Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Bos yang Berubah Perhatian


__ADS_3

Sejak pertemuan aku dan Yuda yang secara resmi dan dengan omongan yang sadar untuk saling tidak perduli lagi. Aku pun tetap masuk kerja seperti biasa begitu pun Yuda aku lihat dia masuk kerja seperti biasanya, kecuali Bu Fany, aku tidak tahu karena memang saat ini kami bekerja berbeda tempat kerja.


Harapan ku tentu hari kemarin adalah hari terakhir aku berhubungan dengan Yuda. Andai boleh aku menyesal, mungkin yang paling aku sesali selama mengambil keputusan dari hidupku adalah aku jatuh cinta dan menjalin kasih dengan Yuda.


Namun, bak nasi yang sudah menjadi bubur, mau tidak mau harus dihadapi, meskipun harus dibikin sedemikian rupa agar dinikmati semakin enak. Takdir memang kadang-kadang sangat kejam, tetapi mungkin ini adalah cara Tuhan agar aku semakin kuat dalam menjalani hidup yang tentunya tidak mudah kedepannya.


Keseharian aku pun masih sama aku masih bekerja menjadi office girl, hanya bedanya aku tidak lagi terlalu dekat dengan Pak Gala, yah semenjak aku sakit aku memang kembali bekerja ke lantai atas, tetapiĀ  aku semakin sadar bahwa aku tidak seharusnya memanfaatkan kedekatan aku dan Pak Gala, untuk terlihat kalau aku bisa move on dari Yuda, apalagi dengan berharap kalau aku mendapatkan pasangan yang jauh lebih baik dari mantan, entah itu dari segi materi atau dari segalanya, ketampanan dan kedudukan.


Aku seolah mendapatkan teguran dari sakit kemarin, bahwa apabila aku ingin mendapatkan pasangan yang jauh lebih baik dari sebelumnya makan aku juga harus memperbaiki diri aku yang masih jauh dari ajaran Tuhan. Aku tidak boleh mendahului yang jadi ketentuan Tuhan, perlahan tetapi pasti aku pun menarik diri dari Pak Gala.


Yah, selain memutuskan hubungan dengan Yuda agar aku bisa tenang. Aku juga memutuskan untuk membatasi diri dari Pak Gala. Karena aku semakin tahu diri bahwa yang aku lakukan hanya kehaluan saja, kalau tidak hari ini pasti esok-esok rasa sakit ini pasti akan kembali aku rasakan. Selama ini aku memang terlihat biasa saja dengan yang aku dan Pak Gala lakukan, hari-hari masih ada candaan dan juga masih terlihat sama seperti dulu, tetapi aku tetap memberikan jarak, dan perlahan aku menarik diri dari kedekatan Pak Gala. Bahkan kalau bukan yang penting-penting banget aku lebih nyaman bekerja di lantai lain. Agar tidak bertemu Pak Gala. Menghindar mungkin lebih tepatnya seperti itu.


Keputusan sudah aku ambil dengan matang, bahkan aku memutuskan ini bukan dalam satu atau dua hari, aku sudah memikirkan dari jauh-jauh hari agar aku lebih fokus pada pekerjaanku saja, memperbaiki diri ku untuk menjadi yang jauh lebih baik lagi. Aku tidak ingin kalau sampai mengalami seperti yang sebelumnya. Apalagi Pak Gala juga hanya menganggap aku dan dirinya hanya sebatas hubungan atasan dan bawahan. Ada rasa menyesal kenapa aku dulu pernah memiliki pikiran untuk menjadikan Pak Gala kekasih pengganti Yuda, yang secara tidak langsung memberikan harapan yang tidak bisa diraih pada hatiku sendiri. Kedekatan kami nyatanya hanya karena aku yang lucu dan bisa menghibur dan perhatianku tidak mampu mengetuk pintu hati atasanku.


Aku tidak ingin membuat hati ini sakit untuk kedua kalinya sehingga dengan segala keyakinan dan kesadaran aku pun memilih untuk mundur perlahan dan hanya berhubungan apabila ada urusan pekerjaan saja.


Mungkin Tuhan membuat hati ini sakit di saat masih berpacaran, ada hikmahnya yaitu agar aku tidak berpacaran. Sudah paling baik tanpa berpacaran dan fokus dengan cita-citaku. Aku salah pernah berpikiran kalau membalas sakit hati dengan mencari pasangan yang jauh lebih dari sebelumnya adalah cara balas dendam paling baik.

__ADS_1


Nyatanya justru bukanya aku bisa membalas sakit hati, justru hati ini kembali sakit karena terlalu berharap pada rencanaku sendiri.


Di saat aku ingin menjauh dari Pak Gala, dan hanya ingin fokus dengan pekerjaanku justru Pak Gala seolah kini mendekat padaku. Bosku itu justru semakin perhatian dan semakin menunjukkan kalau laki-laki itu serius dengan hubungan ini. Dari mulai bertanya makan dan menginginkan istirahat dan minum vitamin. Hal yang sebelumnya tidak pernah dilakukan sekali pun oleh Yuda.


"Tia besok kamu ada di rumah nggak?" tanya Pak Gala. Aku sangat terkejut dengan ucapan Pak Gala, entah berapa lama aku dan Pak Gala hanya terlibat obrolan yang singkat dan rata-rata soal kerjaan dan menu makan siang. Karena memang semenjak kita dekat menu makan siang Pak Gala aku yang siapkan.


"Besok? Tia selalu ada di kontrakan Pak, emang kenapa?" tanyaku dengan kepo, jujur aku justru merasa semakin di buat tidak nyaman, dengan Pak Gala yang seolah menarik aku agar semakin dekat dengannya lagi. Sia-sia dong usaha aku agar berjauhan dengan Pak Gala. Kalau Pak Gala mendekatkan diri lagi padaku.


"Kita bisa jalan? Ada yang ingin aku obrol kan?" jawab Pak Gala sehingga aku semakin tidak nyaman.


"Jalan ke mana Pak? Jujur Tia sedang tidak ingin ke mana-mana. Tia ingin istirahat saja, sedang tidak ingin ke mana-mana," balasku yang akhir-akhir ini aku memang melihat Pak Gala itu berubah.


"Ya udah tapi sebentar aja yah Pak Gala jujur Tia tidak enak dengan yang lain ketika terlalu dekat dengan Pak Gala," ucapku dengan jujur.


"Janji, besok aku jemput yah." Setelah memastikan bahwa aku mau Pak Gala pun kembali ke ruangannya sedangkan aku kembali kerja dengan baik.


Inilah hidup sulit di tebak, di mana aku semakin ingin menjauh dari laki-laki itu malah bosku semakin baik dan selalu membuat aku dekat dengannya. Sesuai janji aku dan Pak Gala di keesokan hari akan pergi, pukul delapan aku pun sudah siap, tidak usah menunggu lama Pak Gala pun langsung mengabarkan kalau dia sudah ada di depan kosan ku, sehingga aku pun langsung turun.

__ADS_1


Ini adalah hari libur di mana di hari libur jam delapan masih sangat pagi untuk bangun begitupun aku yang sebenarnya masih sangat ngantuk. Apalagi sepeti sudah menjadi rutinitas mingguan kalau libur maka malam hari adalah waktu sangat baik untuk nonton film favorite.


Misi dan Tulip pun nampaknya masih tidur dengan nyenyak sehingga aku pergi pun hampir tidak ada yang menyadarinya.


"Maaf tunggu lama yah Pak," ucapku begitu masuk ke dalam mobil. Padahal itu hanya sekedar basa basi. Aku rasa sih tidak terlalu lama, karena begitu Pak Gala berkirim pesan aku langsung siap-siap untuk turun.


"Tidak, paling sepuluh menit, masih aman," balas Pak Gala yang sejak tadi menatapku terus. Yah meskipun aku pura-pura menunduk tetapi dari ekor mataku bisa melihat kalau Pak Gala beberapa kali menatapku.


"Ngomong-ngomong kita mau ke mana, dan ada urusan apa sih Pak," tanyaku yang semakin penasaran, ini adalah. pertama kalinya aku dan Pak Gala pergi di hari libur. Seperti orang yang akan berkencan.


"Aku ada yang ingin di omongin sama kamu," jawab Pak Gala dengan suara dan wajah semakin serius juga.


'Penting?" tanyaku lagi.


Dan Pak Gala menjawab dengan anggukan. Perasaanku jadi tidak karuan. Panas dingin dan juga jadi berpikir yang tidak-tidak. Padahal sebelumnya aku pernah membayangkan kalau Pak Gala menembak aku, tetapi ketika sekarang aku menginginkan bayangan itu kembali aku semakin tidak siapa.


Bersambung....

__ADS_1


...****************...


#Kira-kira Pak Gala mau ajak Tia ke. mana yah? Atau jangan-jangan mau ajak ketemu camer...


__ADS_2