Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Lamaran?


__ADS_3

"Tia, duduklah! Masalah kerjaan bisa dikerjakan nanti lagi. Kamu duduklah, ada yang ingin kami bicarakan," ucap Momy Bela sembari menepuk-nepuk kursi di sampingku, yang membuat aku semakin gugup.


Bahkan rasanya ini jauh lebih gugup dari kejadian tiga tahun silam di mana aku diminta menghadap Tuan Piter. Namun, aku pun tetap mengikuti apa yang jadi keinginan majikanku. Aku duduk di samping Momy Bela, sedangkan Pak Gala dan Papi Yusuf memilih duduk untuk berdampingan yang berada di hadapan aku dan Momy Bela.


"Jadi begini Tia, maksud kedatangan saya ke sini karena ada maksud tertentu. Saya sudah dengar cerita kamu dan anak saya dari Bela, dan juga Gala. Sebagai orang tua aku tetap setuju apabila Gala dan kamu menjalin hubungan. Bagi saya yang penting anak saya bahagia itu sudah lebih dari cukup. Tapi kamu juga harusnya tahu kalau kakeknya Gala itu jauh lebih berkuasa dengan semua urusan anak dan cucunya. Jadi saya harus memastikan kembali kalau kalian memang serius mau menjalin hubungan dengan Gala ke jenjang yang lebih serius?" tanya Papi Yusuf dengan suara yang lembut.


Aku masih diam memikirkan jawabanya, aku tahu kalau Papi Yusuf bermaksud agar aku dan Pak Gala memang serius maka harus siap juga untuk menghadapi semua yang terjadi. Terutama masalah yang mungkin saja terjadi dari Tuan Piter.


"Kalau Gala, dari awal sudah serius dengan Tia, bahkan Gala juga sudah berencana untuk meminta izin pada Kakek dan juga Mami, tapi ternyata Kakek sudah bergerak lebih cepat dan Gala pun kehilangan jejak Tia dan sekarang saat semua kembali lagi Gala tidak akan melepaskanya," jawaban dari Pak Gala dengan sangat yakin, membuat aku juga seharusnya memiliki keyakinan yang sama. dengan Pak Gala. Bukan sebentar yakin, lalu sebentar lagi aku galau. Seolah aku adalah orang yang tidak mempunyai pendirian yang tetap.


"Kalau Tia bagaimana?" tanya Momy Bela, membuat aku yang sedang memikirkan jawaban langsung terkejut dan juga langsung mengangkat wajahku, dan menatap Momy Bela dan juga dia laki-laki di hadapanku.


"Tia juga kali ini akan berusaha konsisten dengan jawaban Tia, seperti yang semalam sudah Tia katakan pada Momy," jawabku setengah terbata.


"Alhamdulillah..." ucapan hamdalah langsung terucap dari bibir semua yang hadir di rumah ini, seolah aku memberikan jawaban yang sangat diharapkan oleh mereka.


"Jujur yah Tia, sebenarnya Papi sangat senang dengar jawaban kamu atas hubungan dengan Gala, jawaban kamu adalah yang kami inginkan dan juga kami sangat berharap kalau yang kamu ucapkan adalah jawaban yang memang serius, sehingga apabila ada hal yang menghadang di antara kalian bisa mengatasinya, terutama kamu yang mungkin belum tahu bahagimana watak keluarga kami takutnya nanti kejadian tiga tahun silam terulang kembali," ucap Papi Yusuf yang pasti beliau ingin yang terbaik untuk anaknya.

__ADS_1


"Benar Tia, kami ingin yang terbaik untuk Gala, di mana saat ini usia anak kami sudah tiga puluh sembilan tahu, dan kamu juga pastinya tahu bahwa Gala sudah pernah menjalani pernikahan yang gagal dua kali, dan Momy tidak ingin setatus Gala nanti malam membuat kamu berpikir ulang, dan membuat penghalang di rumah tangga kalian nantinya. Masalah kakek Gala yang tidak merestui kami yakin suatu saat pasti akan luluh kalau kalian menunjukan kekompakan sehingga yang jadi masalah adalah kekompakan kalian. Momy ingin kalian kompak selalu apa kalian sudah berpikir sampai sejauh itu?" tanya Momy Bela pada aku dan Pak Gala.


Yah, aku tahu sebagai orang tua pasti sedih ketika anaknya gagal membina rumah tangga hingga kedua kalinya, apalagi yang aku tahu pernikahan Pak Gala dengan dua istrinya terjadi bukan karena saling cinta, tetapi karena perjodohan bisnis sehingga aku yakin kalau Pak Gala pasti juga tidak ingin menjadi duda apalagi sampai dua kali. Di mana bisa saja citra dia buruk di mata calon istri baru dan mungkin orang lain karena dianggap tidak bisa membina rumah tangga, tetapi aku yakin kalau Pak Gala pasti juga tidak ingin  gagal dalam rumah tangga, apalagi sampai dua kali.


Aku tidak ingin menghakimi ketika Pak Gala tidak bisa memperjuangkan rumah tangganya yang dulu, pasti ada kesepakatan antara dua belah pihak, mungkin Pak Gala sudah berusaha untuk mempertahankannya dan juga pada akhirnya tidak bisa bertahan, karena ada masalah yang tidak bisa diselesaikan bersama.


"InsyaAllah Tia sudah mempertimbangkanya dengan matang Mom, Tia sudah yakin kalau Tia akan berjuang bersama, hingga semua restu bisa kita dapatkan," jawabku dengan yakin.


Aku bisa melihat wajah Pak Gala yang sangat ceria, ketika mendengar jawaban aku barusan.


"Papi senang dengar jawaban kalian. Jadi rencana kami kalian menikah saja dulu, yang penting sah di mata hukum dan agama, tidak ada resepsi dan segala macam dulu, serta pernikahan kalian untuk sementara waktu dirahasiakan, hingga semuanya nanti akan kami jelaskan setelah semua situasinya mendukung. Itu rencana Papi dan juga Bela, tapi semuanya kembali pada kalian baiknya bagaimana. Kalau rencana kami yang penting sah dan halal dulu takutnya kalau tidak seperti itu akan membuat dosa, apalagi Gala memilih tinggal di rumah Bela, dan di rumah ini juga ada Tia, takutnya nanti tibul dosa, kalau sudah sah dan halal kan kami juga bisa tenang." Papih Yusuf menjelaskan lagi dengan menatap putranya.


"Tia terserah Pak Gala dan juga Momy sama Papi, karena pasti kalian ingin yang terbaik untuk Tia dan juga Pak Gala, tapi kalau memang menikah Tia ingin disaksikan oleh Bapak dan juga Ibu," ucapku dengan yakin, aku adalah anak pertama dan belum pernah menikah.


Masa anak pertama akan melangsungkan pernikahan malah kedua orang tuanya tidak hadir, kasihan kalau Bapak dan Ibu tidak meyaksikan pernikahan kami, apalagi Lili meskipun kami berantem terus tapi aku juga ingin berbagi kebahagiaan dengan adikku itu.


"Kalau itu kamu bisa bicarakan dengan Gala, mau diadakan nikahan di Jakarta dan orang tua kamu yang datang ke sini, atau di kampung dan kalian yang akan pulang kampung. Kami sebagai orang tua akan mendung," balas Papi Yusuf sembari menatap putranya.

__ADS_1


Pak Gala langsung menatapku. " Kamu mau di mana? Aku akan ngikutin apa mau kamu," tanya Pak Gala dengan menatap ke arahku dengan penuh arti.


"Tia pengennya di kampung saja. Kasihan kalau Ibu dan Bapak ke sini takut mabok." lagian rasanya kurang sopan kita yang akan nikah malah orang tua kita yang menghampiri kita. Seharusnya kita yang datang untuk meminta restu bukan?


"Baiklah biarkan Papi yang bicara dengan kedua orang tua kamu. Berikan nomor kamu pada Papi dan nanti Papi yang urus semuanya, dan kamu dan Gala tinggal Terima beres."


Papi Yusuf memang yang terbaik.. Andai saja pemikiran Tuan Piter seperti Papi Yusuf mungkin aku akan menjadi wanita paling beruntung, karena mendapatkan jodoh yang kaya raya, di mana banyak yang menginginkan mendapatkan jodoh yang seperti Pak Gala.


Namun, inilah hidup rasanya akan sangat mustahil apabila lancar-lancar saja.


Aku menatap Pak Gala yang ternyata tengah menatapku ada perasaan malu, kemarin aku menolak untuk mengakui kalau aku masuk suka dengan beliau, tapi kali ini justru aku sudah siap menikah dengan beliau. Ah aku pun bingung dengan perasaanku yang kadang tidak menentu. Sebentar bicara A dan sebentar lagi B. Tia kamu itu plin-plan sekali.


Tidak masalah lah yang penting menuju halal.


Bersambung....


...****************...

__ADS_1


#Mohon maaf untuk beberapa hari up satu episode dulu yah, othor sedang mudik... 🙏🏻


__ADS_2