
"Kenapa kamu Tia, apa kamu pikir yang Kakek bicarakan itu adalah mimpi?"
Aku tersentak kaget ketika Kakek berbicara seperti itu. Aku tersadar berati memang saat ini sedang tidak tidur. Kakek benar-benar datang ke rumah kami untuk merestui hubungan aku dan Mas Gala. Kakek benar-benar menepati janjinya.
Segera aku menggelengkan kepala. "Mungkin Tia hanya kaget Kek," jawabku dengan setengah gugup. Yah, aku justru gugup dan bingung mau mulai obrolan apa lagi. Mana Mas Gala belum pulang kerja, mungkin kalau ada Mas Gala, aku tidak akan segugup ini. Di mana saat ini aku duduk hanya berdua dengan Kakek, orang yang pernah membenci aku, hanya gara-gara aku terlahir dari keluarga kurang mampu.
"Ngomong-ngomong usia kehamilan kamu berapa?" tanya Kakek lagi yang kali ini aku merasa kalau Kakek lebih banyak berbicara tidak seperti biasanya yang irit berbicara dan sekalinya berbicara lebih tajam dari pada ped@ng.
"Sudah jalan dua bulan Kek, dan alhamdulillah semuanya bagus dan sehat," jawabku dengan jelas dan lengkap.
Kakek hanya mengangguk-anggukan kepalanya. "Tidak ngidam?" tanya Kakek lagi. Fix, ini Kakek memang sudah berubah.
"E ... sepertinya tidak Kek," jawabku ragu, entah ngidam itu seperti apa pun aku tidak tahu. Yang aku tahu ngidam itu mual, mutah dan sulit makan dipagi hari. Kalau yang aku rasakan sepertinya bukan ngidam. Sebab Momy Bela selalu bilang kalau itu bawaan bayi bukan karena ngidam.
"Yah baguslah. Kakek dengar kalau ngidam itu sangat menyiksa."
Aku hanya mengulas senyum samar, kini bahkan Kakek nampaknya sangat perhatian dengan aku. Apakah ini benar-benar perhatian dengan aku dan itu tandanya sudah bisa menerima aku menjadi cucu menantunya atau hanya karena aku bisa hamil keturunan dari Mas Gala, setelah aku melahirkan Kakek akan berubah lagi seperti sebelumnya.
"Silahkan Kek diminum." Aku yang kehabisan kata-kata pun mengalihkan obrolan dengan menawarkan Kakek minum.
__ADS_1
Tidak lama aku mendengar suara mobil yang sudah sangat familiar di telingaku. Aku benar-benar merasa lega ketika suara mobil Mas Gala terdengar dan itu tandanya mas suami udah pulang.
"Itu kayaknya Mas Gala pulang," ucapku senang sekali karena aku berharap dengan adanya Mas Gala aku tidak akan tegang seperti saat ini. Yang mana aku serasa sedang uji nyali, horor dan seram sekali. Setiap aku mendengar Kakek berbicara jantungku berdetak lebih cepat takut kalau tidak bisa jawab.
Deg!! Aku kaget karena Mas Gala kayaknya pulang tidak sendiri, dari suaranya aku sangat kenal, dari suaranya beliau adalah Papi Yusuf. Mas Gala dan Papi nampak tertawa sepertinya sedang bercerita sesuatu yang sangat asik.
"Apa Yusuf sering ke sini?" tanya Kakek, yang membuat aku bingung harus menjawab apa. Yah, belakangan memang Papi lebih sering datang ke rumah, dari pada datang ke toko, karena memang sejak aku hamil Momy pergi ke toko pun tidak terlalu lama pasti habis duhur langsung pulang, bahkan seperti hari ini Momy tidak ke toko. Lebih memilih menjaga aku, yang kata Momy takut kalau aku kenapa-napa. Padahal aku di rumah pun tidak seorang diri banget, ada bibi yang bersih-bersih rumah jadi kalau ada apa-apa pasti bibi bisa bantu.
"Tidak terlalu Kek," jawabku, setelah berpikir cukup lama.
"Apa Bela ada di rumah?" tanya Kakek lagi.
"As'salamualaikum," sapa Mas Gala bareng dengan Papi Yusuf.
"Wa'alaikumussalam," jawabku pelan. aku bisa melihat reaksi kaget mas suami dan papi mertua ketika melihat Kakek yang ada di rumah kami.
"Kakek, ada perlu apa tumben datang ke sini?" tanya Mas Gala dengan suara yang lirih dan ragu.
"Duduklah, ada yang ingin Kakek tanyakan pada kalian!" Kakek menunjuk tempat duduk di sebrangku. Suasana ruangan pun semakin tegang. Aku menggeser agar mas suami bisa duduk di sampingku.
__ADS_1
"Tia, kamu tolong panggilkan Bela ke sini!" titah Kakek yang membuat aku semakin takut. Yah, aku takut kalau Momy akan kembali mendapatkan ucapan yangmenyakitkan, dan penyebabnya adalah aku yang barusan salah menjawab pertanyaan Kakek.
"Baik Kek." Tanpa menunggu lama aku pun langsung berlalu meninggalkan raung tamu.
Baru aku masuk ke dapur Momy Bela sedang berdiri bersandar ke dinding. "Momy sudah dengar," ucap Momy Bela begitu aku masuk ke dapur.
Aku langsung menunduk merasa bersalah, mungkin Momy kecewa dengan jawaban aku tadi. "Maaf yah Mom kalau ucapan Tia salah jawab, dan menyebabkan Momy mungkin akan terlibat masalah nantinya dengan Kakek."
"Tidak ada yang salah dengan jawaban kamu. Yuk kita ke depan, kebetulan Momy sudah selesai masak." Dari raut wajah dan suara aku bisa melihat kalau Momy memang terlihat baik-baik saja dan sudah siap segala kemungkinan apa pun yang akan terjadi, tetapi di dalam hatinya siapa tahu.
"Selamat sore Pah," sapa Momy Bela dengan sopan dan beliau memilih duduk di samping Mas Gala, aku pun duduk di samping Papi Yusuf tukaran formasi. Susana di ruang keluarga benar-benar terasa ketegangannya. Bahkan rasanya seperti berasa di dalam kukas.
Tatapan Kakek bergantian menatap kami berempat. Aku menatap Momy Bela yang terlihat justru tetap tenang, tentu berbeda dengan aku yang perasaanku sudah tidak karuan. Bahkan mungkin wajah aku juga pasti bisa mengartikan kalau saat ini aku sedang tegang campur cemas.
"Ya Tuhan aku saat ini pengin menghilangkan, tidak mau berada disituasi seperti sekarang," jerit ku di dalam hati.
Bersambung....
...****************...
__ADS_1