Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Situasi Yang Sulit


__ADS_3

Tidak menunggu waktu lama kini kami sudah sampai di sebuah tempat yang cukup nyaman,  pantai yang berada di kota Jakarta menjadi tujuan Pak Gala untuk mengajakku ngobrol. Aku masih mengikuti apa yang Pak Gala rencanakan, kakiku pun melangkah mengikuti ke mana Pak Gala pergi.


"Kamu pesan makanan saja Tia, kita ngobrol sembari minum kopi, kamu udah sarapan belum?" Pak Gala memberikan daftar menu agar aku memesan sesuatu untuk teman ngobrol. Yah, kini kami berada di sebuah restoran yang tempatnya cukup nyaman untuk menikmati pemandangan pantai dan udara pagi yang cukup nyaman untuk menemani minggu yang cerah.


"Sebenarnya Tia sudah makan tadi Pak, tapi kayaknya kalau nggak pesan sayang juga, di traktir kan?" ucapku setengah berkelakar. Entahlah meskipun dalam hatiku selalu mengingatkan supaya aku dan Pak Gala jaga jarak, tetapi sikap alamiah ku selalu saja bercanda dan seperti tidak terjadi apa-apa. Berada di samping Pak Gala itu cukup membuat aku bahagia, sehingga aku lupa kalau aku harus berjaga agar membentengi jarak antara aku dan Pak Gala.


Setelah aku pesanan dimsum dan jus lemon di mana aku lebih memilih makan yang tidak terlalu berat, karena aku memang sudah sarapan dengan nasi goreng. Iya, menu simpel dan selalu jadi andalan adalah nasi goreng dan telor ceplok selain simpel juga aku hemat karena uang gaji sebagian di kirim ke orang tua dan sebagian lagi aku tabung untuk kebutuhan yang mendadak, agar tidak seperti kemarin aku sakit  justru menjadi tidak punya pegangan uang, masih untung punya bos yang baik pake banget sehingga biaya berobat di bayarin, dan tidak ada potongan dari gajih serta libur pun masih di bayar dan di potong dari cuti tahunan. Seumur-umur aku kerja di perusahaan itu baru kali ini aku tau kalau ada cuti tahunan yang bisa diambil kalau ada urusan atau bahkan sakit.


"Pak Gala kira-kira mau ngomong apa, kenapa Tia jadi deg-degan yah," ucapku dengan menyuapkan dimsum yang  ada di hadapanku.


"Apa kamu sudah punya pacar?" tanya Pak Gala dengan tatapan yang terus menatapku.

__ADS_1


Uhukkk... Uhukkk... aku langsung tersedak ketika mendengar pertanyaan Pak Gala. Mana to the point banget, tanpa basa basi langsung bertanya pacar. Yah kalau pertanyaannya seperti itu tentu aku tahu kalau Pak Gala ingin aku jadi pacarnya.


"Kenapa kaget gitu?" tanya Pak Gala lagi, dia tidak tahu mungkin kalau aku itu sedang panas dingin, wajahku pun terasa panas, seolah ada api yang membakar tubuhku.


"Tidak Tia hanya kaget saja kenapa Pak Gala bertanya seperti itu? Maksud Pak Gala ngajak ke sini untuk apa sih? Tia semakin bingung," ucapku dengan  sedikit terbata, sebenarnya aku nggak bodoh-bodoh banget, tetapi rasanya aku kalau terlalu percaya diri takutnya malah apa yang aku pikirkan tidak sesuai dengan apa yang Pak Gala pikirkan, sehingga bertanya dan pura-pura bodoh adalah cara terbaik untuk membuka obrolan yang lebih dalam.


"Aku tahu kamu belum punya pacar, oleh sebab itu aku mau kamu jadi pacar aku!"


"Pacar? Pak Gala jangan bercanda, bukanya Tia sudah bilang berkali-kali kalau perbedaan kita itu bak bumi dan langit, tidak mungkin bisa bersama, jarak perbedaan kita terlalu tinggi," ucapku. Yah, ketika di hadapkan dengan kenyataan kalau aku di tembak justru jawaban ini yang keluar dari bibirku. Bukankah aku seharusnya langsung berkata ia mau jadi pacar Pak Gala, sudah berbulan-bulan aku nunggu momen ini. Namun, nyatanya  berkata iya itu sangat sulit.


"Tia, aku serius ingin kamu menjadi istriku, hanya dengan kamu aku bisa sebahagia ini. Aku tahu kalau diukur dari harta kita memang berbeda, tetapi aku rasa cinta itu bukan soal harta dan perbedaan umur, cinta itu terdiri dari dua manusia yang saling mencoba untuk saling mengerti dan membahagiakan kita, dan aku bahagia bersama dengan kamu," ucap Pak Gala dengan tatapan yang semakin sulit aku artikan.

__ADS_1


"Pak Gala sudah pastika kalau keluarga Pak Gala bisa menerima keputusan Pak Gala? Menjalin kasih, apalagi sampai jenjang pernikahan itu tidak bisa di jalani hanya kita berdua, kita tetap butuh restu dari kedua belah pihak," ucapku lagi, aku hanya ingin memastikan kalau hubungan kita nantinya tidak menjadi penghancur keluarga. Hati  kecilku selalu berkata kalau aku itu memiliki masalah dalam restu dari keluarga Pak Gala.


"Aku akan mengupayakan izin itu, saat ini aku hanya ingin memastikan kalau kamu mau jadi calon istriku, dan setelah ini aku pasti akan meminta restu dari orang tua serta kakek dan nenek aku." Semakin aku mencari alasan untuk membuat Pak Gala tidak memilih aku sebagai pendamping hidupnya justru Pak Gala semakin membuat aku tersudutkan dan sulit untuk menolak.


Aku semakin sulit berada di posisi ini di saat aku ingin menjauh dan hanya fokus dengan pekerjaanku justru Pak Gala datang untuk menyempurnakan agamaku.


#Kira-kira baiknya di tolak atau di terima nih pernyataan cinta dari Pak Galaxi? Komen yah!


Bersambung...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2