
Begitu Pak Gala masuk ke rumah, gegas aku mematikan keran dan mendekati jendela untuk menguping. Obrolan Pak Gala dan Momy Bela yang sudah pasti sangat mengasikkan.
"Mom, emang Momy minta Gala pasang gas?" tanya Pak Gala pada majikan aku, sedangkan aku yang berada di balik jendela dan menguping obrolan ibu dan anak pun terkekeh. Untung pekerjaan aku sudah selesai sehingga aku bisa menguping, dan sedikit terhibur dengan keisengan aku.
Aku pikir Pak Gala tahu kalau aku hanya bohong masalah pasang gas tapi nyatanya paka Gala justru percaya dan langsung bertanya dengan majikan aku. Rasanya perut aku sakit sekali karena tertawa terus dengan kepolosan Pak Gala.
"Gas? Siapa yang minta pasang Gas?" tanya Momy Bela, dari nada bicaranya aku bisa menyimulkan kalau wanita paruh baya itu bingung dengan pertanyaan sang putra.
"Momy, bukanya kata Tia, Momy tadi minta Gala untuk pasang gas?" tanya Pak Gala, aku memang jahil sampai sampai mantan bos dan majikan aku kerjai durhaka sekali wahai diriku sendiri.
"Tia yang bilang? Itu tandanya dia nggak mau kamu godain terus, sejak kapan sih anak Momy jadi ganjen gitu," ucap Momy yang sedang menyiapkan hasil masakan di meja makan.
"Cuma sama Tia saja kok Mom, dengan yang lain mah tidak. Itu tandanya cinta Mom."
Aku justru malah baper setelah menguping dari balik jendela. Tapi rasanya justru semakin penasaran ketika Momy dan Pak Gala berbicara mulai serius.
"Momy tadi sudah mengirim pesan pada papih kamu, katanya nanti siangan akan ke sini untuk membahas kamu dengan Tia. Apa kamu kalau papah kamu setuju sudah setuju untuk menikahi Tia?"
Kembali jantung ini seolah mau loncat ketika Momy Bela bertanya seperti itu kepada Pak Gala, aku sepertinya salah meminta Pak Gala masuk ke dalam rumah.
"Gala dari dulu juga sudah siap kalau soal menikah, apalagi ini ceweknya Gala memang cintai jadi rasanya tidak ada alasan Gala untuk tidak menikahi Tia," jawaban dari Pak Gala semakin membuat aku serasa terbang melayang. Aku langsung bertanya pada diriku sendiri, siapkah kalau memang nanti Pak Gala meminta kalau aku menjadi istrinya. Ah, bukankah aku kemarin sudah siap, lalu kenapa aku sekarang ragu lagi.
"Konsisten Tia, konsisten," batinku pada diriku sendiri.
__ADS_1
"Kalau kamu sudah siap maka Momy tidak ada alasan untuk menahan kamu, karena kamu memang pantas untuk kembali berumah tangga, umur kamu sudah sangat matang semoga saja apabila pernikahan ini terlaksana ini adalah pernikahan terakhir," ucap Momy Bela, aku dari balik jendela masih terus menguping dan hatiku pun semakin terasa tidak menentu.
"Tia adalah wanita yang berhasil mengetuk hati Gala, dan Gala sudah berjanji pada diri sendiri dan almarhum ibu, kalau Gala tidak akan menyakiti hati wanita yang Gala cintai, Gala akan mempertahankanya."
Kembali jawaban Gala meyakinkan aku kalau laki-laki itu memang serius dengan menjalani hubungan dengan ku. Kata orang tau kalau ada laki-laki yang sudah serius ingin membina rumah tangga dengan aku maka aku wajib menerimanya, kata orang jaman dulu kalau menolak nanti jodoh malah akan menjauh lagi.
"Nanti kamu bilang sama papi kamu yah, biar Momy nanti yang akan meyakinkan kakek kamu."
"Tapi apa nanti Kakek tidak marah dengan Momy? Momy tahu kan bagaimana kerasnya Kakek, tidak ada yang bisa meluluhkan hatinya, bahkan Papi yang anaknya saja lebih baik mengalah dari pada berhubungan dengan Kakek."
Setelah mendengar ucapan Pak Gala aku kembali teringat dengan apa yang pernah laki-laki tua itu katakan padaku, mereka mengancam keselamatan orang tuaku dan juga Lili, adikku. Apa nanti kalau aku kembali nekad menerima Pak Gala, dan menikah secara diam-diam aku akan kembali bermasalah dengan laki-laki tua itu, dan kedua orang tuaku serta adikku bagaimana nasibnya?
Aku duduk dan kembali ragu dengan pilihanku lagi, apakah pilihan ini sudah sangat benar? Atau justru nanti aku akan mengorbankan orang tuaku dan juga adikku?
"Assalamualaikum..." Suara laki-laki yang berat dan lembut membuat kau terkejut.
"Gala, dan Bela ada di dalam?" tanyanya lagi, sembari berjalan menghampiri pintu.
"Ada di dalam Tuan." Aku membukakan pintu untuk tamu di pagi hari.
"Kamu Tia bukan?" tanya laki-laki itu lagi di mana aku yang sedang berdiri di samping pintu.
"Benar Tuan. Saya Tia." Aku memperkenalkan diri dan menunduk dengan sopan.
__ADS_1
"Kalau gitu ikut masuk yuk, kita akan membutuhkan suara dari kamu," jawab laki-laki itu berhasil membuat aku kaget.
"Apa mungkin laki-laki ini adalah papi dari Pak Gala, alias suami dari majikan aku," batinku yang justru jadi diam mematung.
"Kita tunggu di dalam yah." Tanpa menunggu jawaban aku, laki-laki paruh baya yang berpenampilan rapih pun langsung meninggalkan aku dengan kebingungan kau. Siap tidak siap aku harus siap untuk menghadapi ini semua. Ku hirup udara dengan dalam dan menghembuskanya perlahan, setelah aku merasa yakin dan siap, perlahan aku pun langsung ikut masuk ke dalam rumah di mana Momy Bela tampak sangat bahagia dengan berkumpulnya keluarga kecilnya. Hal yang baru aku lihat, tidak tahu kalau dibelakangku mereka sering berkumpul seperti ini tetapi untuk dihadapankau ini adalah hal yang baru pertama kali aku lihat.
"Ayo sini Tia, silahkan duduk dan jangan berdiri terus di sana. Ayo Momy kenalkan dengan papihnya Gala atau suami Momy, kamu pasti belum kenal kan?" Suara Momy Bela yang ramah dan lembut membuat aku kembali tersenyum dengan ramah.
Tanpa menunggu lama aku pun langsung menghampiri meja makan. Pantas saja Momy hari ini masak cukup banyak ternyata akan ada tau sepesial.
"Tia ini namanya Yusuf dia adalah suami Momy atau bisa dibilang papi dari Gala. Ayo duduk kita akan sarapan bersama," ucap Momy Bela yang menyambutku dengan ramah.
Aku pun langsung memberikan salam terbaiku pada Tuan Yusuf, "Salam kenal Tuan, saya Tia, asisten rumah tangga di rumah Momy Bela," ucapku dengan ramah.
"Panggil Papi saja jangan Tuan karena kita nanti juga akan jadi keluarga, bukan begitu Gal?" ucap Tuan Yusuf dengan sangat ramah. Tidak heran kalau Pak Gala ramah, karena sang papi dan juga momynya sangat ramah.
Aku hanya membalas dengan senyuman, ada rasa bahagia karena ada orang tua yang mendukungku, aku bahkan tidak merasa sebagai orang asing karena mereka sangat baik.
"Amin Pi, itu juga kalau Tia setuju, tapi kalau tidak setuju tetap Gala paksa," jawab Pak Gala sembari menatapku yang mugkin wajahnya sangat kusam, karena habis bekerja.
"Ya udah kita sarapan dulu aja, setelah itu bisa dibicarakan lagi," ucap Momy Bela menahan obrolan yang serius, dan aku pun langsung mengikuti apa kata Momy Bela duduk yang bersebelahan dengan Momy dan juga dari Pak Gala.
Kami pun sarapan dengan suasana yang hangat, lagi dan lagi aku selalu diperlakukan dengan sangat istimewa. Meskipun aku bukan siapa-siapa di rumah ini, tetapi aku sangat di hargai.
__ADS_1
Bersambung....
...****************...