
Aku dan Pak Gala memutuskan untuk duduk di teras rumah dengan mengobrol santai.
"Aku mewakilkan Kakek dan juga Mami, minta maaf atas perbuatan mereka tiga tahun yang lalu. Momy sudah cerita semua dengan apa yang terjadi tiga tahun silam. Jujur aku sangat malu ternyata Kakek dan Mami membuat kamu tidak bisa berkutik, aku sempat menuduh kamu yang tidak-tidak dan aku juga sempat marah dengan kamu yang tiba-tiba pergi dari hidupku, padahal aku sangat nyaman dengan kamu, dan kamu adalah wanita pertama yang membuat aku nyaman dan sangat bahagia apabila berada di dekat kamu, tapi kamu malah memilih pergi meninggalkan aku. Meskipun dalam hatiku aku masih terus tidak percaya kalau kamu sama dengan wanita yang pernah singgah di hatiku."
"Jujur Tia sebenarnya tidak ingin membahas masalah tiga tahun silam, tapi kalau Pak Gala tetap mau minta maaf maka Tia, akan maafkan. Meskipun Tia tahu kalau ini semua bukan kesalahan Pak Gala," ucapku dengan mengembangkan senyum agar Pak Gala tahu kalau aku tidak marah dengan kejadian tiga tahun silam. Hanya sedikit godok aja.
"Alhamdulillah, aku sudah sedikit merasakan tenang kalau kamu sudah memaafkan Kakek, beliau memang seperti itu. Dan korbannya bukan hanya aku dan kamu saja, tetapi Papi dan juga Momy sudah jadi korbannya, entahlah sampai kapan Kakek akan segera sadar dengan apa yang dia lakukan, tapi aku tidak pernah berhenti berdoa agar Kakek segera sadar. Aku sebenarnya ingin bertanya pada kamu dengan masalah yang lebih serius dari ini, tapi apa kamu tidak keberatan?" tanya Pak Gala lagi dengan suara yang sedikit melemah.
"Tanya apa? Kalau Tia bisa jawab, pasti akan Tia jawab, tapi kasih soalnya jangan yang berat-berat yah," balasku sembari berkelakar.
"Tidak ini soal statusku, aku kan sudah duda, dua kali lagi. Kenapa kamu mau menerima aku?" Tatapan Pak Gala langsung serius.
Aku pun menghirup nafas dalam dan menghubungkannya dengan perlahan. "Entahlah, Tia juga sebenarnya bingung kenapa bisa mau dengan Pak Gala, sedangkan Pak Gala sudah menyandang status duda, jarak usia kita juga cukup jauh, belum lagi setelah menikah Tia yakin pasti bakal banyak masalah yang akan terjadi, tapi hati Tia seolah mengatakan kalau Pak Gala itu adalah orang yang baik dan juga pasti tidak akan membuat Tia kecewa dan sedih, bukan begitu Pak Gala?" tanyaku dengan serius.
__ADS_1
"Aku janji kamu adalah wanita yang akan aku buat paling beruntung karena sudah mau menerima Om Duda ini," jawaban Pak Gala berhasil membuat aku tersenyum.
"Ehemz...Gala kamu siap-siap. Bukanya kamu harus kerja?" Papi Yusuf membuat kami kaget dan tentunya kami langsung salah salah tingkah. Yah kami sedang berbicara serius malah Papi Yusuf tiba-tiba datang, mungkin saja obrolan kami terdengar oleh calon papi mertua aku.
"Astaga Papi, anaknya baru pulang dari rumah sakit, habis operasi lagi, dalam surat dokter juga diminta istirahat satu sampai tiga hari, ini baru saja ingin istirahat satu hari sudah diminta kerja. Bukanya Papi bisa menggantikannya," protes Pak Gala dengan suara manjanya. Aku yang mendengar baru tahu kalau mantan bos besar ternyata manja juga, aku pikir hanya tegas, dan juga wajahnya selalu datar jarang senyum tenyata Pak Gala juga manusia normal yang bisa manja juga.
"Momy kamu mau ke toko, lebih baik kamu ikut istirahat di toko, kamu jangan di rumah ini berdua dengan Tia, Papi takut kamu akan khilaf. Kalau Tia, Papi yakin dia bakal bisa tahan kalau kamu Papi tidak yakin." Papi Yusuf mengulang apa yang tadi sempat diucapkan. Yah, aku juga jadi takut kalau Pak Gala akan berbuat nekad apalagi dia sudah pernah melakukan itu mungkin saja akan nekad dan aku tidak kuat iman dan iminnya. Bahaya banget bukan?
"Ya sudah kamu siapkan obat dan kebutuhan kamu. Dan biarkan Tia di rumah untuk istirahat."
Aku sangat terharu dengan perlakuan Papi Yusuf yang bisa menerima aku seperti Momy Bela. Andai saja Tuan Piter dan Mami tiri Pak Gala juga merestui hubungan kami mungkin aku adalah orang yang paling bahagia karena bisa menikah dengan Pak Gala dengan restu yang komplit, dan tentunya aku tidak usah menjalani pernikahan yang sembunyi-sembunyi seperti yang Papi Yusuf katakan, tetapi memang jalan hidup ini sulit di tebak, entah apa salahku hingga aku meraih restu sulit sekali.
Tidak menunggu lama Pak Gala pun kembali masuk ke dalam kamar untuk menyiapkan obat, perlengkapan lainya, dan beliau akan ikut ke toko bersama Momy Bela. Suasana pun kembali dingin ketika aku ditinggal hanya berdua dengan Papi Yusuf, yang mana aku belum begitu kenal dengan calon papi mertuaku, apakah beliau benar-benar baik atau justru laki-laki yang saat ini duduk d sampingku juga memiliki dua kepribadian yang mungkin saja baik hanya di hadapanku, apabila tidak ada siapa pun akan berkata menyakitkan seperti Tuan Piter.
__ADS_1
"Kamu jangan takut, Gala itu sebenarnya orang yang baik, dia menyandang status duda juga bukan sepenuhnya kesalahan dia, siapa pun laki-laki itu kalau berada di posisi anak Papi pasti akan memilih untuk menjadi duda, menikah karena perjodohan itu berat. Selain mereka tidak saling cinta mereka juga tertekan, tidak jarang Gala dan mantan istrinya terlibat pertengkaran hebat. Bahkan istri yang kedua justru selingkuh, dan entah berapa kali meminta pisah dengan anak Papi, tapi Gala masih mencoba menutupi semua keburukan istrinya dimata keluarga kita, sampai akhirnya semuanya terungkap dan wanita itu mengajukan cerai, bahkan sampai Gala sakit tidak pernah datang atau menanyakan kabar. Menikah dengan wanita itu cukup membuat Gala tertekan, jadi Papi sangat berharap ini adalah pernikahan terakhir untuk Gala dan juga, dengan kamu Gala bisa bahagia dan juga bisa saling melengkapi satu sama lain." Papi Yusuf melanjutkan pembatasan aku dan Pak Gala tentang statusnya.
Bisa aku artikan kalau Papi Yusuf memang memiliki hati yang baik sama seperti Momy Bela, bukan orang yang memiliki dua kepribadian, seperti Tuan Piter.
"Tia akan berusaha menjadi istri yang baik untuk putra Papi, Tia juga tidak ingin menjadi janda, jadi Tia akan berusaha dengan sebisa mungkin untuk mengabdikan hidup Tia untuk menjadi istri yang baik untuk Pak Gala," ucapku dengan yakin dan hati lega, karena setidaknya aku memiliki restu yang lengkap dari calon suamiku.
"Papi senang dengar jawaban kamu, dan Papi juga bicara dengan orang tua kamu, agar nanti apabila Papi telpon tidak kaget kedua orang tua kamu."
Aku langsung mengangguk dan bersemangat. Yah tentu aku bersemangat karena akhirnya yang Ibu dan Bapak inginkan akan segera terkabul. Harapan kedua orang tua agar anak gadisnya segera menikah. Namun, sepertinya aku akan mengecewakan Ibu dan Bapak dengan pernikahan yang sederhana, bukan pernikahan seperti anak-anak tetangga kami.
Bersambung....
...****************...
__ADS_1