Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Dipecat?


__ADS_3

"Tia, lu dipanggil ke ruangan Pak Gala, ada Tuan Piter yang ingin bertemu sama lu," ucap Misi yang tiba-tiba datang menemui aku dengan nafas yang tersengal, karena berjalan setelah berlari.


Tubuhku pun seperti orang yang tersengat aliran listri ribuan volt. Aku merasakan aura-aura yang tidak beres dengan semua ini, pasti ada sesuatu yang ingin Tuan Piter bicarakan dengan aku, mengenai hubungan aku dan cucunya.


Di mana Tuan Piter adalah pemilik perusahaan ini alias beliau adalah kakek dari Pak Gala, hanya saja umurnya yang sudah cukup umur sehingga beliau jarang datang ke kantor, dan semua pekerjaanya di gantikan oleh Pak Gala, cucunya alias kekasihku.


"Mis, lu serius? Tuan Piter ada di kantor ini?" tanyaku cukup kaget, karena baru saja gue membersihkan ruangan Pak Gala, tetapi tidak ada tanda-tanda seseorang ada di ruangan kekasihku itu.


"Serius Tia, barusan saja gue papasan dengan beliau, gue takut Tia kalau beliau  akan membuat lu tidak kerja di sini lagi," ucap Misi dengan wajah merah dan juga seperti orang yang ketakutan, jujur aku juga merasakan hal yang sama, tetapi aku selalu optimis kalau aku pasti bisa melewati ini semua.


"Lu tenang saja Misi, gue yakin ini semua tidak sehoror yang lu bayangin kok," hiburku pada teman satu perjuanganku, meskipun aku sendiri tidak yakin dengan apa yang aku katakan akan baik-baik saja, tetapi apa salahnya aku meyakinkan diri ini kalau semuanya akan aman terkendali.


"Amin, semoga saja Tia, jujur meskipun ini bukan gue yang mengalaminya tetapi gue takut kalau lu akan terkena masalah dengan hubungan lu dan Pak Gala." Misi justru membuat aku semakin tertekan.


"Kalau gitu gue pergi dulu yah Mis, nanti kalau lama-lama kita kena marah lagi." Aku pun tanpa menunggu jawaban dari Misi langsung pergi meninggalkan sahabatku yang masih ketakutan. Meskipun aku sendiri memang tidak bisa memikirkan pikiran yang baik, tetapi aku yakin kalau semua ini akan baik-baik saja.


Tangan ini bergetar hebat ketika baru saja aku mendengar suara 'Masuk" dari dalam sana yang bisa aku artikan kalau Tuan Piter memang sangat tegas. Yah, selama aku kerja di perusahaan ini aku memang tidak begitu tahu dengan kepribadian Tuan Piter aku hanya beberapa kali bertemu dengan beliau.


Tubuhku semakin gemetar tidak menentu setelah aku masuk, dan pandangan mata ini menangkap Tuan Piter yang tengah menatapku dengan tatapan yang tajam, dan satu wanita paruh baya yang cukup menatapku dengan tatapan yang tidak kalah tajam dari Tuan Piter.


"Selamat siang Tuan, saya Tia, barusan menurut teman saya, Anda memanggil saya. Kalau boleh tahu apakah saya membuat kesalahan, sehingga Anda memanggil saya?" tanyaku dengan suara yang lemah lembut dan sopan, meskipun dalam diri ini aku merasakan tubuh yang cukup kurang nyaman, karena deg-degan, tetapi aku berusaha menahan semuanya agar tetap terlihat baik-baik saja.

__ADS_1


Aku merasa seperti sedang dikuliti oleh dua orang yang ada di hadapanku. Yah Tuan Piter dan wanita paruh baya di sampingnya menatapku dengan tatapan yang tidak suka.


"Sejak kapan kamu berpacaran dengan Gala?" Akhirnya setelah aku menunggu sekian lama, Tuan Piter mengeluarkan suara emasnya.


Sesuai yang aku takut, ternyata Aku di panggil hanya untuk membahas ini semua. Aku pun menunduk mencoba menghitung berapa lama aku berpacaran dengan Pak Gala. "Sepertinya jalan dua bulan Tuan," jawabku dengan suara yang masih terdengar dengan sopan.


Brugkkkk.... Satu tumpuk uang di lepar begitu saja oleh wanita paruh baya yang ada di samping Tuan Piter ke meja yang ada di hadapanku. "Tinggalkan anakku dan ambil uang-uang itu, setelah itu kamu pulang kampung, jangan keliaran di sekitar Gala, biarkan dia hidup bahagia tanpa adanya wanita seperti kamu di sampingnya. Gala sebentar lagi akan menikah, jadi jangan jadi wanita pengganggu," ucap wanita cantik yang baru aku ketahui bahwa beliau adalah ibu dari kekasihku.


Kelopak mataku tiba-tiba memanas ketika aku di rendahkan seperti ini. Cukup lama aku tidak menjawab, itu semua karena aku cukup bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Jujur baru Pak Gala yang merasakan hatiku senyaman ini, tetapi apa yang aku khawatirkan terjadi juga. Keluarga besar Pak Gala tidak menyetujui hubungan kami, tidak lain dan tidak bukan sudah pasti masalahnya adalah karena aku yang miskin.


"Mohon maaf Nyonya, kamu pacaran bukan karena uang atau apapun itu, kami saling cinta," jawabku yang langsung memberikan reaksi tidak suka dari Tuan Piter.


"Ambil uang itu dan kamu pulang kampung!" ucap Tuan Piter yang langsung membuatku kembali diam.


Jujur aku kaget dengan apa yang diucapkan Tuan Piter yang mengatakan Pak Gala pernah gagal dalam berumah tanggal yang artinya Pak Gala adalah duda? Tapi kenapa aku tidak tahu, dan Pak Gala pun tidak mengatakan dengan jujur apa status nya.


Aku pun masih bergeming dan juga masih bingung dengan apa yang harus aku lakukan, ini adalah masalah yang sangat berat yang aku hadapi, bahkan aku dipaksa mengambil keputusan yang sangat berat dalam waktu dekat.


"Mutia Arum Wulandari anak pertama dari pasangan Darsono dan Sumarni memiliki adik satu bernama Lili, kamu tentu sayang dengan kedua orang tua kamu dan adik kamu kan? Kalau kamu sayang dan tidak ingin terjadi sesuatu dengan kedua orang tua kamu sebaiknya kamu ambil uang itu segera dan tinggalkan anakku. Karena kalau kamu bersikap sok tidak membutuhkan uang sedangkan kamu bertahan di perusahaan ini setelah dikhianati oleh kekasihmu tentu karena uang, lalu untuk apa setelah kami beri uang yang tidaklah sedikit kamu tetap bersikeras untuk berlaga tidak butuh?" tanya wanita paruh baya yang masih sangat cantik, dengan nada jutek dan setengah mengancam.


"Ayo Tia kamu ambil uang itu kalau keluarga kamu ingin selamat. Dan ingat jangan pernah hadir lagi dalam kehidupan Gala, karena cucuku akan segera menikah," ucap Tuan Piter lagi, dan aku pun semakin bingung.

__ADS_1


"Saya akan pergi dari hidup Pak Gala, tetapi saya tidak akan menerima uang dari Anda Tuan, karena saya ikhlas  mencintai Pak Gala...." ucapanku langsung di potong begitu saja oleh Tuan Piter.


"Jangan sok kaya kamu, ambil uang itu dan pergi dari hadapan kamii dan terutama cucuku!" Tuan Piter semakin murka ketika aku mengatakan tidak akan mengambil uang-uang itu.


"Tia, kamu cantik, tentu tidak budeg. Ambil uang itu dan tinggalkan anakku segera!" Wanita paruh baya itu kembali membuat aku semakin tidak berkutik. Cukup lama aku kembali berpikir hingga kembali Tuan Piter meminta aku membawa uang yang nilainya menurut mereka adalah seratus juta rupiah.


Yah, pada akhirnya aku mengambil uang-uang itu juga. "Kalau begitu saya akan pamit Tuan, Nyonya dan saya akan mengikuti apa yang kalian katakan. Saya akan pulang kampung dan menggunakan uang-uang ini untuk membuka usaha." Itu adalah ucapanku terakhir kali sebelum aku meninggalkan ruangan kekasihku.


"Bagus kamu memang harus nurut, dan ingat jangan ganggu Gala lagi dengan wajahmu yang sok polos itu." Tuan Piter kembali mengingatkan apa yang harus aku lakukan.


Aku pun langsung pamit dan pergi setelah Tuan Piter dan sang anak tidak lagi memberikan wejangan untukku. Aku kembali menyeka air mata perpisahan lagi.


Untuk kedua kalinya hatiku patah. Dengan tubuh yang lemah aku pun langsung kembali ke pantry untuk merapihkan barang-barangku dan aku akan pulang kampung. Yah, aku sudah di pecat dan di berikan pesangon yang cukup banyak dari keluarga Pak Gala.


"Tia, lu kenapa?" tanya Misi yang aku bisa artikan dari suaranya temanku itu sangat cemas dengan keadaan ku. Terlebih ketika aku berjalan loyo dan juga membereskan barang-barangku.


"Tia, jangan bilang lu di pe-cat.... "


Bersambung....


,

__ADS_1


...****************...


__ADS_2