Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Sesempit Inikah Duniaku?


__ADS_3

Aku mengusap peluh yang keluar di dahiku. Sebenarnya pekerjaan membersihkan kamar bukalah pekerjaan yang sangat berat, apalagi kamar ini juga setiap satu minggu sekali juga aku selalu bersihkan meskipun kosong. Hanya cuaca siang ini rasanya sangat panas. Mungkin akan turun hujan sehingga rasanya hari ini panasnya melebihi hari-hari biasanya, kulit rasanya terbakar.


"Tia, nanti sore anak Momy sudah boleh pulang. Nanti kita masak yah. Tidak harus yang ribet, cukup masak yang simpel aja sayur bening, dan ikan goreng aja. Apalagi dia baru pulang dari rumah sakit makanya masih banyak pantrangan." Momy Bela tiba-tiba masuk ke kamar yang sedang aku rapihkan.


"Ok siap Mom." Aku memberikan hormat sebagai tanda kalau aku siap untuk melakukan tugas selanjutnya.


"Sama masak rebusan telur yah Tia, tapi nanti dipilih putih telurnya saja, itu bagus untuk proses pengeringan luka paska operasi," imbuh Momy Bela, dan aku pun langsung menyiapkan apa saja yang di butuhkan untuk masak.


Seperti yang Momy Bela katakan aku pukul tiga sudah siap-siap masak bersama Momy Bela. Pekerjaan yang banyak kalau dikerjakan berdua memang terasa semakin ringan buktinya masakan sudah selesai pukul empat. Hanya butuh waktu satu jam untuk menyimpan keperluan masak dua menu itu. Dan yang wajib adalah nasinya yang sangat lembek. Setelah siap-siap masakan selesai aku pun pamit untuk bersih-bersih pada majikan ku. Apalagi aku habis beres-beres lanjut masak, mungkin bau badanku mengalahkan bau bunga tujuh rupa. Semerbak mewangi. Yah, kami memang baru menyiapkan semua bahan agar nanti kalau mau makan tinggal cempreng sehingga masih hangat.


"Tia, anak Momy sudah dalam perjalanan pulang kamu mandinya cepat yah." Majikan aku teriak-teriak di depan pintu kamarku, dan aku pun yang memang kebetulan sudah selesai mandi langsung bergegas untuk beribadah dan setelah itu akan keluar untuk melanjutkan pekerjaan yang lain.


"Baik Min, sebentar Tia mau ibadah dulu." Meskipun aku tidak mendengar balasan dari Momy Bela, tetapi aku tahu betul kalau majikan aku pasti dengar apa yang aku ucapkan.


Selesai beribadah aku langsung bersiap untuk ke depan. Entah perasaan apa ini, aku merasa sangat tidak tenang. Seolah aku akan belakukan ujian ketika menunggu anak Momy Bela yang sedang perjalanan pulang. Mungkin karena saking penasaranya seperti apa anak majikanku, hingga rasanya jantungku memompa darah lebih cepat.


"Rumah sakitnya jauh Mom?" tanyaku iseng untuk mengurangi kegugupan ini. Di mana saat ini rasanya seperti uji nyali.


"Tidak mungkin hanya butuh lima belas menit lagi," jawab Momy Bela dengan sangat lembut.


"Kalau gitu boleh Tia izin masuk kamar dulu? Tadi habis ibadah belum dibereskan." Aku yang merasa hanya bengong pun lebih baik merapihkan kamarku. Mengingat tidak ada kerjaan lagi yang harus aku kerjakan. Cuci piring dan semua perabotan masak sudah aku lakukan semua.


"Ya udah, nanti kalau anak Momy sudah sampai, kamu akan Momy panggil."

__ADS_1


Aku pun setelah mendengar jawaban dari Momy Bela pun langsung kembali ke kamarku, tetapi bukanya merapihkan perlengkapan sholat justru aku mengambil ponselku. Mengecek pesan ternyata tidak ada pesan masuk baik dari keluargaku maupun dari teman yang super jahil siapa lagi kalau bukan Misi.


[Mis, cara ngilangin gugup gimana yah? Aku sekarang gugup banget kayak mau ketemu calon suami.] Aku pun iseng kirim pesan sama Misi, dan seperti biasanya temanku itu paling gercep untuk membalas pesan. Yah, padahal aku baru kirim pesan satu menit yang lalu, tetapi sudah ada tulisan sedang mengetik. Dia memang teman terbaik, meskipun kadang aku bertanya apa dan Misi akan menjawab apa, tetapi dia adalah teman terbaik sekaligus teman paling bisa menghibur. Buktinya sekarang aku terkekeh ketika membaca balasan dari Misi.


[Minum sianidda!] Jawaban yang sangat singkat, padat tapi menyesatkan.


[Ada yang lebih menyesatkan lagi dari saran yang tadi? Kayaknya racun juga minder lihat lambung gue.]  Aku sih yakin Misi di tempat yang berbeda sedang berusaha naman tawa, pokoknya sama persis sama yang aku lakukan. Misi memang ngeselin karena kalau ngomong banyak benernya.


Kembali aku tersenyum dengan jawaban Misi yang justru mungkin balasnya sambil mabook. [Terjun dari puncak monas.]


Aku kembali bersiap untuk membalas pesan dari Misi, tetapi majikan aku  memanggilku. Sehingga aku mengurungkan niatku untuk membalas pesan sohib laknatku itu.


"Harusnya bersyukur kamu Misi, karena Momy memanggilku sehingga aku mengakhiri perdebatan kita," batinku dengan beranjak ke depan ketika Momy Bela berteriak kalau anaknya sudah datang.


"Macet yah Sayang?" ucap Momy Bela ketika menghampiri anaknya. Aku masih belum begitu tahu seperti apa anak majikan.


"Bukan macet Mom, tapi Mag Sono bawa mobilnya sangat pelan sekali."


Deg!! Jantung ini seolah berhenti berdetak ketika aku mendengar suara yang sepertinya aku kenal. Aku yang dari awal menunduk pun langsung mengangkat wajah ku.


Kali ini seolah jantungku benar-benar berhenti berdetak ketika pandangan aku saling beradu dengan orang yang sangat aku kenal. Untuk seperkian detik aku dan laki-laki yang sangat nampak lemah pun terlibat kontak mata. Tiga tahun aku mencoba untuk melupakan laki-laki yang ada dihadapanku, tetapi setelah aku lupa, justru saat ini kami di pertemukan lagi. Kenapa jalan hidup sedemikian lucu.


"Tia kamu ambil tas yang ada di dalam mobil yah, dan langsung bawa ke kamar depan." Suara Momy Bela langsung menarik aku dari pikiran tidak menentuku. Pantas saja hari ini aku merasa sangat aneh, ternyata aku akan bertemu dengan mantan bosku, dan juga mantan kekasihku. Aku sangat berharap kalau Pak Gala tidak akan membahas hubungan kita di tiga tahun silam. Mungkin kalau terkenal amnesia akan jauh lebih baik lagi.

__ADS_1


"Baik Mom." Gegas aku langsung mengambil tas jinjing yang cukup besar dan berisi pakaian anak Momy Bela yang mana dia adalah mantan kekasihku.


"Mom, pakianya di biarkan di dalam tas saja atau di rapihkan ke lemari?" tanyaku dengan suara lembut, dan sekuat tenaga aku  mencoba bersikap biasa saja, yang seolah tidak kenal dengan Pak Gala.


"Rapihkan saja Tia, biar nggak berantakan," ucap Momy Bela sembari menuntun Pak Gala.


Sedangkan Momy Bela dan anaknya duduk di sofa di ruang keluarga. Aku merapihkan pakaian ke lemari. Meskipun aku menunduk tetapi aku bisa melihat dari ekor mataku Pak Gala terus menatapku dengan tatapan yang bingung. Aku pun dengan sengaja menyusun pakaian dengan sangat pelan, agar tidak segera bertemu dengan Pak Gala, jujur aku belum siap apabila Pak Gala bertanya soal masalah tiga tahun silam.


Tanganku pun terhenti ketika aku harus merapihkan pakaian dalam Pak Gala. Oh ya Tuhan ini ujian apa? Mungkin aku akan biasa saja kalau dia bukan mantanku, rasanya terlalu lancang kalau sampai merapihkan segala pakian dalam milik mantan kekasih. Iyakan kami sudah jadi mantan, meskipun tidak ada kata putus secara langsung, tapi keluarganya sudah mewakilkan kalau aku dan beliau sudah putus.


Setelah semua rapih, aku pun justru tidak langsung keluar aku masih duduk di lantai dengan segala kebingungan, bingung mau ngapain lagi.


"Tia, kalau sudah selesai langsung siapkan makanan yah, anak Momy sudah lapar." Suara Momy Bela lagi-lagi membuatku harus ke luar kamar dan bertemu dengan anaknya. Padahal aku ingin menghilang dari situasi ini. Kenapa aku susah payah ngehindar malah ujungnya ketemu lagi dengan Pak Gala. Oh Tuhan ternyata selama ini aku pun hanya muter-muter di dalam lingkungan yang sama.


"Baik Mom," jawabku dari dalam kamar, gegas aku pun kembali ke luar untuk menyiapkan makanan untuk mereka. Tanpa banyak bertanya aku langsung menghangatkan sop dan menyiapkan nasi untuk mereka.


"Sejak kapan asisten rumah tangga Momy ganti?" tanya Pak Gala pada sang Momy. Yah, aku yang ada di dapur bisa mendengar obrolan mereka.


"Sejak kapannya Momy lupa, tapi sudah lama, mungkin dua atau tiga tahun yang lalu. Bi Isah anaknya sakit jadi harus pulang kampung untuk mengurus anaknya, dan katanya kebetulan ada tetangganya yang baru pulang dari rantau karena habis masa kontraknya, dan kebetulan mau untuk kerja di rumah Momy dan sampai sekarang Tia betah di sini. Dia anak yang baik, rajin, dan Momy serasa punya anak lagi," jawab Momy Bela yang membuat aku semakin tidak bisa mengelak, sekaligus terharu, karena Momy Bela mengagapku anak selama ini.


Aku semakin bingung bagaimana kalau Pak Gala tanya alasan aku tiba-tiba pergi dan menghilang dari Pak Gala. Bagaimana kalau Pak Gala bercerita pada Momy Bela siapa aku sebenarnya?


"Tia ini bau apa ini...?"

__ADS_1


__ADS_2