zhang Fei jug memberikan sedikit uang untuknya.

__ADS_1


Penjaga kuda tersebut menganggukkan kepalanya beberapa kali sebagai tanda mengerti. Begitu selesai, dia langsung pergi dari sana.


Begitu pula dengan Zhang Fei. Ia pun segera kembali bergabung bersama Enam Manusia Bertopeng.


"Mari kita berangkat," katanya kepada mereka yang telah menunggu di pinggir jalan.


Keenam orang itu mengangguk. Mereka langsung mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya masing-masing. Sedangkan Zhang Fei segera melarikan kudanya dengan kencang.


Ketujuh orang itu pun akhirnya berangkat menuju ke hutan di sebelah Timur. Memang benar, jarak untuk ke sana tidaklah terlalu jauh.


Sehingga tidak heran kalau dalam waktu singkat saja mereka sudah berhasil tiba di pinggir hutan.


"Apakah markas kalian masih jauh?" tanya Zhang Fei di tengah-tengah perjalanan.


"Tidak, Ketua. Sebentar lagi akan sampai,"


"Oh, baiklah," Zhang Fei langsung menutup mulut. Dia tidak banyak bicara lagi.


Dalam pada itu, ketujuh orang tersebut terus saja melanjutkan perjalanannya. Zhang Fei berada di posisi tengah. Ia dikawal ketat dari depan dan belakang.


"Itu markas kami, Ketua," kata salah satu pria sambil menunjuk ke depan.


Zhang Fei segera memandang ke tempat yang dimaksud. Dan ternyata memang benar, tidak jauh dari posisinya sekarang, ada sebuah bangunan tua yang letaknya di dalam hutan.


Dilihat dari jauh, bangunan tua itu mirip seperti sebuah kuil. Kuil yang sudah lama tidak dipakai.


Beberapa saat berikutnya, pada saat jarak mereka sudah hampir dekat, tiba-tiba kuda yang ditunggangi oleh Zhang Fei meringkik keras. Sesat kemudian kuda itu langsung ambruk ke tanah dan mati seketika.


Bersamaan dengan itu, Zhang Fei juga ikut terjatuh. Walaupun dia sudah berusaha melompat, namun hasilnya tetap nihil. Ia seolah-olah telah kehilangan seluruh tenaganya. Baik itu tenaga luar, maupun tenaga dalam.


Sedangkan Enam Manusia Bertopeng, setelah dirinya terjatuh, mereka juga langsung berhenti dan mengepungnya seketika.


"Ketua Fei, apa yang telah terjadi padamu?" tanyanya dengan khawatir.


Zhang Fei hanya diam saja. Dia tidak menjawab sepatah kata pun. Pada waktu yang bersamaan, ia segera berusaha untuk bangkit berdiri.

__ADS_1


Setelah bersusah payah, akhirnya usaha itu membuahkan hasil. Kini Zhang Fei telah berdiri kembali.


"Apa yang telah kalian lakukan kepadaku?" tanyanya sambil memicingkan mata.


__ADS_2