
Tanpa menunggu lama makanan yang Misi dan aku pesan pun sudah datang. "Wih, ini sih benar-benar makan besar." Aku meletakan bungkusan pelastik yang berisi makanan yang Misi dan aku beli.
"Tia, loe serius ini semua nggak apa-apa kalau gue nggak ganti uangnya. Belinya banyak banget loh."
"Apaan sih, udah makan aja habisin, masalah uang bisa dicari lagi."
Bukan karena aku sekarang istrinya Mas Gala tapi memang aku ada niat untuk traktir Misi tiga tahun nggak ketemu masa giliran ketemu uang untuk beli makanan saja dipertimbangkan.
"Ya udah, makasih yah. Gue doain deh rezeki loe makin lancar, dan apa yang loe inginkan tercapai." Doa Misi, aku pun membalas dengan 'Amin', kami pun langsung makan dengan sesekali bercerita pengalaman hidupku selama aku pulang kampung dan juga Misi berbagi cerita hingga akhirnya dia memutuskan berhenti bekerja.
"Jadi loe balik lagi ke Jakarta, Tia. Kok loe nggak ngomong sih. Kan kita bisa tetap ketemuan," tanya Misi heboh.
"Ya kalau gue kasih tahu masih di Jakarta bisa-bisa mulut bocor loe nyerocos dan akhirnya Pak Gala tahu kalau gue masih di Jakarta dan ketemu lagi deh," jawabku dengan percaya diri, tapi meskipun aku bersembunyi dengan sangat rapat ternyata kalau jodoh tetap ketemu juga.
"Tapi tuh loe datang bareng pak bos juga artinya loe ketemu juga dong. Itu ceritanya gimana."
Aku hanya mengulas senyum jahil.
"Kepo aja sama urusan orang." Jangan ditanya wajah Misi sontak langsung meradang lagi.
"Tia loe mah ngeselin banget. Kenapa bisa-bisanya loe bikin gue mati penasaran."
__ADS_1
"Iya-iya gue cerita, tapi nanti yeh, nih makanan masih banyak gue makan dulu biar cepat besar, nah abis itu baru dah gue cerita."
Kami pun kembali makan dengan damai, tanpa kekepoan Misi yang berisik.
"Udah nih makanan udah mau habis, ayo cerita." Aku terkekeh dengan tingkah Misi yang menyebalkan bagaimana tidak wanita itu memang kalau sudah penasaran itu kaya gini.
"Ya Tuhan, Misi. Ini makanan aja baru ditenggorokan loh Mis dan loe langsung minta gue untuk cerita yang ada nanti keselek bentar napa gue minum dulu."
"Ah, loe mah kelamaan Tia, loe maunya apa sih." Misi langsung memberikan minum dengan kasar dan mata yang memberikan tatapan sadis.
"Jadi mau dengar cerita yang mana dulu. Buruan Pak Gala barusan Wa dia minta istirahat aku udah balik ke kantor."
"Yah, Gak puas dong ceritanya," gumam Misi dengan memberikan tatapan sedih.
"Ya udah deh gimana loe bisa ketemu lagi dengan Pak Gala dan juga hubungan loe dengan Pak Gala sebenarnya apa?"
"Ini sih namanya kepo pake banget, bagaimana bisa loe tanya main brondongan. Jadi ceritanya begitu gue pulang kampung ditawarin jadi pembantu di Jakarta. Berhubung gue butuh duit ya gue terima dong. Dan ternyata setelah tiga tahu gue kerja majikan gue adalah ibu tiri dari Pak Gala, nah dari situ lah gue ketemu dengan mantan bos kita."
"Singkat banget ceritanya, yang panjang kek, loe ketemu gimana perasaanya lagi ngapain," protes Misi dari wajahnya sih terlihat kecewa karena cerita yang hanya sekilas.
"Mau gue ceritain nggak, mau panjang atau pendek kan yang penting gue cerita, dari pada loe mati penasaran."
__ADS_1
"Ya udah lalu untukĀ hubungan kalian apa?" Lanjut dengan pertanyaan berikutnya.
"Wah, kalau ini berat Mis. Jangan ditanya yah..." Aku memancing lagi biar Misi bertanduk.
"Tia loe mah nggak asik banget, kan loe tadi udah janji kalau loe bakal cerita."
Aku pun terkekeh mendengar jawaban dari Misi.
"Ok-ok, jadi hubungan gue dan Pak Gala.... gue sudah menikah Mis."
"Hah... serius loe, Tia, nikah? Dengan Pak Gala?" Kedua bola mata Misi hampir saja loncat.
"Yah, memang dengan siapa lagi."
"Pantes loe ngotot bukan pacar, iya lah bukan pacar udah naik jabatan jadi teman tidur. Tapi kok loe bisa nikah dengan Pak Gala sih Tia, kan kakeknya Pak Gala nggak setuju dengan loe?"
"Nah, kan tadi perjanjianya tidak cerita sampai ketahap itu yah."
"Tia, ah loe mah nggak asik banget."
Bersambung....
__ADS_1
...****************...