Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Suami yang Romantis


__ADS_3

"Tara... sarapan sudah siap," ucap Mas suami yang membawa makanan di nampan. Dengan gaya layaknya seorang Chef.


Aku pun kembali terkejut dengan perlakuan mas suami yang sangat romantis.


"Mas, kenapa sampai repot-repot seperti ini. Tia bisa makan dan turun ke bawah sendiri. Tidak usah harus dilayani sampai seperti ini, Tia masih bisa melakukanya sendiri kok," ucapku, tentu aku jadi merasa tidak enak dengan mas suami. Biasanya istri yang melayani suami, tapi ini justru kebalikannya. Mas suami benar-benar melayaniku dengan sangat baik.


"Tidak apa-apa Mas tahu kamu pasti malu karena jalanya masih belum normal."


Deg!


Aku pun terkejut ketika Mas Gala tahu kalau aku memang malu karena cara jalanku yang seperti pinguin.


"Hehe, kok Mas tahu sih, kalau Tia itu malu kalau jalanya seperti pinguin, tapi ngomong-ngomong terima kasih yah Mas, karena sudah melayani Tia dengan sangat baik, padahal seharusnya Tia yang melayani Mas suami," ucapku dengan perasaan bersalah.

__ADS_1


"Setahu Mas, tidak ada batasan mana tugas istri dan mana tugas suami, selagi bisa dikerjakan bersama-sama, maka itu bukan tugas sepenuhnya istri atau suami. Lagian Mas melakukanya juga karena kamu yang lagi kurang sehat. Nah sekarang coba, kamu makan deh, ini enak banget loh." Mas suami mengambil satu piring nasi goreng yang dari harumnya sangat wangi dan membuat aku langsung ingin mencicipinya.


"Wah, ini sih kayaknya enak banget Mas," ucapku dengan antusias, mana ada udang, sosisnya, ini mah sosis mahal, bukan seperti dulu yang aku masakan untuk mas suami sosis kiloan yang beli di pasar, udah gitu hasil malak dari Misi dan Tulip lagi.


Aku justru terkekeh ketika mengingat masa-masa itu meskipun serba hidup pas-pasan dan tidak jarang kekurangan, tapi aku sangat bahagia, karena Tulip dan Misi yang selalu somplak, sampai-sampai kita sering jadi orang gila kalau sedang bertiga. Tapi sekarang sudah sibuk dengan dunianya masing-masing.


"Loh, kenapa kamu malah ketawa?" tanya Mas suami yang mungkin mengira kalau aku kesambet.


"Tidak Mas, Tia hanya ingat saat dulu Tia masakan nasi goreng untuk mas suami, sosis dan telornya malak dari Misi dan Tulip, jadi kangen sama mereka. Hanya mereka yang benar-benar bisa menghibur Tia," ucapku dan memang benar tanpa aku kenal dengan mereka, mungkin aku tidak akan mudah move on dari Yuda. Meskipun kadang ngeselin banget, tapi kalau lagi baik nyalahin siapapun.


"Tidak lah, lagian Tulip dan Misi juga sering melakukan hal yang sama, kalau mereka lagi kere ya minta sama Tia, jadi kita kaya gantian gitu kalau ada yang lagi kismin saling bantu, dan lagi kalau Tia ganti juga mereka pasti bakal bilang 'Apaan sih Tia, kayak sama siapa aja' Jadi ya kita bawa santai aja kunci pertemanan kita itu hanya satu, yaitu ke jujuran. Yang penting jujur, kalau mau ambil barang ya jujur kaya Tia waktu itu ambil ya bilang meskipun bilangnya belakangan, pas udah ketahuan, baru bilang minta."


Mas Gala langsung tertawa renyah ketika mendengar ceritaku.

__ADS_1


"Dasar kamu bandel banget yah," ucapnya dengan mengusap poniku dengan telapak tangan kekarnya dengan lembut.


Aku pun makan bersama dengan Mas Gala pagi ini tentunya disuapi oleh mas suami. Benar kata orang kalau makan disuapi itu enak. Buktinya aku pun makan dengan lahap, satu piring besar habis oleh aku sendiri, ya sesekali mas suami ikut mengunyah kok.


"Mas, berangkat kerja yah. Ingat kamu jangan melakukan pekerjaan apapun, kamu cukup istirahat saja. Nanti Ica akan datang ke kamar ini untuk menemani kamu, agar tidak kesepian, kalau kamu butuh apa-apa minta Ica untuk mencarinya. Dan satu lagi, Mas udah bilang sama Momy kalau kamu untuk beberapa hari akan nginap di sini," pamit Mas suami ketika sudah mau bekerja.


"Siap Mas, kamu semangat yah kerjanya, cari duit yang banyak  biar nanti kita bisa ajak keluarga jalan jalan," balasku sembari setengah berkelakar.


"Loh, kalau mau jalan-jalan nanti kalau Mas libur juga bisa kok, emang kamu mau jalan-jalan ke mana?" tanya Mas suami yang malah menganggap ucapanku serius.


"Mas, ini itu hanya candaan, udah ah. Tia mau bobo lagi," ucapku sembari setengah merajuk. Niatnya hanya bercanda malah dianggap serius. Memang Mas suami sekarang lebih serius tidak seperti dulu yang seru dan sering nyambung bercandaannya. Mungkin karena faktur U (usia) kali jadi sekarang bawaannya yang serius terus.


Bersambung...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2