Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Berpisah


__ADS_3

"Oh, baiklah. Terimakasih," kata Zhang Fei tersenyum lembut.


Pelayan itu mengangguk perlahan. Ia kemudian undur diri untuk segera menyiapkan pesanan.


Sekitar lima belas menit kemudian, menu pesanan Zhang Fei dan Pendekar Pedang Perpisahan sudah tiba di atas meja. Tanpa berlama-lama, keduanya langsung menyantap semua makanan itu dengan lahap.


Sepanjang melaksanakan kegiatan makan, mereka tidak banyak bicara. Barulah begitu selesai, saat segel arak sudah dibuka, kedua orang tersebut mulai berbincang-bincang lagi.


"Ketua Fei, apakah kau akan melanjutkan pengembaraan lagi?" tanya Pendekar Pedang Perpisahan lebih dulu.


"Ya, tentu saja, Tuan Wu. Aku harus pergi ke semua tempat yang sedang membutuhkan bantuan. Lagi pula, aku juga harus mencari keberadaan Nona Mei secepatnya," kata Zhang Fei menjawab jujur.


"Nona Mei? Maksudmu, Yao Mei, anak dari si Cakar Maut Yao Shi?"


"Benar, Tuan Wu. Memang dialah orangnya,"


"Hemm ... mengapa kau mencarinya? Apakah di antara kalian ada masalah?"


Pendekar Pedang Perpisahan bertanya lebih jauh. Dia merasa penasaran dengan hal tersebut.


"Sebenarnya tidak ada masalah apapun, Tuan Wu. Hanya saja


..."


Zhang Fei langsung bercerita panjang lebar. Dia menceritakan semuanya terkait pengembaraan antara dirinya dan Cia Mei beberapa tahun belakangan.


Tidak lupa, Zhang Fei juga menceritakan kejadian saat berada di Gedung Ketua Dunia Persilatan tempo hari.


"Jadi setelah kepergianku, Yao Shi juga datang menemuimu di sana?"


"Benar, Tuan Wu," ucap Zhang Fei membenarkan. "Dan di sana lah dia memerintahkan supaya aku mencari dan harus menemukan kembali Nona Mei. Kalau tidak berhasil menemukan orangnya, minimal aku harus menemukan kabar tentang dirinya,"


Raut wajah Zhang Fei sedikit berubah ketika membicarakan gadis itu. Dia merasa sedih atas nasib yang menimpanya.


Entah kenapa, hatinya seperti ditusuk-tusuk oleh ribuan jarum saat teringat Yao Mei.


"Hahh ..." Pendekar Pedang Perpisahan menghela nafas panjang. "Aku yakin, kau pasti mampu menemukannya. Kalau tetap tidak berhasil, aku berjanji akan membantumu ketika menghadapi setan tua itu,"

__ADS_1


Pendekar Pedang Perpisahan memberikan sedikit semangat kepada Zhang Fei.


Semenjak mereka melakukan perjalanan berdua, tanpa disadari, sosok tokoh sesat itu memang telah mengalami banyak perubahan.


Dia yang tadinya selau tampil dingin dan jarang tersenyum, sekarang telah berubah. Pendekar Pedang Perpisahan kadangkala banyak bicara, tidak jarak juga dia tersenyum atau tertawa.


Walaupun semua hal itu masih terlihat kaku, tetapi Zhang Fei sudah sangat bersyukur.


Itu artinya, apa yang dikatakan olehnya di hari lalu memang sungguh-sungguh.


"Terimakasih, Tuan Wu," tukas Zhang Fei sambil tersenyum kepadanya. "Kau sendiri, ke mana tujuan selanjutnya?"


"Aku juga akan mengembara. Terlebih, aku akan mencari informasi tentang keberadaan dan rencana musuh,"


"Kau harus selalu berhati-hati, Tuan Wu. Aku takut mereka mengetahui dirimu yang sekarang,"


Zhang Fei merasa sedikit khawatir akan datuk sesat itu. Kekhawatirannya bukan omong kosong, dia sedang sungguh-sungguh.


Kalau sampai terjadi hal-hal buruk terhadap Pendekar Pedang Perpisahan, rasanya itu akan sangat disayangkan.


Dalam kondisi seperti sekarang, kehilangan satu sosok sepertinya itu sangat berarti. Apalagi, keberadaan Pendekar Pedang Perpisahan di pihaknya sangat dibutuhkan. Terlebih karena dia selalu mempunyai informasi-informasi penting terkait pihak musuh.


"Baiklah. Aku percaya kepadamu,"


Zhang Fei mempercayai ucapannya. Di dunia ini, manusia mana pula yang tidak akan percaya terhadap orang seperti Pendekar Pedang Perpisahan?


Lagi pula, kalau dia berbicara, itu artinya ia mampu melakukannya.


Kedua tokoh dunia persilatan tersebut berbincang-bincang cukup lama. Mereka baru berhenti setelah arak dalam guci sudah habis tak tersisa.


Tadinya, Zhang Fei berniat untuk memesan arak lagi. Sayangnya Pendekar Pedang Perpisahan melarang dia untuk melakukan hal tersebut.


"Aku harus pergi sekarang karena waktu kita sudah tidak banyak lagi," katanya menjelaskan kenapa dia melarang Zhang Fei memesan arak.


"Hemm ... baiklah. Aku mengerti. Kalau begitu, mari kita keluar,"


Mereka bangkit berdiri. Zhang Fei berjalan ke arah kasir untuk membayar biaya makan.

__ADS_1


Setelah tiba halaman depan, kedua orang tokoh tersebut segera memberikan hormat satu sama lain. Sesaat kemudian mereka langsung berpisah dan melanjutkan perjalanannya masing-masing.


Tadinya, Zhang Fei berniat untuk langsung pergi ke kota yang lebih besar daripada Kota San Dong ini. Hanya saja, dia membatalkan niat tersebut karena hatinya tiba-tiba ingin mengelilingi lebih dulu kota itu.


Terlepas apakah di Kota San Dong ada persoalan atau tidak, Zhang Fei tidak terlalu memikirkannya. Yang penting, hatinya tidak merasa penasaran lagi.


Wushh!!!


Ia langsung melesat menuju ke sebelah timur. Di jalan yang sepi, Zhang Fei tampak menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Namun ketika tiba di jalan ramai, ia segera berjalan seperti orang pada umumnya.


Ketua Dunia Persilatan tersebut terus berkeliling di Kota San Dong selama kurang lebih tujuh hari. Hari pertama sampai ketujuh, semuanya berjalan baik-baik saja.


Tetapi pada saat hari kedelapan, Zhang Fei mendadak menemukan sesuatu yang sedikit mencurigakan.


Pada saat itu hari masih siang. Keadaan di pusat Kota San Dong terlihat ramai seperti biasanya. Zhang Fei sedang berjalan-jalan sambil melihat ke sana kemari.


Tiba-tiba sepasang matanya melihat ada kerumunan beberapa puluhan tombak di depan sana. Karena merasa penasaran, akhirnya ia memutuskan untuk menuju ke sana.


Begitu tiba, Zhang Fei bisa melihat bahwa keramaian itu bertempat di sebuah bangunan megah dengan usia cukup tua. Kalau dilihat lebih teliti, bangunan tersebut rasanya mirip seperti sebuah perguruan.


Orang-orang yang berkerumun itu juga rata-rata mengenakan pakaian yang seragam.


"Tidak salah lagi, ini pasti sebuah perguruan," gumamnya perlahan.


Ia kemudian masuk lewat kerumunan orang tersebut, setelah berusaha beberapa waktu, akhirnya Zhang Fei berhasil juga masuk ke dalam.


Sekarang, dia bisa melihat semuanya lebih jelas lagi.


Di halaman luas tersebut, tampak di sana ada satu sosok pria tua yang mengenakan pakaian merah terang dan sudah terbujur kaku. Usia pria tua itu kira-kira sudah mencapai tujuh atau delapan puluh tahun.


Di sekelilingnya ada sekitar lima puluh pria dengan usia beragam. Mulai dari yang tua, bahkan sampai yang muda. Tidak hanya itu saja, bahkan di beberapa tempat juga masih ada warga-warga sekitar yang menonton.


"Hemm ... pria tua ini sudah tewas. Tapi, mengapa orang-orang ini hanya berdiri menonton saja? Aneh," gumam Zhang Fei belum mengerti tentang peristiwa yang sedang berlangsung tersebut.


Karena ingin mengetahui peristiwa itu lebih lanjut, akhirnya Zhang Fei mencoba berjalan lagi. Dia berhenti setelah berada di sisi pria tua yang usianya tidak jauh berbeda.


"Tuan, maaf, apa yang sebenarnya telah terjadi di tempat ini? Dan mengapa orang tua itu bisa tewas?" tanya Zhang Fei sambil melirik ke arah mayat tadi.

__ADS_1


Orang tua yang ia tanya tidak langsung menjawab. Dia lebih dulu memandang ke arah Zhang Fei dengan tatapan penuh selidik.


__ADS_2