Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Menunggu Reaksi Mas Suami


__ADS_3

Aku langsung berlari menyambut mas suami pulang kerja. Sudah tidak sabar rasanya untuk memberitahukan kalau usaha kita berdua selama dua bulan ini sudah membuahkan hasil. Ah tentu yang bikin aku tidak sabar lagi adalah bagaimana nanti reaksi Kakek apakah benar kalau aku bis memberikan anak pada Mas Gala, Kakek akan berubah sikapnya, dan akan menerima aku sebagai cucu menantunya?


"Tumben Mas pulangnya telat," ucapku dengan senyuman yang terbaik, aku tetap santai seolah tidak terjadi apa-apa. Aku ingin membuat kejutan jadi berikan wajah yang datar agar Mas suami tidak curiga karena melihat wajahku yang terlalu bahagia.


"Iya tadi mampir ke rumah Kakek."


Aku mengangguk memberikan respon paham biasa sih memang mas suami sering mampir ke rumah Kakeknya ketika pulang kerja, untuk memastikan kalau Kakek sudah benar-benar sembuh.


"Terus Kakek kabarnya gimana sekarang?" tanyaku sembari menyiapak air putih untuk mas suami.


"Yah, sudah semakin tua tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Tapi setidaknya sudah bisa melakukan rawat jalan. Malah Kakek minta Mas untuk tinggal lagi di rumah Kakek."


Sontak saja aku langsung mengalihkan pandangan pada mas suami. Jelas aku merasa keberatan kalau tinggal di rumah Kakek, apalagi satu atau dengan Tante Mizel siapa yang betal, kalau bertemu terus dengan Tante rese itu. Ok lah kalau Kakek aku masih bisa maklum dan terima omongan pedesnya pun, tetapi kalau Tante Mizel kayaknya terlalu menyebalkan kalau harus tinggal satu atap. Belum kondisi aku yang hamil.


Jangan sampai aku benci dengan Tante Mizel dan kata orang jaman dulu kalau benci anaknya mirip lagi. Siapa sih yang mau kalau anaknya mirip dengan tante rempong itu.


"Kamu mau?" tanya balik mas suami, justru mengabaikan pertanyaanku.


Sejenak aku berpikir dengan serius. Bukan untuk menentukan pilihan lebih tepatnya aku sedang cari cara bagaimana caranya agar aku bisa menolak dan tetap memilih tinggal di rumah Momy Bela. Yah jelas aku tetap memilih tinggal di rumah Momy Bela, selain lebih nyaman aku juga lebih dekat dengan beliau, dan tentunya Momy Bela juga selalu sayang pada aku dan selalu menasihatiku layaknya anak sendiri.

__ADS_1


"Kalau Tia bilang tidak mau, apa Mas tetap akan tinggal bareng sama Tia?" tanyaku balik, sama dong tadi aja pertanyaan aku nggak di jawab sama Mas Gala, jadi sekarang aku balik bertanya agar bisa mengetahui apakah Mas Gala akan tetap memilih tinggal dengan aku, andai aku mengatakan tidak mau tinggal dengan Kakek.


"Jelas dong, kamu istri Mas masa ia Mas pilih Kakek. Tapi kalau kamu mau  nanti Mas akan pindah ke rumah Kakek."


Aku langsung menggeleng pelan. "Jujur Tia lebih suka tinggal di rumah Momy Bela, Tia bukan tidak ingin mencoba dekat dengan Kakek, tetapi untuk saat ini Tia rasa di rumah ini adalah temapat yang paling nyaman untuk Tia, bukan hanya tempatnya saja yang membuat Tia betah, tetapi Momy Bela yang baik dan bisa mengertiin Tia juga membuat Tia betah dan memilih tinggal di sini."


"Iya Mas juga kalau boleh jujur lebih betah tinggal di sini, dari pada di rumah sendiri apalagi di rumah Kakek. Terlalu banyak penjilat."


Aku tersenyum mendengar jawaban Mas suami yah, siapa lagi kalau bukan Tante Mizel yang dikatakan sebagai penjilat.


"Kamu udah pulang Gal, tumben pulang agak malam, apa mentang-mentang nggak ada yang ngawasin jadi pulang sengaja di bikin malam biar kelihatan sibuk," ledek Momy Bela sembari duduk di samping Mas Gala.


"Apaan sih Mom, abis dari rumah Kakek jadi pulang agak malam."


"Udah di rumah Kakek."


Aku langsung tidak berselera makan, mendengar jawaban dari mas suami yang mengatakan kalau udah makan di rumah Kakek, padahal aku dan Momy Bela sengaja belum makan karena mau tungguin Mas suami untuk makan malam bersama. Berhubung aku sedang bahagia banget, jadi aku dan Momy Bela memutuskan masak spesial selepas pulang dari dokter. Aku ingin membuat masakan yang enak untuk membuat Mas Gala senang.


"Jadi Mas nggak bisa makan dong, sayang banget padahal Tia udah masak spesial bareng Momy," ucapku dengan wajah yang mendung.

__ADS_1


"Wah kalau gitu Mas berati wajib makan lagi." Mas Gala yang tahu kalau raut wajahku berubah mendung pun mungkin tidak tega sehingga memutuskan mengambil satu buah piring dan ikut makan lagi dengan porsi yang lebih sedikit dari biasanya.


Kali ini aku merasaa sangat tersanjung karena Mas suami tidak ingin aku sedih sehingga ikut makan lagi untuk membuat hatiku bahagia. Tidak apalah makan sedikit juga yang penting mas suami mencicipi masakanku.


"Tia bukanya kamu punya kado untuk suami kamu. Udah kamu kasih?"


Mas Gala langsung mengalihkan pandanganya padaku. "Kado apa?" tanya Mas suami, aku sih tahu betul pasti sangat penasaran.


"Tapi Mas janji yah apapun yang Tia beri harus bahagia." Aku pun tidak ingin langsung memberikan kado yang aku yakin sangat spesial itu. Ya bikin drama-drama dulu biar terkesan tegang dan dramatis.


"Iya Mas janji, jadi nggak sabar kira-kira kadonya apa yah." Mas Gala pun pura-pura menutup matanya agar aku cepat memberikan kado yang Momy Bela maksud.


Aku pun tidak berlama-lama lagi langsung meberikan kotak kado kecil di tangan Mas suami. Benar saja Mas suami langsung terkejut, padahal belum tahu isinya.


"Wah, ini bagus sekali." Mas suami bergaya seperti terharu gitu.


"Belum dibuka Mas, buka dulu baru bilang wow," protesku.


Mas suami dan Momy bela pun terkekeh dengan renyah.

__ADS_1


Bersambung....


...****************...


__ADS_2