
Seperti biasa aku pulang kerja selalu jalan kaki, padahal aku bisa saja meminta hak ku yang Yuda pinjam, uang-uangku dilaki-laki itu seharusnya bisa aku tagih dan aku gunakan untuk membeli motor bekas lumayan buat berangkat dan pulang kerja, tetapi aku masih terlalu malas untuk berhubungan dengan mantan, karena pasti Mbak Fany mengartikannya beda dia akan cemburu buta dan memutar balikan fakta. Apa kata wanita itu kalau aku minta uang-uangku dibalikan sedangkan denger-denger saja uang dia banyak dihabiskan oleh Yuda, aku jadi bingung sebenarnya Yuda banyak menghabiskan uang-uang segitu banyak untuk apa?
Judi online atau apa? Sebab gosip yang beredar Mbak Fany juga sering marah sama Yuda soal uang-uangnya yang habis tidak tahu ke mana sementara Yuda sendiri tidak pernah memberi nafkah. Mungkin ini musibah untuk Mbak Fany, tetapi ini adalah anugerah untuk aku, karena dengan adanya aku yang di selingkuhi oleh Yuda aku jadi tahu siapa laki-laki itu sesungguhnya.
“Ja-lang...”Aku tiba-tiba dihadang oleh orang yang pastinya sangat aku kenal. Aku pun yang sedang berjalan sembari melamun pun langsung membalikkan badan. Menatap wanita yang sedang berdiri dengan wajah memerah.
“Ngonong sama siapa? Aku?” tanyaku dengan menunjukan jari telunjukku ke depan hidungku, dengan gerakan yang santai, dan cenderung meremehkan.
“Yah, memang ada lagi ja-lang yang lain?” ucap wanita yang sudah merebut kekasihku.
“Nggak salah omong? Yang ja-lang siapa, teriak ke siapa? Maaf Mbak jangan sebar fitnah,” balasku pada Mbak Fany dengan tatapan dingin.
Hari ini pun menjadi hari yang paling apes karena di jam pulang kerja aku harus bertemu dengan Mbak Fany dan kami terlibat cek ceko mulut. Bahkan sampai banyak yang menyaksikan kami adu mulut. Bukan hanya itu, gosip di kantor aja bikin kepalaku berdenyut, ini malah dibikin kesel lagi.
__ADS_1
"Dua hari Yuda nggak pulang dan itu pasti kamu yang buat dia nggak pulang kan?" tuduhnya lagi, seolah aku sudah mgomong berapa kali nggak di dengar banget.
"Ada bukti kalau aku yang buat Yuda nggak pulang?" tanyaku lagi. Entah harus ngomong berapa kali kalau aku dan Yuda nggak ada hubungan lagi.
"Maling mana ada yang mau ngaku!" Terus dan terus aku dipojokan hingga aku merasa pertengkaran kemarin rasanya bukan membuat Mbak Fany jera justru semakin mencari-cari alasan yang nggak masuk akal.
"Lain kali kalau ada masalah dengan suami cari dulu penyebabnya Mbak Fany yang terhormat, jangan langsung nuduh orang lain tanpa sebab, apalagi dengan nuduh aku ja-lang, wanita mana yang mau disakiti untuk kesekian kalinya? Kalau aku sih nggak mau yah, makanya itu aku nggak mau tahu urusan mantan dan keluarganya lagi. Cukup sekali aku di sakit, kalau aku mau balik lagi ke Yuda betapa bodohnya aku, mau jatuh dalam lubang yang sama? Kaya nggak ada cowok lain ajah. Cowok yang nanti pengin jadi pacar aku juga banyak, ngapain mesti balik sama Yuda mana istrinya cemburuan banget, nggak ada masalah apa-apa ngelabrak terus, sampai bosen jelasinnya." Aku menghela nafas panjang.
"Aku tidak memperebutkan Yuda, najis banget aku merebutkan laki-laki yang sudah membuat aku sakit hati."
"Yah mungkin kamu bisa bilang kaya gitu di depan aku tapi di belakang aku kan nggak ada yang tahu," balas Mbak Fany lagi.
"Makanya Mbak jangan mau pacaran sama laki-laki yang sebelumnya punya pacar, jadinya kaya gitukan kalang kabut sendiri. Apalagi kalau cowoknya masih suka sama mantanya, siap-siap aja hati gosong." Aku pun semakin senang membuat Mbak Fany marah, meskipun aku sejujurnya kasihan dengan Mbak Fany, tetapi aku juga kesal karena dia terus-teruskan melibatkan aku dengan masalah-masalahnya.
__ADS_1
"Kalau kamu gak kegatelan, Yuda juga nggak mungkin memikirkan kamu terus," jawabnya lagi. Yah, aku. pun tahu Mbak Fany pandai berbicara sehingga menjadi kepala bagian. Tapi nggak kaya gini juga nuduh orang lain.
"Yakin aku yang kegatelan, bukan karena Mbak yang selalu cemburuan. Laki-laki juga bosan kalau punya pasangan seperti Mbak." Aku pun terus melawan dengan suara yang santai.
"Kamu memang bener-bener cewek nggak bisa dibilangin." Mbak Fany semakin marah.
"Maaf Mbak, aku sibuk gak ada waktu buat ngeladenin urusan nggak penting." Tanpa menunggu jawaban Mbak Fany aku pun langsung kabur. Aku masih punya jiwa kewarasan sedikit, dan juga rasa malu sedikit sehingga aku memilih kabur dari pada jadi tontonan gratis.
Semakin GR (Gede rasa) nanti Yudi dikira aku masih demen dan ngarepin dia. Padahal aku bertengkar dengan Mbak Fany juga terpaksa biar nggak ditindas terus.
Baru juga pikiran seneng karena di traktir gudeg sama calon suami, pulang-pulang bukanya nikmati gudeg malah dapat gedeg sama Mbak Fany.
Aku sih tau Mbak Fany pasti malu dan marah banget karena nggak aku gubris lagi tuduhannya. Biar aja lah, toh dia yang. mulai.
__ADS_1
Bersambung...