
Nyo Ceng si Golok Penjagal memperkenalkan dirinya dengan nada mendalam. Wajahnya juga terlihat angkuh. Seolah-olah dia menganggap remeh kepada dua orang bercadar yang berdiri di depannya tersebut.
Si Pedang Kembar Angin Puyuh pun tidak terkecuali. Ketika Nyo Ceng memperkenalkan dirinya, ia tampak tersenyum sinis.
Dua orang tersebut sepertinya memang serasi. Mereka sama-sama angkuh dan selalu memandang rendah setiap musuhnya!
"Oh, kalau begitu selamat bertemu, Tuan Ceng. Aku merasa bangga bisa berhadapan langsung dengan Ketua cabang di kota ini," kata Pengemis Tongkat Sakti sambil membungkukkan badan.
Sebenarnya dia melakukan hal itu karena sengaja ingin melihat bagaimana reaksi calon musuhnya tersebut. Siapa sangka, belum lagi badannya berdiri tegak, tiba-tiba Nyo Ceng sudah mengambil satu tindakan.
Bukannya ia membalas dengan penghormatan, yang ada malah melancarkan pukulan keras ke arah ubun-ubun kepala.
Walaupun sedang berada dalam keadaan membungkuk, tetapi Pengemis Tongkat Sakti sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh orang tersebut.
Maka dari itu, sebelum pukulan lawan mengenai sasaran, ia telah menggeser sedikit kakinya ke samping. Pukulan Nyo Ceng melesat tepat di sisinya.
"Jangan banyak bicara. Serahkan nyawamu sekarang juga!" bentaknya dengan nada dingin.
Berbarengan dengan bentakan tersebut, dia pun sudah menurunkan lagi serangan susulannya.
Kedua tangan yang kekar itu melancarkan pukulan secara beruntun. Angin menderu kencang dan hawa panas langsung datang menggulung ke arah Pengemis Tongkat Sakti.
Kemampuan orang itu rupanya cukup lumayan juga. Kalau diperhatikan lebih lanjut, setidaknya sedikit lagi ia akan mencapai tingkat pendekar pilih tanding.
Sayangnya lawan yang dia hadapi bukan orang sembarang. Pengemis Tongkat Sakti adalah seorang pendekar pilih tanding, dengan kemampuan setinggi itu, bagaimana mungkin dia bisa roboh dengan mudah?
Wutt!!! Wutt!!!
Tubuhnya berkelebat dengan cepat. Pukulan beruntun yang dilancarkan tanpa henti tersebut, satu pun tidak ada yang berhasil mengenai tubuhnya.
"Bagus. Rupanya kemampuanmu tidak rendah. Baiklah, terima jurus ini!" katanya cukup terkejut saat mengetahui lawannya punya kepandaian yang tidak rendah.
Wushh!!!
Ia mulai melancarkan jurus pukulan tangan kosong. Kedua tangan tersebut bagaikan dua ekor ular yang siap mematuk mangsa. Gerakannya cepat dan tepat.
Tapi naasnya semua serangan tersebut berhasil ditangkis oleh Pengemis Tongkat Sakti. Orang tua itu benar-benar tidak memberikan kesempatan bagi lawan untuk membuktikan kehebatan jurus tersebut.
__ADS_1
Ketika pertarungan di antara mereka telah mencapai sepuluh jurus, saat itulah Pengemis Tongkat Sakti mulai memperlihatkan kemampuan aslinya.
Tangan kanannya bergerak cepat memberikan totokan. Dalam beberapa kali gebrakan saja, dua jarinya telah berhasil menotok titik kelemahan di bagian lengan.
Nyo Ceng si Golok Penjagal berseru tertahan. Dia langsung melompat mundur ketika merasakan kedua tangannya mendadak lemas tak bertenaga.
Pengemis Tongkat Sakti tidak mau memberikan ampun. Sebelum kondisinya pulih, ia sudah melompat menerjang ke depan.
Meskipun tangan kirinya memegang tongkat, tapi hanya dengan mengandalkan tangan kanan saja, ternyata ia sudah mampu menekan lawan.
Ketua cabang Partai Iblis Sesat itu merasa kewalahan saat serangan lawan terus menggempurnya tanpa henti. Ketika mendapat kesempatan emas, tiba-tiba dia membentak nyaring.
Golok berukuran besar yang disimpan di pinggangnya langsung dicabut keluar. Belum lagi gemra suaranya lenyap, bacokan golok sudah datang dari sisi sebelah kanan.
Wushh!!!
Serangan tersebut mengincar leher. Pengemis Tongkat Sakti menundukkan kepalanya.
Bukk!!!
Ia mengirimkan sodokan menggunakan tongkat pusaka miliknya. Serangan balasan tersebut dengan telak menghantam perut Nyo Ceng.
Pertarungan di antara mereka semakin seru ketika Nyo Ceng si Golok Penjagal mulai mengeluarkan jurus-jurus goloknya yang ampuh.
Bayangan golok berkelebat memecahkan udara. Bacokan dan tusukan golok datang dari tempat-tempat yang tidak pernah diduga sebelumnya.
Tidak hanya itu saja, bahkan dalam setiap jurus yang dia mainkan, sudah pasti terdapat gerak tipuan yang mampu membingungkan pihak musuh.
Untungnya Pengemis Tongkat Sakti bukan tokoh kelas rendah. Maka dari itu setiap usaha yang dia lakukan selalu menemui kegagalan.
"Tongkat Kemala Memukul Bumi!"
Wushh!!!
Pengemis Tongkat Sakti berteriak kencang. Salah satu jurus tongkat tingkat atasnya segera digelar. Dua buah senjata pusaka mulai sering bertemu dan berbenturan sehingga menimbulkan suara nyaring.
Setiap kali terjadi benturan, Nyo Ceng selalu merasakan tangannya pegal kesemutan. Sadar bahwa ia kalah dalam soal tenaga, pendekar sesat itu mulai mengurangi benturan di antara mereka.
__ADS_1
Namun sayangnya, Pengemis Tongkat Sakti selalu mempunyai cara tersendiri untuk melumpuhkan musuhnya.
Entah dengan gerakan dan jurus apa, namun secara tiba-tiba tongkat pusaka itu telah menghantam batok kepala si Golok Penjagal dengan telak.
Tak ayal lagi, ia langsung berteriak ngeri dan nyawanya melayang pada saat itu juga. Darah segar yang kental segera keluar dari telinga dan mulutnya.
Berselang satu helaan nafas kemudian, tubuhnya langsung ambruk ke lantai.
Sementara itu, bersamaan dengan pertarungan barusan, Dewa Arak Tanpa Bayangan juga sudah memulai aksinya.
Si Pedang Kembar Angin Puyuh terus menggempurnya dengan dua batang pedang pusaka yang selama ini selalu dia andalkan.
Hawa pedang yang mampu merobek kulit mulai keluar dari dua batang senjata tersebut. Tebasan dan tusukan datang secepat angin berhembus.
Pakaian Dewa Arak Tanpa Bayangan berkibar-kibar akibat hembusan angin yang dihasilkan dari setiap gerakannya.
Wakil Ketua itu terus berusaha merobohkan lawannya secepat mungkin. Dia yakin mampu membunuhnya dalam waktu kurang dari dua puluh jurus.
Sayangnya keyakinannya tersebut tiba-tiba lenyap begitu saja setelah menyadari bahwa dia telah salah menilai lawan. Walaupun sudah mengeluarkan jurus pamungkas, tapi ia tetap gagal.
Orang bercadar tersebut masih saja mampu menangkis atau menghindari serangan yang ia berikan. Padahal selama ini, jurus tersebut terkenal dengan kesaktiannya.
Jurus itu tidak pernah gagal! Siapa pun yang sedang bertarung dengannya, kalau jurus itu sudah digelar, maka dalam waktu singkat saja dia pasti akan mampus!
Tapi semua hal itu tidak berlaku untuk saat ini. Orang yang bertarung dengannya benar-benar hebat. Bahkan sesekali ia berani mempermainkan jurus pedang kembar tersebut.
"Apakah hanya sampai di sini saja kemampuan seorang Wakil Ketua?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil tersenyum dingin.
Ketika ucapannya selesai, dengan segera Guci Emas Murni itu dibenturkan dengan pedang kembar milik lawannya.
Trangg!!!
Dentingan yang nyaring terdengar saat itu juga. Dua batang pedang pusaka tersebut terpental ke belakang. Si Pedang Kembar Angin Puyuh terkejut. Sebab dalam suara benturan barusan dia merasa ada sedikit keanehan.
Begitu dilihat, ternyata pedangnya telah gompal sedikit.
'Gila, guci apa yang dia pakai itu?'
__ADS_1
Batinnya langsung bertanya-tanya sambil menatap penuh selidik ke arah guci berwarna kuning emas tersebut.
Ia sungguh heran, sebab selama ini belum pernah ada satu pun pusaka yang mampu menggompalkan pedangnya. Siapa nyana, ternyata malam itu, ia malah mengalami kejadian yang belum pernah dialami sebelumnya.