
"Hai Sayang, Momy kangen sekali." Betapa bahagianya aku, ketika baru datang ke rumah mantan majikanku, dan kedatangan kami disambut dengan sangat hangat. Sejak awal penilaianku memang tidak pernah salah di mana, Momy Bela adalah orang yang berhati sangat baik bahkan aku tidak pernah terpikirkan kalau aku akan diterima sebagai menantu di rumah ini dengan hangat.
Aku langsung menghambur dalam pelukan Momy Bela. Rasa cemas yang sejak tadi ada di pikiranku pun langsung menguai dan kini aku merasakan ketenangan. Aku memang tidak tahu apa yang sedang terjadi di antara suamiku dengan kakeknya, tetapi dari raut wajah mas suami aku tahu kalau sedang ada masalah berat yang sedang coba diselesaikan oleh Mas Gala, tanpa ingin aku tahu masalah apa yang tengah terjadi itu.
"Momy kangen banget, tiga hari kamu tidak ke sini Momy berasa tidak ada teman untuk cerita terutama saat malam hari, Momy sangat sedih," adu Momy Bela dengan menunjukan wajah sedihnya. Aku mencoba menenangkan Momy dengan mengusap punggung Momy.
"Mulai sekarang Tia akan tinggal di sini jadi Momy jangan sedih lagi." Aku melihat ke arah Mas suami yang mengangguk dengan hangat.
"Ngomong-ngomong kamu kemarin sakit apa? Apa gara-gara Gala kamu jadi sakit?" tanya Momy, yang aku tahu itu hanya meledekku. Apalagi lirikan Momy Bela pada putranya yang seolah sedang mencoba memberikan sinyal rahasia membuat aku semakin yakin Momy dan Mas Gala sedang meledekku.
"Sudah Mom, perasaan Tia tidak ada masalah apa-apa. Tia baik-baik saja." Aku tidak boleh menujukan kelemahanku, toh sesama wanita pasti Momy Bela sudah tahu apa yang aku rasakan saat malam pertama terjadi. Aku hanya sakit biasa saja. Ketika sudah sehari dua hari melakukan hubungan suami istri aku sudah bisa menikmatinya. Dan merasakan apa yang orang-orang sebut dengan istilah surga dunia.
"Ya udah yuk masuk. Momy sudah masak spesial untuk kamu dan Gala." Momy menggandeng tanganku dengan mesra sedangkan mas suami membawa tas jinjing yang berisi pelengkapanku, kata suami sih tidak usah dibawa karena bisa beli lagi, tapi bagia ku sayang lagi pula aku belum tahu kapan akan balik ke rumah mas suami lagi. Andai boleh memilih aku tentu lebih memilih untuk tinggal di rumah Momy Bela, lebih nyaman dan tentunya kalau Mas Gala kerja aku masih ada teman, bisa bermain dengan kucing-kucing pliharaan Momy dan juga bisa menghabiskan waktu dengan tanaman kesayangan Momy.
Kami pun begitu datang langsung di sambut dengan masakan hasil olahan Momy yang sangat aku rindukan aku tahu itu bukanlah makanan yang mahal dan mewah, tetapi rasa masakan yang diolah dari tangan Momy benar-benar mirip dengan hasil olahan dari tangan Ibu. Sehingga setiap aku makan hasil olahan Momy berasa aku makan masakan ibu kandungku.
__ADS_1
"Ayo Tia kamu makan yang banyak. Kamu juga Gala banyak-banyak makan sayur toge dan Tia juga biar cepat kasih cucu pada Momy. Momy tidak sabar ingin cepat dapat cucut." Dengan wajah yang terlihat berbinar gembira Momy Bela melayaniku layaknya aku adalah majikan, nasi dan lauk pauk di ambilkan semuanya bahkan untuk sekedar mengambil air aku pun tidak diizinkan.
Aku benar-benar merasa sangat beruntung, karena pada kenyataanya bukan hanya suamiku yang melayani aku dengan sangat baik, tetap mertuaku pun melayani aku dengan hati yang tulus bahkan beliau tidak pernah melihat aku siapa sebelumnya. Apakah aku adalah mantan asisten rumah tangganya atau bukan, beliau benar-benar menganggap putrinya yang kedudukannya sama dengan keluarganya
"Terima kasih Mon, Tia bisa lakukan ini semua," ucapku ketika aku dilayani terus layaknya ratu.
"Tidak apa-apa, biar kamu betah tinggal di sini," balas Momy Bela dengan mengusap pundakku dengan lembut. "Makanlah yang banyak agar kamu tidak kurus, apa nanti kata orang tua kamu, masa anaknya nikah jadi kurus," imbuh Momy Bela dengan mengusap lembut pundaku dan menujuk makanan yang sudah beliau siapkan.
Kami pun malam ini makan cukup hangat sebelum aku dan mas suami akan pisah sebentar. Yah, itu adalah harapanku, kami akan berpisah sebentar setelah itu akan hidup bahagia menua bersama.
"Ngomong-ngomong Kakek kondisinya gimana Gal?" tanya Momy Bela ketika kamu sudah selesai makan malam.
Meskipun aku kaget dan terkejut dengan apa yang Momy tanyakan pada kang mas suami, tetapi aku tetap berusaha santai, aku hanya diam dengan indra pendengaran yang tetap tajam mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ini Gala baru mau ke rumah sakit." Mas Gala pun hanya menjawab seadanya, mungkin takut kalau aku akan merasa bersalah dalam sakitnya Kakek, aku sih yakin Kakek sakit itu ada masalah dengan aku, tetapi aku juga yakin kalau mas suami pasti bisa menyelesaikan masalah itu, tugasku hanya percaya dan nurut apa yang dikatakan mas suami. Aku percaya tidak mungkin Allah memberikan ujian hidup tanpa adanya pertolongan dari Allah juga.
__ADS_1
"Kalau gitu cepatlah kamu nyusul ke rumah sakit, takutnya Papi kamu butuh bantuan kamu, dan sampaikan salam Momy untuk Kakek juga," ucap Momy bela pada sang putra sembari mendorong punggung anaknya agar segera berangkat ke rumah sakit.
"Jadi salamnya hanya untuk Kakek saja nih? Untuk Papi?" ledek Mas Gala dengan menaik turunkan alisnya.
"Iya-iya untuk Papi juga, bilang Momy kangen."
Kami pun tertawa dengan renyah ketika mendengar ucapan Momy Bela yang sangat lucu itu. Aku jadi iri dengan keromantisan pasangan yang tidak lagi muda. Dalam batin lagi-lagi aku bertanya apakah kami akan bisa hidup seperti momy dan papi yang bisa menjaga hubungan baiknya meskipun tidak lagi muda?
"Ya udah Mas, pamit yah, kamu baik-baik dengan Momy, dan kalau ada apa-apa kamu langsung kabarin Mas," ucap Mas suami dengan memeluk tubuhku, jujur sedih sih, mana kita pengantin baru seharusnya tiap malam ditemanin tidur oleh mas suami, tetapi aku juga paham betul hubunganku dan mas suami itu sangat berbeda dengan pasangan suami istri yang lain.
"Mas juga, jaga diri baik-baik jangan nakal dan juga salam untuk Papi dan Kakek, itu juga kalau Kakek terima," ucapku dengan mengembangkan senyum tetap berusaha santai.
"InsyaAllah semua itu segera terjawab," ucap Mas suami dengan membalas senyumku.
"Amin..."
__ADS_1
Bersambung.....
...****************...