Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Perhatian Dari Pak Bos


__ADS_3

"Tia ini yang terakhir yah gue gantiin kerjaan lu, gue besok nggak mau lagi ganti kerjaan lu, berasa uji nyali gue kalau kerja di ruangan Pak Gala. Belum  kalau Pak Gala tanya lu, gue bingung jawabnya," protes Misi, ketika aku meminta tukar kerjaan lagi.


"Iya Mis, gue lagi datang bulan, sakit banget perut gue. Mungkin karena akhir-akhir ini gue stres jadi sakit banget. Mana semalam gue kurang tidur kalau harus kerja di lantai atas nggak sanggup, gue janji ini terakhir kalinya," balasku, dan memang yang dikatakan oleh aku pun memang benar adanya. Akibat akhir-akhir ini setres melanda, hari pertama datang bulan perus sakit banget. Padahal hari kemarin kita  sudah janjian kalau hari ini aku kembali kerja di lantai atas, tetapi sepertinya semesta tidak meridhoi sehingga malam tadi aku datang bulan, dan kali ini sakitnya luar biasa.


Detik terus bergulir hingga tanpa terasa jam istirahat pun tiba. Aku yang benar-benar merasakan sakit pun lebih memilih istirahat di pantry dengan tiduran kepala di letakan di atas meja, berbantal tangan yang dilipat.


"Perutnya masih sakit?" tanya Misi, yah meskipun aku tidak melihat siapa yang datang, tetapi dari suaranya aku sangat kenal, kalau yang tanya adalah sohibku.


Aku mengangguk dengan kepala masih di benamkan, di antara lipatan tangan.


"Kalau masih sakit izin pulang saja," balas Misi lagi, tetapi aku abaikan, lagian aku pikir kerja tinggal tiga jam lagi rasanya percuma kalau izin.


"Siapkan barang-barang kamu, aku antar pulang." Kali ini suara yang sangat aku kenal, dan sudah empat hari aku hindari.


Aku pun mengangkat kepalaku dan menatap Misi yang ternyata yang aku lihat justru Pak Gala ada di hadapanku, dan Misi ada di sampingku sedang berdiri.


"Pak Gala ngapain ke sini?" tanyaku kaget dong, bos besar masa ke markas OG dan OB.


"Kata Misi kamu lagi sakit perut, buruan siapin barang-barang kamu. Aku antar pulang," balas Pak Gala, dengan tetap santai. Aku pun langsung menatap Misi dengan tajam, yang aku tahu kalau Misi juga seperti sedang takut kalau aku bakal marah, ya iya lah aku marah. Pasalnya aku sudah bilang pada Misi agar jangan bilang aku sedang sakit. Ini malah bilang alhasil Pak Gala nyamperin aku, makin nggak bisa menghindar dong aku.

__ADS_1


"Oh, tidak usah Pak, ini hanya sakit perut biasa kok, kalau sedang datang bulan hari pertama memang seperti ini, dan itu wajar. Bahkan Misi dan Tulip atau justru yang lain juga merasakan itu semua," balasku yang masih kekeh ingin tetap bekerja.


"Masih mau kerja nggak?" tanya Pak Gala kali ini dengan nada bicara yang terlihat sangat serius.


"Mau Pak," jawabku yang sudah tahu kalau Pak Gala memang tidak suka kalau aku bantah.


"Kalau gitu kemasi barang kamu, aku antar pulang hari ini kamu pulang awal!"


Lagi, aku nggak bisa berkutik lagi, apalagi ketika Tulip dari belakang Pak Gala memberi kode agar aku nurut dengan apa yang Pak Gala katakan. Iya nurut pasalnya kalau aku tidak nurut yang ada Pak Gala uring-uringan, dan bisa saja beneran mecat aku.


Bahkan aku saja kemarin sudah di protes dengan keras sama Misi dan Tulip. Katanya Pak Gala sejak aku minta tukeran tempat kerja, Pak Gala sering marah-marah tanpa sebab. Sehingga yang lain juga berharap agar aku kembali memutuskan kerja di lantai atas, semuanya demi kebaikan bersama yaitu agar suasana hati Pak Gala tidak ancur lagi.


"Bisa nggak kalau bos yang nyuruh itu langsung iya, rasanya kan enak. Jangan kebanyakan bantah." Pak Gala pun meminta agar aku mengikutinya karena mau diantar pulang.


Lagi, aku justru menjadi kurang nyaman dengan perlakuan Pak Gala.


"Pak, nanti antarnya sampai depan kontrakan aja yah. Tia nggak mau ada masalah apa pun," ucapku dengan jujur.


"Emang siapa yang bikin masalah?" tanya Pak Gala ketika kami sudah masuk mobil.

__ADS_1


"Takut aja, kan kita nggak bisa menahan omongan orang, dan caranya agar tidak diomongi ya jaga sikap."


"Apa ini alasan kamu ingin pindah kerja di bagian lain, nggak mau di lantai atas lagi?" Sesuai tebakan aku kalau Pak Gala pasti berpikir ke sana, tanpa Pak Gala tahu kalau aku sedang berusaha mati-matian akar tidak dekat dengan dirinya, tetapi rasanya usahaku akan sia-sia karena pada kenyataanya aku ditarik lagi untuk berdekatan dan saling terhubung lagi dengan Pak Gala.


"Bukan Pak, Tia hanya merasa kalau kerja di atas terlalu capek. Badan Tia akhir-akhir ini sering meriang," balasku, tentu itu adalah alasan saja. Iya jelas kalau aku ingin menghindari Pak Gala, karena aku nggak mau hatiku semakin berharap lebih, dan berujung patah hati.


"Kalau gitu kita pergi ke rumah sakit. Kamu harus periksa." Pak Gala pun melewatkan gang yang seharusnya menuju kontrakan aku. Sontak aku langsung bingung lagi.


"Pak tidak usah, Tia hanya kecapean ko. Kita pulang ke rumah yah. Istirahat juga pasti sembuh," ucapku lagi, kali ini. dengan suara yang memohon.


"Tia... coba untuk saat ini saja, kamu diam, diam. Semua aku lakukan untuk kamu kok." Suara Pak Gala sangat lembut dan terkesan tidak ingin di bantah lagi.


Kalau sudah Pak Gala berkata seperti itu, dan dengan nada yang sangat lembut aku pun tidak bisa protes lagi. Selain nurut, dan berharap nggak ada gosip apa-apa lagi.


Meskipun rasanya mustahil, mungkin dari sekian banyak karyawan, hanya aku yang sakit datang bulan diantar pulang oleh bos besar, mana diantar ke rumah sakit pula.


Ini musibah atau anugrah?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2