Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Keras Kepala


__ADS_3

"Pak Gala, kita nggak bisa langsung pulang aja yah, saya baik-baik saja kok." Aku sekali lagi berusaha bernegosiasi dengan Pak Gala, mungkin saja untuk yang kali ini aku bisa membuat Pak Gala yakin kalau aku itu baik-baik saja.


"Tia..." Aku buru-buru memotong ucapan Pak Gala, yang tahu betul kalau Pak Gala akan menasihati aku lagi.


"Ya udah Pak, Tia ikut apa kata Pak Gala," ucapku kali ini benar-benar pasrah aku nggak mau dipecat beneran, aku masih memiliki cita-cita membahagiakan orang tuaku, sehingga harus tetap bekerja.


Tahap demi tahap pun aku lewati hingga dokter mengatakan untuk jalani opname. Aku pun terkejut kenapa harus opname, sedangkan selama ini aku baik-baik saja. Yah, memang bisa dibilang tubuhku lemas, tapi itu karena kurang tidur. Sebenarnya nggak aneh sih memang ketika ke rumah sakit pasti ada saja diagnosa yang seharusnya masih bisa aku sembuhkan dengan aku beristirahat.


"Kenapa harus opname Dok, saya baik-baik saja. Sakit perut yang saya alami hanya sakit perut biasa karena datang bulan, mungkin karena saya stres jadi untuk kali ini memang lebih sakit." Aku pun berusaha negosiasi dengan dokter agar tidak opname. Kalau dengan Pak Gala, aku gagal untuk bernegosiasi, dan dengan dokter aku berharap kalau semuanya bisa diselesaikan dengan penuturan ku. Apalagi Pak Gala nggak ikut masuk ke dalam ruangan pemeriksaan sehingga aku merasa aman.


"Tubuh Anda kurang cairan, bukankah Anda merasakan lemas," ucap wanita yang berpakaian jas putih.


"Iya Dok, tapi itu karena saya hanya kurang tidur setelah tidur dan istirahat cukup saya yakin kalau saya akan sembuh," balasku kali ini sudah dengan suara yang bergetar. Aku yang seumur hidup nggak pernah sakit hingga menjalani opname pun takut kalau ini akan menjadi kebiasaan. Sakit jauh dari orang tua itu sangat menakutkan, horor.


"Kalau gitu gimana kalau diinfus, setelah habis satu botol nanti boleh pulang," ucap dokter lagi berusaha membujuk ku.


Untuk beberapa saat aku diam. "Hanya satu botol kan Dok? Saya nggak mau kalau sampai opname dan bermalam di rumah sakit, nanti yang ada bukanya sembuh malah saya stres lagi," ucapku dengan suara yang setengah putus asa. Berlama-lama di rumah sakit saja rasanya sangat bosan dan tidak ingin lagi datang periksa ke rumah sakit. Tapi apa daya Pak Gala nggak percaya banget kalau aku baik-baik saja.


"Iya hanya infus vitamin, agar kamu semakin segar."

__ADS_1


Setelah negosiasi yang cukup alot, aku pun menyanggupi untuk diinfus vitamin, agar stamina semakin baik dan aku tidak merasakan lemas dan lain sebagainya. Itu yang dokter katakan, sehingga aku setuju. Mungkin memang aku memerlukan ini semua. Benar saja setelah cairan infus mulai masuk ke dalam tubuhku. Aku pun merasakan ngantuk yang sangat berat.


Dan tanpa bisa aku tahan, aku tertidur dengan nyenyak, hingga tanpa terasa sudah empat jam aku tidur.


Mataku terbelalak ketika, aku melihat jam di ponsel sudah menunjukan pukul enam. Aku menatap infus yang sudah habis. Hatiku senang dong karena itu tandanya aku akan pulang. Namun, aku terkejut ketika perawat membawa satu infus lagi dan bahkan mereka berkata  kalau aku mau di pindahkan ke ruang rawat.


"Sus, ini mau apa yah. Bukanya tadi perjanjiannya hanya satu botol, dan sekarang saya juga sudah merasakan baikan." Aku menatap Pak Gala, yang tengah berdiri di belakang dokter, dengan tangan dimasukan ke dalam saku celananya.


"Pak Gala maksudnya ini apa? Pak Gala tidak minta mereka agar benar-benar saya dirawat kan?" Kali ini aku yang merasa dijebak untuk melakukan rawat inap pun tidak bisa menahan kesedihanku. Bahkan ingin rasanya aku menangis di hadapan perawat, dokter, dan juga Pak Gala.


"Tubuh kamu masih lemas Tia, kamu setidaknya dirawat dulu sampai besok pagi," balas Pak Gala dengan suara yang lembut, seolah laki-laki itu tahu kalau aku tidak bisa membantah kalau bos besar sudah berbicara dengan nada yang lembut.


"Tapi Mbak..."


"Saya sudah sehat, saya akan baik-baik saja, dan kuat. Saya lebih tahu dengan kondisi tubuh saya. Dan kalau saya akan sakit ke depannya ini sudah resiko saya." Aku langsung menyela ucapan dokter batinku sangat marah dan kesal bahkan aku sudah memutuskan akan pulang malam ini dan aku bisa naik angkutan umum. Aku tidak suka kalau ada pemaksaan, seperti yang Pak Gala lakukan.


"Lepas saja Sus, dia sudah sembuh kok," ucap Pak Gala yang mungkin marah atau entahlah. Aku pun mengusap sudut mataku yang mana aku merasa kalau akhir-akhir ini aku terlalu cengeng. Bahkan air mata ini susah diajak kerja sama.


Setelah Pak Gala yang ngomong aku pun langsung di lepas jarum di punggung tangan, jujur aku merasa lega dan aku juga merasa kalau tubuhku jauh lebih segar dari sebelumnya. Setelah melewati serangkaian pemeriksaan dan memberitahu obat-obatan yang aku minum kini aku dan Pak Gala pun berjalan bersama-sama, tetapi Pak Gala semakin pendiam, mungkin marah dengan keputusan aku yang pastinya Pak Gala menganggap aku keras kepala, tapi tidak masalah yang penting aku memang sudah merasa baikan.

__ADS_1


"Terima kasi Pak, atas bantuannya. Nanti biaya berobat bisa potong dari uang gaji saya," ucapku ketika kita sudah masuk ke dalam mobil lagi.


"Apa ini alasan kamu tidak mau untuk menjalani rawat inap?" tanya Pak Gala dengan suara dinginnya.


"Bukan sepenuhnya, saya hanya merasa jauh lebih baik, dan ini adalah pengalaman pertama saya berurusan dengan rumah sakit apalagi sampai dirawat. Saya takut, apalagi harus menjalani ini semua seorang diri, jauh dari keluarga. Lebih baik saya di rumah. Lagi pula saya sudah benar-benar sembuh kok," ucapku dengan pandangan aku buang ke luar jendela mobil, dan dari suaraku Pak Gala pasti tahu kalau aku sedang nangis. Yah, aku nangis karena kangen dengan orang tuaku. Ketika saat sakit seperti ini rasanya sangat rindu dengan Emak dan Bapak. Apalagi dulu kalau aku sakit paling sibuk Emak, kompres lah atau urut bahkan kerokan. Sekarang aku harus hadapi seorang diri di rumah sakit bukanya sembuh makin tekanan batin.


"Kan ada aku Tia, aku juga nggak mungkin biarkan kamu di rumah sakit sendirian. Aku itu teman kamu kan, bukanya teman harus saling membantu," ucap Pak Gala, yang seolah membuat aku semakin sadar diri kalau aku dan Pak Gala memang akan selalu jadi TEMAN.


"Iya betul Pak, tapi Tia udah sembuh kok, udah yah jangan bahas ini lagi. Tia udah sembuh dan kita bahas yang lain lagi saja," ucapku ingin mengakhiri obrolan, rasanya kalau di lanjutkan tidak akan ada habisnya. Dan bisa-bisa aku makin sakit.


"Ok, nanti kamu tidur ditemenin Misi atau Tulip saja, jangan tidur sendirian, aku takut nanti malam kalau terjadi sesuatu tidak ada yang bisa bantuin kamu. Kalau ada Misi atau Tulip aku bisa lebih tenang."  Itu adalah pesan yang diucapkan Pak Gala sebelum aku ke luar dari mobilnya, dan aku pun hanya membalas dengan senyuman. Dan tentunya aku tidak lupa mengucapkan terima kasih banyak-banyak sama Pak Gala yang rela temenin aku sampai berjam-jam di rumah sakit.


Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal di dalam mobil bos besar, aku pun benar-benar turun dan mengayunkan kaki dengan pelan.


"Tia..." Langkah kakiku kembali aku hentikan setelah aku mendengar ada yang memanggil namaku lagi.


Bersambung.....


...****************...

__ADS_1


__ADS_2