Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Kabar Gembira


__ADS_3

"Hah? Maksud Momy apa? Apa itu artinya Tia hamil?" tanyaku semakin penasaran bahkan tubuhku rasanya seperti tersengat ribuan volt aliran listrik.


"Momy sih mengiranya seperti itu tetapi ayo kita lihat ke dokter dulu untuk memastikan." Tanganku digenggam dengan kuat oleh Momy Bela. Jujur tubuhku seperti mau pingsan dengan ucapan Momy Bela entahlah bagaimana kalau memang nyatanya aku benar-benar hamil. Senang sudah pasti sampai aku tidak tahu bagaimana cara meluapkan kebahagiaanku nanti. Aneh yah belum juga pasti akan hamil tapi aku sudah sebahagia ini sampai sibuk cara meluapkannya. Yan itu lah Tia, lebih tepatnya aku memang rempong.


"Mom, Tia kok deg-degan banget yah," ucapku ketika kami menunggu antrian. Maklum datangnya serba dadakan.


"Santai saja, kalau hamil itu tandanya anugrah, tapi kalau belum juga tidak boleh patah semangat." Setiap mendengar jawaban dari Momy Bela aku pun terus merasa bahagia karena hanya Momy Bela yang benar-benar mengerti isi hatiku. Bahkan aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku aku kadang masih sering merasakan cemas yang tiba-tiba datang, tetapi berkat Momy Bela lambat laun aku bisa mengontrolnya.


Tidak lama menunggu kami pun dapat giliran masuk. Ruangan perisa serasa sangat dingin, padahal aku tidak akan ditanya dengan soal yang sulit-sulit, tapi tubuh ini sudah gemetar, takut kalau aku tidak bisa menjawab soal yang ditanyakan oleh dokter.


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" sapa dokter cantik di hadapanku, mungkin kalau aku lihat dari wajahnya usianya lebih muda dari ibu mertuaku.


"Ini Dok, saya mau memeriksakan menantu saya. Kalau saya lihat sih seperti sedang hamil." Momy Bela yang mengambil alih pertanyaan dokter padahal aku sedang menyiapkan jawaban, tetapi Momy Bela seolah tahu kalau menantunya sedang sangat deg-degan, sehingga beliau yang ambil alih jawabannya.

__ADS_1


"Ok, namanya siapa? Usianya berapa? Nama suaminya siapa?"Dokter lebih dulu menanyakan nama dan lain sebagaina, untuk mengisi data. Dan lagi-lagi Momy Bela yang menjawab, aku jadi lega karena aku tidak harus cape-cape dan deg-degan takut tidak bisa jawab.


"Datang bulan terakhir kapan Neng Tia?" tanya dokter, yang membuat aku bingung, pasalnya aku lupa mencatat kapan terakhir datang bulan, aku tidak terpikirkan sama sekali bakal secepat ini hamil, karena memang aku tidak merasakan ciri-ciri orang hamil.


"Kapan yah Mom, Tia lupa," jawabku sembari menggaruk-garuk kepala mungkin saja ingatanku muncul. Udah kaya om jin ajah yah.


"Ada satu bulan yang lalu?" tanya dokter memastikan.


"Ya udah kita periksa saja yah. Yuk periksa di situ nanti juga kalau ada dedeknya ketahuan."


Dokter menujuk tempat untuk periksa persis seperti yang suka aku lihat di tipi-tipi. Tanpa menunggu lama aku yang sangat penasaran pun mengikuti dokter Yuli untuk segera tahu ada atau tidaknya di rahimku calon anak dari Mas Gala. Aku sih berharap banget bisa mengasih keturunan untuk mas suami yang sudah sangat ingin menggendong anak. Apalagi Tuan Piter, mungkin dengan aku hamil, aku akan mendapatkan restu dari kakek.


Yang aku rasakan pertama adalah dingin dari gel yang dioleskan di atas perutku. Mata ini rasanya sangat penasaran apakah aku benar hamil atau tidak.

__ADS_1


"Selamat yah, ini calon anak kamu ...." Dokter Yuli menujuk layar yang seperti biji  kacang ijo.


"Alhamdulillah... selamat yah Sayang." Momy Bela langsung mencium pipiku berkali-kali, aku yang awalnya masih bingung pun sangat terharu dengan perlakuan mertuaku, yang terlihat sekali benar-benar tulus sayang pada aku, bahkan Momy Bela sampai terisak menangis bahagia ketika tahu kalau aku hamil.


"Terima kasih Mom, ini hadiah dari Tia untuk Momy," ucapku sangat bahagi karena bisa memberikan kado yang spesial, aku yakin ini bisa mengobati rasa rindu Momy dengan anak-anak. Mungkin dengan hadirnya si kecil Momy akan semakin sering di rumah dan menghabiskan waktu bersama dengan keluarga. Bukan di toko seperti biasanya.


"Kalau gitu yuk ikut saya, biar di kasih resep vitamin, dan obat anti mual, ada mual tidak akhir-akhir ini?" tanya dokter Yuli dengan membantuku turun.


Buru-buru aku menggeleng memberikan jawaban. "Tidak ada mual, biasa saja Dok, tapi bawaanya ngantuk terus," ucapku mungkin Dokter Yuli bisa kasih solusinya.


"Bawaan ibu hamil itu memang beda-beda, kalau tidak mual itu termasuk bagusm dan selama tidurnya di ranjang tidak di tengah jalan berati masih  normal dan tidak berbahaya," kelakar Dokter Yuli yang membuat aku langsung terkekek, bukan aku doang dong yang terkekeh. Momy Bela pun nampak tersenyum terus.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2