Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Nasi Goreng Ala Miss Tia


__ADS_3

"Tia lu dicariin Pak Gala," ucap Misi dengan menoel punggungku yang sedang mengepel lantai.


"Hah, sepagi ini?" Aku melihat jam di pergelangan tanganku yang menunjukan pukul tujuh pagi, biasanya bos besar kami datang paling rajin juga jam delapan. Ini jam tujuh pagi sudah datang ke kantor. Apa aku nggak salah dengar, bukan juga jam ku yang rusak kan. Ya meskipun harga jam ku hanya lima puluh rebu dan beli di toko oren tapi sudah teruji keawetanya dan keakuratan waktunya, pokoknya kalau rusak kayaknya belum deh.


"Tau tuh, gue juga heran tumben-tumbenan rajin banget. Apa ada maunya," balas Misi dengan setengah berbisik ke padaku, aku pun langsung teringat nasi goreng, sogokan untuk Pak Gala.


"Oh ya Tuhan apa jangan-jangan gara-gara nasi goreng," pekikku yang langsung memberikan pelan pada Misi dan aku langsung ke pantry untuk mengambil nasi goreng spesial yang sengaja aku bikin tadi pagi, tanpa aku ketahui Misi juga mengikuti aku.


"Ada apa sih Tia," ucap Misi, yang berhasil mengagetkan aku.


"Itu apa?" tanya Misi dan Tulip sembari mengambil kotak bekal yang isinya nasi goreng ala Mutia.


"Astaga Tia, jadi lu tadi pagi gedor-gedor gue dan nyolong telor di kulkas gue buat bikinin nasi goreng buat Pak Gala," pekik Misi dengan ke dua matanya hampir loncat.


Aku mengambil kotak bekal spesialku. "Enak ajah nyolong, gue minta, lagian gue belum gajihan Misi, lu kan tahu tabungan gue udah habis buat beli baju, sendal, tas, minyak, wangi dan bayar salon, semua untuk ke acara pernikahan Yuda. Jadi sekarang gue kismin banget," balasku dengan suara dikecilkan dan juga menujukan muka memelas.


"Lah, lu juga ambil sosis dari kulkas gue kan?" Kali ini Tulip ikut-ikutan.


"Ambil-ambil, gue minta kali Lip. Kalau kalian nggak ridho anggap ajah gue hutang, nanti kalau gue gajihan gue ganti semuanya. Lagian gue buatkan nasi goreng ini juga bukan sia-sia. Ini ucapan terima kasih gue sama Pak Gala, karena berkat bantuan Pak Gala gue nggak jadi di pecat. Lu tau kan kejadian kemarin gue gelut sama Bu Fany kalau nggak ada Pak Gala ya gue pasti udah dipecat. Bu Fany ajah di pindahin ke Gudang pusat, lagian lu pada bayangin deh kalau gue di pecat, past nasib gue bakal lebih buruk dari pada minta telur dan sosis kalian," balasku lagi dan yah memang yang aku katakan benar. Kalau dipecat jangankan untuk makan untuk pulang kampung pun aku udah nggak punya tabungan lagi. Yang ada merepotkan Misi dan Tulip.


"Ya udah, iya-iya gue ikhlas telur dan juga sosis lu ambil, yang penting lu jangan di pecat. Kalau lu di pecat gue juga sedih, nggak ada yang ngegangguin gue dan Misi," balas Tulip yang langsung membuat aku tersenyum bangga. Memang dua sohib aku paling baek dah.


"Kalau gitu pinjemin duit ya, nanti gajihan gue ganti dah," rayuku lagi dengan menaik turunkan alis. Ini adalah jurus paling mujarab mengingat Pak Gala saja kalau aku sudah menaik turunkan alis dan tersenyum manis langsung luluh.

__ADS_1


"Yeh itu mah mau loe. Udah ayok Misi kita tugas lagi jangan dekat-dekat Tia dia udah kere, nanti kita deketin dia kalau sudah kaya." Tulip pun menarik Misi untuk pergi, dan dua sohib aku pun tertawa puas melihat wajah aku cemberut dan bibir di angkat sebelah.


"Dasar punya sohib, deket kalau gue kaya doang, liat ajah kalau gue kaya beneran, gue ajak lu makan enak," pekik aku dan setelah itu, aku pun langsung mengayunkan kaki setengah tergesa ke ruangan bos besar.


Aku masuk ke dalam ruangan yang sebelumnya sudah aku bersihkan. Jujur perasaanku bergemuruh tidak menentu takut kalau rasa masakanku tidak sesuai dengan lidah Pak Gala.


"Pak Gala tumben datang pagi banget," ucapku begitu masuk ke dalam ruangan bos besar, yang mana penampilan Pak Gala membuat jantung ini bergeser.


"Aku bahkan sengala datang lebih awal, karena nggak sabar ingin sarapan dengan nasi goreng sepesial dari kamu. Mana, aku sudah lapar banget," balas Pak Gala dengan mengulurkan tangan untuk mengambil bekal kotak makan yang aku bawa.


"Tapi kalau nanti rasanya nggak enak jangan di cela yah, Pokoknya kalau nggak enak Pak Gala pura-pura aja enak, biar hati Tia bahagia. Kan kasihan udah bangun dari jam empat harus gedor Misi dan Tulip malah dibilang nggak enak, ya minimal bikin hati Tia bahagia gitu," ucapku sebelum memberikan kotak bekel yang aku bawa.


Kembali Pak Gala tertawa dengan renyah. "Iya-iya, tapi minimal kasih dulu gitu, biar dicicipin. Kalau belum di cicipin masa udah bilang enak saja."


Ok kali ini aku pun memberikan kotak bekel yang berisi nasi goreng sepesial buatan Miss Mutia, yang dijamin enak banget, kata yang masak.


"Ok, kalau dari penampilanya lumayan, dan dari warnanya juga sudah cantik, dan sekarang tinggal cicipi apakah rasanya enak atau justru habis ini aku bakal sakit perut," ucap Pak Gala yang langsung membuat aku melebarkan kedua bola mataku.


"Masa sakit perut Pak, ini Tia bikin dengan bumbu terbaik dan bahan-bahan juga terbaik meskipun harus minta sumbangan dari Misi dan Tulip," balasku dengan Jujur.


"Kok sumbanga sih, emang kenapa?" tanya Pak Gala sembari menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya dengan sesekali mengangguk angguk kan kepalanya, yah kalau dari reaaksinya sih aku boleh berbangga diri karena menandakan nasi goreng buatan Tia tidak buruk-buruk amat. Eh, tapi seperti orang kebanyakan Pak Gala juga sebelum makan mengabadikan nasi goreng buatanku.


Nih nasi goreng ala miss Tia

__ADS_1



"Iya ini telur dari Misi, dan sosos dari Tulip, abis stok di kulkas Tia habis, maklum akhir bulan," jawabku sembari tertawa bangga. Yah kismin pun masih bangga, sebab aku masih punya sohib yang bisa dipalakin kalau lagi kangker (Kantong kering) gini.


Kembali Pak Gala tertawa renyah dengan jawabanku.


"Kalau gitu nanti aku bayar deh, buat nasi gorengnya, biar bisa buat beli telor dan sosis," balas Pak Gala dengan terus menyuapkan nasi goreng ke mulut yang artinya rasanya enak dong.


Aku langsung menggerakkan kedua tanganku sebagai tanda tidak usah. "Enggak usah Pak, Tia ikhlas pake banget kok. Lagian Tia, Misi dan Tulip sudah biasa kok. Tulip juga sering melakukan hal yang sama, begitupun Misi sering juga ngambil makanan Tia, ya untungnya punya teman di kontrakan gitu kalau lagi boke mereka bisa dimintain tolong, bahkan buat kasbon juga sering kok, dan itu udah biasa. Jadi nasi goreng itu gratis untuk Pak Gala, yakin deh Tia ikhlas banget kok." Aku malah jadi nggak enak kalau di bayar oleh Pak Gala.


"Ok kalau gitu besok bikinkan menu sarapan lagi yah, aku ingin makan masakan kamu, yang enak, jadi udah lulus lah kalau buat di jadikan calon istri," jawab Pak Gala yang membuat aku gede rasa.


"Aduh Pak Gala ini kalau muji nggak main-main, masa lulus jadi calon istri nanti kalau kejadian serius Tia bisa pingsan loh. Tapi kalau untuk masak jangan sekarang yah, gas Tia abis, paling minimal nanti lah kalau udah gajian," tawarku, dengan setengah berkelakar.


Setelah tawar menawar, akhirnya Pak Gala pun tidak keberatan kalau aku memasakan lagi saat udah gajian, meskipun Pak Gala mau memberikan uang untuk membeli gas dan lain sebagainya, tetapi aku menolak. Aku nggak mau kalau sampai Pak Gala berpikir kalau aku memanfaatkan uang-uang Pak Gala, biarkan untuk menanggung biaya makan sampai gajian, aku bakal kasbon sama Misi kalau tidak Tulip, toh kita sering seperti itu dan selalu amanah degan hutang-hutang kami.


Sejak kejadian pertengkaran itu aku pun semakin jarang bertemu dengan Yuda maupun Mbak Fany, tetapi tidak dengan Pak Gala. Kami masih berhubungan baik dengan atasanku itu. Bahkan semakin baik dan semakin akrab.


Rencanaku pun bisa di bilang berhasil, aku berhasil memberikan perhatian-perhatian tipis kepada Pak Gala, dengan memberikan candaan mengandung ungkapan perasaan, memberikan perhatian kecil menanyakan makan dan juga perhatian tipis-tipis lainnya.


Bahkan aku nggak nyangka kalau Pak Gala sangat hangat dan selalu enak untuk diajak ngobrol.


Yah meskipun aku tahu kalau perhatian aku ini masih dianggap hanya iseng dan candaan oleh Pak Gala. Mungkin karena aku yang terkenal lucu dan juga imut sehingga aku memberikan perhatian kecil juga dianggapnya hanya candaan belaka, tetapi tidak apa-apa aku menikmati kebersamaan kita. Apalagi Pak Gala tidak pernah membedakan aku yang hanya pesuruh di kantornya.

__ADS_1


Bersambung....


...****************...


__ADS_2