Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Sindiran Keras


__ADS_3

"Apa kamu sudah siap Sayang?" tanya Mas Gala ketika baru pulang kerja. Yah, sebelum pulang dari kantor mas suami memang sudah lebih dulu mengabarkan bahwa ia akan pulang dan aku pun bersiap, supaya begitu mas suami sampai rumah kami bisa langsung kembali melanjutkan perjalanan ke rumah sakit.


Aku membalas dengan senyuman, tanpa aku menjawab. Mas suami pun sudah tahu pastinya kalau aku sudah siap untuk melanjutkan perjalanan untuk menjenguk Kakek.


"Kira-kira penampilan Tia gimana?" tanyaku sebelum kami benar-benar kembali melanjutkan perjalanan ke rumah sakit.


Mas Gala, nampak melihat ke arahku dengan sangat teliti, dilihat dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Bagus, cantik, rapi dan sopan." Mas Gala mengacungkan kedua jempolnya sebagai tanda kalau penampilanku sudah sesuai dengan standarnya, tidak bikin malu dan tidak terlihat norak juga pastinya.


"Serius?" Aku memastikan lagi, padahal aku sendiri yang hampir satu jam memilih pakaian terbaik dan make up yang seadanya, tetapi tidak terlihat nora sudah yakin dan percaya bahwa pakaian dan make up yang aku pakai saat ini adalah yang terbaik untuk mengunjungi Kakek.


"Cantik sekali Sayang... kamu itu bagi Mas selalu cantik," ucap Mas suami sekali lagi dengan senyum manis.


"Bukan untuk Mas, tapi untuk Kakek. Kalau kata Mas Gala, sih cantik terus bahkan baru bangun tidur aja dibilang cantik," dengusku yang langsung mengayunkan kaki untuk melangkah lebih dulu dari mas suami. Tawa renyah pun terdengar dari mas suami, tetapi tidak lama menyusulku ke dalam mobil.


Tanpa menunggu waktu lama kami pun langsung melanjutkan perjalanan ke rumah sakit.

__ADS_1


"Mas, nanti mampir toko buah dan toko kue yah," ucapku meskipun baru keluar komplek aku langsung peringatkan mas suami agar jangan lupa mampir untuk membawakan buah tangan untuk Kakek.


Mas suami menatapku. "Untuk apa mampir ke tempat seperti itu?"


"Bawakan buah tangan untuk Kakek, tidak enak masa nengok orang sakit tidak bawa apa-apa," jawabku dengan jujur.


"Hahaha... Sayang, Kakek itu lagi sakit, mana boleh makan cake dan makan buah juga tidak boleh yang berlebih semua makanan dikontrol oleh rumah sakit," jelas mas suami.


"Mas, tolong ini adalah pertama kalinya Tia akan bertemu dengan Kakek, ini bukan masalah diterima, boleh atau tidak makan itu semua. Ini soal adat dan juga cara Tia menghormati dengan yang jauh lebih tua. Masalah nantinya di makan atau justru nantinya akan di buang atau malah diberikan dengan yang lainya, itu tidak masalah yang penting ada buah tangan yang menujukan kalau Tia menghormati pada yang lebih tua," jelasku dengan nada bicara yang pelan agar mas suami tahu apa maksud dari ucapanku.


"Baiklah, nanti Mas akan berhenti ke toko kue dan toko buah kalau melewatinya."


"Mas..." Aku mencengkram kuat tangan mas suami ketika kita akan turun, dan itu tandanya aku harus siap hanya dalam hitungan menit akan bertemu dengan Kakek.


"Kamu tenang saja, Mas tidak akan tinggalkan kamu sendirian," balas Mas suami dengan mengusap punggung tanganku, sederhana memang tetapi cukup membuat aku tenang.


Aku pun kembali bersikap tenang dan berjalan dengan membawa paper bag yang berisi aneka cake dan juga mas suami membawa parsel buah yang cukup besar.

__ADS_1


"Assalamualaikum..." ucapku setelah mas suami mengetuk pintu. Tatapan tidak mengenakan terlihat dariĀ  wanita yang dulu menemani Kakek untuk membuat aku pergi dari sisi Mas Gala, begitupun tatapan dari laki-laki yang sudah tidak muda lagi. Terlihat masih kurang suka padaku. Meskipun tatapanya tidak setajam Tante Mixel tetap Kakek juga seolah masih belum sepenuhnya menerima aku.


"Wa'alaikumsalam. Aduh kok repot-repot Tia, Gala pake segala bawa buah dan kue sih." Seperti biasanya Papi Yusuf adalah orang paling ramah yang selalu membuat suasana kembali hanyat.


"Iya Pih tadi sekalian lewat," balasku sembari bersalaman dengan hangat pada Kakek, Tante Mixel dan juga Papi Yusuf.


"Ngapain repot-repot bawa kaya gituan nantinya juga jadi sampah, nggak ada yang makan," ucap Tante Mixel dengan ketus.


"Tidak apa-apa Tante, di makan juga jatuhnya jadi sampah dan dibuang lagi kan," balasku secara sepontan. Hingga tatapan tajam dan tidak suak ditujukan Tante Mixel padaku. Padahal apa yang aku katakan adalah benar. Namun, wanita itu seperti tidak terima dengan balasan ucapanku itu.


Terus salahku di mana coba? Ah, tante itu memang aneh.


Bersambung....


...****************...


Sembari nunggu kisah kelanjutannya yuk mampir ke novel karya bestie othor dijamin bikin baper..

__ADS_1



__ADS_2