Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Sensitif Pake Banget


__ADS_3

Hari terus bergulir hingga tidak terasa kini sudah hampir dua bulan aku dan Mas Gala menjalani pernikahan, Misi juga kini sudah kembali bekerja di kantor mas suami menjadi operator untuk pengaduan berbagai komplain dan masukan dari para pengguna jasa perusahaan mas suami, yang tidak puas dengan pelayanan expedisi yang dipimpin oleh suamiku. Aku pun masih sering menemani mas suami kerja. Hanya itu penyemangatku karena bisa bersama dengan mas suami terus. Maklum aku terlalu bucin dengan mas suami, sekalian jagain siapa tau ada karyawan yang keganjenan, meskipun aku tahu kalau mas suami sih tidak akan tergoda.


Namun, lebih baik mencengah dari pada keburu digoda pelakor, soalnya kata orang jadi pelakor itu tidak butuh cantik, modalnya hanya satu 'tidak tahu diri' jadi dari pada keburu bertemu dengan wanita yang tidak tahu diri jadi aku lebih baik waspada, dan menjaga mas suami terus.


Aku tidak akan bisa menilai bahagia yang Tuhan berikan pada ku. Bukan karena materi, bukan semata karena duniawi, tetapi karena aku menemukan teman hidup yang mengertiku dalam segala hal. Tak ternilai bahagia yang aku rasakan, bersama dengan suami yang sangat perduli, bisa menerima segala kondisiku, memberikan warna di setiap hari-hariku, memberikan senyuman yang tidak pernah redup. Aku merasa seperti ratu dalam istana mas suami. Meskipun aku tidak tahu seberapa bahagianya menjadi ratu sesungguhnya.


"Sayang, tumben kamu belum bangun." Mas suami mengusap punggungku yang  putih mulus.


Aku membalikan badan menghadap mas suami, "Tia udah bangun sejak tadi, tapi males banget mau bangun dan pergi mandi." Aku melirik ke jarum jam di dinding, yang menunjukan saat ini sudah pukul lima pagi. Biasanya aku sudah wangi sampo dan sabun, maklum masih penganten baru bawaanya mandi basah terus. Cie ....


"Ya udah sekarang mandi dulu terus sholat, abis itu rebahan lagi. Hari ini mau ikut ke kantor nggak?" Nah kan untung aku punya suami yang super baik.


"Tia, mau istirahat deh, udah satu minggu temanin mas terus, karyawan lain bosan kali lihat Tia yang jagain Mas terus," ucapku sembari beranjak dan duduk dengan tubuh lemas. Tumben banget aku merasakan lemas banget, udah kaya nggak makan satu minggu, padahal akhir-akhir ini aku makan sangat banyak sekali bahkan tengah malam juga sering bikin mie instan untuk ganjal perut, tapi tubuh tetap lemas. Terus larinya ke mana energi dari makanan yang aku konsumsi, aneh memang.

__ADS_1


Mas suami terkekeh mendengar jawabanku. "Kayaknya kamu kalau di kantor bukanya jagain Mas, paling juga ngerumpi dengan Misi, kalau tidak nonton drama korea deh."


Aku pun hanya bisa membalas dengan menyengir kuda, karena apa yang Mas suami katakan memang benar adanya aku itu kerjaanya gangguin Misi kerja, padahal aku tiap hari di marahin oleh bu rt, karena aku yang terus gangguin dia kerja, tapi apa daya aku orangnya usil bin jahil, kalau sekedar ngomel-ngomel biasa sih udah kebal.


"Ya udah kalau gitu nanti Tia nggak ikut ke kantor lagi deh, kalau Mas keberatan," balas ku dengan beranjak segera ke kamar mandi, hari sudah makin siang sedangkan aku belum sholat.


"Bukan keberatan Sayang, Mas mah tetap senang kamu mau ngerumpi dengan semua karyawan juga," pekik Mas suami yang aku tahu pasti bingung karena aku tiba-tiba jutek. Maklum Mas suami paling takut kalau aku ngambek, padahal aku nggak ngambek kok, aku tetap dalam mode santai, hanya sedikit. ketus ajah nada bicaranya.


Jangankan mengeringkan rambut, nyiapkan pakaian mas suami seperti biasa aku pun malas, aku hanya ingin tidur dan tidur.


Mata beratku terpaksa aku buka ketika aku merasa ada sesuatu yang menempel di keningku. "Mas, apaan sih?" protesku ketika tangan Mas suami bolak balik di atas keningku. Udah kaya panggangan sate yah?


"Kamu sakit?" tanya Mas suami, sekali lagi membalikan tangan di keningku.

__ADS_1


"Enggak, Tia hanya ngantuk saja. Mas kan kalau malam nggak pernah kasih Tia tidur nyenyak jadi sekarang ngantuk," jawabku kembali menarik selimut, masih ngantuk nggak mau diganggu apalagi diajak ngomong yang ada nanti nyelantur ke mana-mana.


"Jangan tidur lagi, sarapan dulu," tahan Mas suami.


"Mas, Tia ngantuk pengin tidur. Tia ngantuk bukan lapar." Aku yang merasa tidurku benar-benar terganggu karena ulah mas suami pun mulai kesal. Udah dua kali aku diganggu tidurnya.


"Ya udah, Mas minta maaf. Sekarang kamu tidur dulu yah, tapi nanti kamu jangan lupa sarapan. Sekarang Mas mau berangkat kerja." Aku bisa merasakan kalau bibir mas suami menyentuh keningku, tetapi mata dan bibir ini sulit sekali digerakan. Aku tidak bisa  menahan rasa ngantuk, mataku seperti sudah ada lem-nya, sulit di buka.


Bahkan untuk sekedar mengucapkan iya dan hati-hati aku tidak kuat. Mata sudah sangat berat. Hanya ingin tidur dan tidur. Udah kaya ratu tidur yah ....


Bersambung....


...****************...

__ADS_1


__ADS_2