
Siang berlalu, dan malam pun menjemput, hari-hari yang aku lalui di rumah ini pun bisa dibilang lancar-lancar saja, tidak ada kendala yang berarti. Tanpa terasa aku menjadi pembantu pun sudah tiga tahun. Tiga tahun kerja hanya di rumah saja, hanya sesekali ke luar membeli sayur, dan pergi ke toko miliki Momy Bela, toko yang menjual aneka makanan hewan, dan juga Momy Bela yang saat masih muda bekerja sebagai dokter hewan juga membuka pengobatan hewan-hewan di toko tempatnya kerja.
Mungkin ini salah satu alasan Momy hingga usia yang tidak lagi muda, masih bersemangat ke toko, itu tidak bukan karena ingin menjaga dan merawat binatang-binatang yang dititipkan atau juga yang harus mendapat perawatan darinya. Aku sangat bersyukur bisa kerja di rumah ini, dan dipertemukan dengan majikan yang sangat baik. Banyak sekali yang aku dapat pelajaran dari Momy Bela yang selalu baik bukan hanya manusia saja. Bintang pun tidak pernah beliau sakit, tanaman dijaga dengan sangat baik. Ini salah satu alasan aku betah sekali kerja di sini. Bahkan rasanya aku pun ingin terus mengabdikan tenagaku untuk bekerja dengan Momy Bela.
Selama aku kerja di sini pun tidak pernah ada saudara, anak, suami yang datang ke rumah ini. Bukan mereka tidak pernah mengunjungin Momy Bela, tetapi mereka biasa langsung ke toko ketika rindu dengan beliau. Bahkan rasa penasaranku pada suami dan anak dari Momy Bela pun tidak juga terjawab, karena mereka hanya datang sesekali dan itu langsung ke toko.
"Tia, Momy nanti akan ke rumah sakit. Tolong kamu masakan sayur sop jahe ayam yang biasa kamu bikin yah," ucap Mamy Bela, di pagi hari, hal yang jarang sekali aku lakukan yaitu masak. Yah, masak di rumah ini hanya sesekali seperti sekarang ini, masak hanya dilakukan kalau ada acara dan juga rindu masakan rumah saja dan Momy sedang tidak ke toko, kalau aku sih hampir tiap hari tetap masak, tapi seringan telor dan masak alakadarnya saja, yang penting tidak kelaparan.
"Ke rumah sakit Mom? Emang siapa yang sakit?" tanyaku tumben-tumbenan ke rumah sakit. Selama aku tinggal di rumah ini majikanku pun sangat jarang sakit itu semua karena beliau memang oarng yang rajin, pagi hari akan bangun untuk merawat taman dan membersihkanya sehingga setiap hari otot gerak, bisa dibilang olahraga ala kadarnya lah, dan itu kunci Momy tetap sehat.
"Barusan dapat kabar kalau anak Momy sakit dan Momy mau jenguk," balas Momy Bela sembari mempersiapkan ayam yang sudah di beli dari sore hari.
"Oh anak yang kemarin nikah itu yah Mom, ngomong-ngomong sakit apa?" tanyaku meskipun aku tidak tahu anaknya yang mana, sebab saat pernikahan anak Momy Bela, aku tidak ikut karena menurut informasi hanya keluarga dekat saja yang diizinkan untuk hadir dan juga menurut Momy Bela, pernikahanya karena bisnis, alias perjodohan untuk menguatkan bisnis keluarga sehingga hanya disaksikan oleh keluarga dekat saja. Entahlah, aku tidak tahu urusan orang kaya seperti apa sangat sulit untuk ditebak, oleh sebab itu aku di sini hanya kerja tanpa pernah mau tahu urusan Momy Bela yang aku tidak akan bisa sampai cara berpikirnya.
"Tadi sih bilang habis menjalani operasi usus buntu, Momy juga belum tahu betul sakit apa, soalnya baru tahu tadi malam, dan baru mau jenguk di pagi hari."
Aku pun tidak banyak tanya lagi langsung menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat sup jahe ayam kampung. Sejak aku kerja di rumah Momy Bela, perubahanku pun semakin banyak terutama dari sigi masak. Kini olahanku jauh lebih bisa diandalkan dari pada dulu. Aku semakin banyak ilmu yang di serap dari Momy Misel. Meskipun kami jarang masak, tetapi kalau Momy ada waktu selalu menghabiskanya di dapur untuk masak, dan aku akan diajarkan resep-resep yang rasanya juara.
__ADS_1
Tiga tahun, aku kerja di sini sudah bisa melupakan semua kenangan buruku selama ini terutama tentang Yuda dan juga Pak Gala. Aku merasa damai tampa adanya percintaan yang membuat pusing. Pikiranku sangat tenang dengan hanya memikirkan kerjaan dan keluarga. Hasil aku bekerja pun sudah banyak membantu perekonomian keluarga. Aku juga bisa membiayai adikku untuk kuliah untuk mewujudkan cita-citanya yang ingin menjadi guru.
Hubungan aku dengan Misi dan Tulip pun masih terjalin dengan baik. Kini baik Tulip maupun Misi mereka sudah menikah, hanya aku yang masih jomblo bahagia.
Yah tidak masalah sih yang penting tetap bahagia. "Menikah itu bonus, saat ini fokus dengan kerja dan cari uang yang banyak biar cepat sukses, meskipun aku sendiri bingung bagaimana caranya meraih sukses.
"Tia, udah selesai?" tanya Momy Bela yang sudah rapi seperti biasa.
"Sudah Mom...." Aku membawa rantang yang berisi sop tidak lupa tentu nasi yang lembek. Eh, malah ini lebih dominan untuk menjadi bubur. Maklum anak Momy Bela masih dalam penyembuhan paska operasi sehingga semua makanan yang lembek-lembek.
"Ok, terima kasih yah. Kalau gitu Momy berangkat dulu. Kamu di rumah jaga diri," ucap Momy Bela, yang nampak buru-buru.
"Tidak usah Tia. Kamu sarapan sendiri saja yah. Momy nanti akan makan bersama dengan anak Momy."
Ok, aku pun tidak banyak berprotes. Mungkin memang ini yang Momy Bela inginkan. Sepeninggalnya majikan aku pergi. Aku pun kembali ke dapur untuk merapihkan bekas-bekas masak yang berantakan.
Pandangan mataku pun tertuju pada ponsel yang berkedip-kedip. "Siapa sih pagi-pagi udah ganggu orang kerja aja," gerundelku. Mengingat ini masih jam tujuh, aku sedang sibuk-sibuknya. Setelah beres-beres dapur aku pun akan mengurus tanaman kesayangan majikan. Kalau tidak di rawat bisa kena marah aku. Apalagi ini adalah tanaman kesayangan semua.
__ADS_1
"Dih ini anak pagi-pagi ngajak gibah," umpatku pada orang yang sedang menunggu panggilan teleponya aku angkat.
[Ini masih pagi Misi, kalau mau ajak gibah siangan dikit kek, gue masih kerja ini,] selorohku begitu sambungan telpon aku angkat.
[Assalamualaikum dulu Bu. Ini ada gosip terbaru, ter-hot dan terpercaya.] balas Misi, yang semakin di larang malah semakin menjadi, bagaimana tidak semua ucapanku yang keluar kalau berhadapan dengan Misi tidak ada gunanya. Yah, dari Misi dan Tulip hubunganku paling dekat saat ini dengan Misi. Bukan berati aku musuhan dengan Tulip, wanita itu saat ini sudah jadi ibu, sehingga waktunya sudah semakin sibuk. Apalagi buat sebar gosip-gosip seperti Misi nggak mungkin ada. Hanya Misi orang yang selalu memberikan info-info ter-up date termasuk hubungan mantan kekasih Yuda dan Bu Fany yang mana mereka menurut Misi sudah cerai. Setelah aku tidak kerja lagi di tempat itu. Tidak lama Yuda terlibat secandal lagi dengan teman satu bagiannya, dan itu memicu pertengkaran untuk rumah tangganya sama seperti nasibku dulu. Bu Fany pun ternyata di selingkuhi lagi oleh Yuda. Jadi aku sih bodo amat hanya kepo-kepo dikit masih ada lah.
Soal Pak Gala, jangan di tanya semenjak dia pulang dari luar kota, laki-laki itu sempat menemui Misi dan Tulip beberapa kali, tetapi karena temanku itu tidak memberikan info apapun mengenai kepergianku, Pak Gala pun tidak bertanya lagi.
[Udah tadi di dalam hati. Buruan mau gosip apa. Gue masih sibuk, nggak punya waktu banyak," balasku tetap dengan nada bicara yang ketus dan jutek.
[Dih nyesel gue telpon lu...] Nut... nut... Misi pun mematikan sambungan teleponya.
Kan sudah aku duga pake banget, anak itu memang cuma jahil. Maklum udah nggak ada teman untuk gila bareng, jadi gangguin orang yang lagi kerja.
[Mulai sekarang aku Blok nomer lu!] Itu pesan yang aku kirimkan pada Misi.
[Sebelum lu blockir gue. Gue lebih dulu block lu.] Itu balasan dari Misi, memang seperti itu dia selalu cari gara-gara. Mungkin nggak seru kalau nggak berantem.
__ADS_1
Bersambung....
...****************...