Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Ujian yang Mulai Menghadang


__ADS_3

Aku melepaskan kepergian mas suami untuk kerja. Meskipun sebenarnya kurang nyaman ketika dilayani seperti ratu, aku yang biasa kerja dan banyak berkegiatan di rumah ketika aku hanya diminta untuk diam dan apa-apa dilayani justru semakin merasa kurang nyaman dan badan pada kaku.


Bayangkan saja seharian hanya nonton televisi dan juga bermain ponsel, bosan-bosan aku akan bercerita dengan Ica atau Bi Sarni. Namun, mereka yang dibayar untuk merapihkan rumah ini dan segala pekerjaan lain pun tidak bisa terus-terusan menemaniku untuk bercerita ini itu. Memang sih mas suami tidak marah kalau aku mengajak Ica atau siapa pun untuk bercerta. Namun, aku yang tidak enak kalau harus terus-terusan mengganggu pekerjaan mereka. Dan mereka juga pasti merasa bosan kalau diajak gosip terus.


Sore hari aku duduk di depan teras rumah besar mas suami, kegiatan soreku memang hanya seperti ini menunggu mas suami pulang kerja. Mas Gala akan marah kalau aku mengerjakan sesuatu. Dia selalu bilang kalau aku itu bukan pembantu, sehingga jangan lakukan pekerjaan yang akan membuat aku cape. Yah, sebagai istri yang baik dan patuh aku pun ikut saja apa kata mas suami toh bagi aku itu pekerjaan yang enak, hanya duduk dan dilayani. Nanti juga kalau sudah lama nikah aku akan diperbolehkan melakukan apapun. Biasanya seperti itu bukan, kalau masih pengantin baru sangat dimanja, lama-lama juga biasa lagi.


Wajahku berbinar sempurna ketika mobil mas suami memasuki halaman rumah, aku langsung beranjak dari duduk dan menghampiri mas suami. Seperti biasa mas suami ketika turun dari mobil akan memberikan senyum terbaiknya, aku mencium tangan mas suami dengan takzim. Sebagai istri yang baik tentu ingin kalau Mas suami tidak menyesal telah memilih aku sebagai istrinya. Aku akan selalu berupaya untuk memberikan yang terbaik untuk mas suami.


Senyum teduh terlihat dari wajah mas suami, meskipun aku tahu Mas Gala sudah cape karena seharian kerja, tetapi ketika pulang selalu menujukan wajah bahagianya.


"Cape yah Mas?" tanyaku yang melihat kali ini wajah mas suami  seperti sangat banyak beban hidupnya.


"Hari ini banyak sekali masalah, sampai-sampai kakek datang ke kantor dan mencari sorusi bersama," balas Mas suami dengan duduk dan menyenderkan tubuhnya di sofa yang empuk serta kepala yang di letakan di sandaran sofa membuat aku yang tadinya ingin minta agar kita balik tinggal di rumah Momy Bela pun urung. Biarlah aku paksakan untuk tinggal di rumah ini, meskipun aku merasa tidak betah. Karena aku takut kalau harus meminta izin untuk pindah.


"Mau Tia pijit?" tanyaku sembari tangan ini sudah memijit pundak mas suami. Aku tidak tahu harus gimana, sedangkan dari wajah Mas suami aku sudah bisa simpulkan kalau masalah kali ini cukup berat.

__ADS_1


"Coba kamu pijit bagian leher ini." Mas Gala membenarkan duduknya dan meminta aku memijit bagian leher yang terlihat merah pasti sebelumnya mas suami sudah pijit-pijit sendiri.


"Tia..." Mas suami memanggilku dengan suara yang lirih seperti akan bercerita sesuatu.


"Hemz... ada yang bisa Tia bantu?" aku bertanya dengan nada bicara yang cukup lembut. Agar mas suami tidak ragu apabila mau meminta bantuanku atau justru hanya sekedar curhat. Bukanya kita  sudah menjadi suami istri, dan itu tandanya aku berhak tahu apa yang sedang terjadi paada mas suami. Begitupun sebaliknya mas suami berhak tahu dengan apa yang sedang terjadi pada aku.


"Kalau kamu untuk sementara waktu tinggal di rumah Momy bagaimana?" tanya Mas suami yang justru membuat hati ini damai. Tanpa aku yang meminta kalau ingin tinggal di rumah Momy, nyatanya justru mas suami yang menawarkan itu padaku.


Tuhan memang tahu apa yang hambanya mau.


"Tapi ini bukan kita, hanya kamu. Mas tidak bisa pulang lagi ke rumah ini maupun ke rumah Momy. Ini hanya sementara kok, tidak selamanya~"


Aku menghentikan pijitan tangaku. "Apa Kakek sudah tahu hubungan kita?" tanyaku tidak mungkin mas suami bersikap seperti ini kalau semuanya baik-baik saja. Pasti ada sesuatu yang sedang mas suami coba selesaikan, dan tanpa melibatkan aku yang tahu ini terlalu berbahaya.


"Semuanya akan baik-baik saja. Mas tidak sendirian, Papi ada di pihak kita."

__ADS_1


Aku menelan salivaku kasar, sungguh ini bukan hal yang aku inginkan menjadi biang masalah dalam keluarga mas suami. Aku jadi merasa tidak enak hati gara-gara aku mas suami kembali terlibat pertentangan dengan sang tertua.


"Kamu tidak usah merasa bersalah, hubungan Mas dengan Kakek memang sudah sering terjadi perdebatan, bahkan bukan mas saja yang sering terlibat ketegangan. Papi juga tidak jarang beradu mulut dengan kakek, karena memang watak kakek yang sangat keras." Mas suami seolah tahu apa yang sedang aku pikirkan.


"Tetap saja Mas, kalau Mas tidak menikah dengan Tia semua ini tidak mungkin terjadi itu semua karena Mas yang memutuskan menikah dengan Tia."


Sekuat apapun mas suami bilang kalau ini bukan karena aku, pada kenyataanya aku tetap penyumbang masalah terbesar dalam ketegangan ini.


Mas suami langsung memelukku, memberikan ketenangan. "Semuanya akan baik-baik saja. Kita akan lewati ini bersama-sama."


Aku hanya mengangguk pasrah. Kami sudah saling menentukan hubungan ini, mau tidak mau kami harus jalani masalah ini bersama-sama, toh kita sudah menyiapkan semuanya sebelum kita memutuskan untuk menikah.


"Tuhan kenapa sebegini sulitnya mencintai hamba-Mu yang jauh lebih berada, apakah status sosial sangat berpengaruh dalam urusan cinta?"


Bersambung....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2