
"Tia, Gala, Bapak pulang dulu yah. Sekali lagi terima kasih Bapak ucapkan untuk Nak Gala, sudah bawakan oleh-oleh sebanyak ini, pasti Lili senang dengan makanan yang enak-enak dari abang iparnya," ucap Bapak yang tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih ketika menantunya membawakan banyak oleh-oleh untuk ibu dan juga adik iparnya.
Bukan hanya oleh-oleh yang Mas Gala siapkan untuk Bapak. Mas suami juga memberikan uang untuk biaya hidup Bapak dan Ibu di kampung. Bahkan Mas suami minta agar Bapak tidak terlalu cape bekerja, karena Mas suami janji setiap bulan akan mengirimkan jatah bulanan pada keluargaku.
Aku tidak melarang karena itu memang keinginan Pak Gala bukan keinginanku, aku juga tidak meminta agar Pak Gala bertanggung jawab atas keluargaku, tetapi suami baruku yang ingin, dan bahkan aku ridak boleh kerja oleh Mas suami. Dengan kata lain mulai hari ini aku hanya boleh melayaninya.
"Gala senang kalau Lili suka, sekali lagi sampaikan salam Gala untuk Ibu dan juga Lili. Bapak dan Ibu jangan khawatir soal Tia, Gala pasti akan jaga anak Bapak dengan sangat baik." Mungkin kalau aku hitung Mas Gala sudah mengucapkan janji untuk menjaga aku lebih dari sepuluh.
"Bapak percaya sama kamu, Tia bisa memilih kamu sebagai suaminya pasti kamu adalah orang yang baik, dan Bapak juga nitip salam untuk orang tua kamu. Bapak berharap suatu saat nanti bisa main kembali ke sini, jujur sebenarnya Bapak betah di sini tapi mau bagaimana lagi Ibu dan Lili sendirian di rumah. Kasihan, dan takut terjadi apa-apa juga."
Untuk berpamitan lebih banyak Bapak dan mas suami yang ngobrol, sedangkan aku pun tidak bisa berkata-kata karena masih sedih baru juga ketemu dengan Bapak malah harus berpisah lagi. Yah, aku tahu sih tujuan Bapak ke sini hanya unyuk menikahkan kami, bahkan sebelum Bapak berangkat ke Jakarta Bapak sudah mengatakan kalau beliau tidak akan lama, karena banyak kerjaan di kampung.
"Kamu jangan nangis terus, ini adalah hari bahagia kamu, kalau nangis terus nanti Bapak malah tidak tenang ninggalin kamu," ucap Bapak sembari mengusap hijabku. Aku pun yang tadinya hanya terisak ketika mendengar ucapan Bapak jadi nangis semakin kencang. Entah apa yang aku pikirkan hingga aku yang diminta jangan menangis malah menangis semakin kencang.
Untung Mas Gala bisa dibilang sabar, suami baruku itu dengan sabar menenangkan aku. "Tia hanya sedih karena harus berpisah dengan Bapak padahal masih kangen, tapi Bapak jangan khawatir Tia akan baik-baik saja, salam untuk Ibu dan juga Lili," ucapku setelah aku puas menangis. Dan kini aku pun hanya tinggal berdua di rumah pribadi mas suami, yang aku baru tahu kalau mas suami ada rumah sendiri. Aku pikir suamiku selama ini hanya tinggal dengan keluarganya tanpa adanya rumah pribadi. Namun, nyatanya rumah pribadinya cukup besar dan nyaman.
__ADS_1
Momy Bela dan Papi Yusuf sudah pamitan lebih dulu, dan disusul oleh Bapak yang memilih pulang setelah magrib. Untuk sementara aku memang tinggal di rumah mas suami, tapi nanti apabila Mas Aarav sudah kerja kembali aku memilih tinggal di rumah Momy Bela yang sudah pasti di sana aku lebih nyaman dan pastinya tidak sepi.
"Lapar nggak?" tanya Mas Gala, ketika kami masuk ke rumah setelah memastikan kalau mobil yang Bapak tumpangi sudah jauh, dan tidak terlihat lagi dari teras rumah suamiku.
"Lapar lah, apalagi tadi baru selesai nangis, energinya berkurang banyak," jawabku dengan jujur.
"Yah-yah, cengeng sih. Masa ditinggal Bapak pulang saja nangis. Kalau gitu sekarang mau makan apa?" tanya Mas suami sembari meledekku, dan aku pun hanya membalas dengan lirikan yang tajam.
"Apa aja yang penting enak, kan sekarang suami Tia kaya, jadi sekarang mau makan yang enak dan mahal," jawabku dengan nada yang santai.
"Hahaha, aku suka dengan Tia yang seperti ini, tidak ada jaim-jaim pokoknya apa yang mau langsung ditembak. Baiklah aku akan pesankan makanan yang mahal dan enak untuk istriku yang cengeng, agar kamu makanya banyak, nanti malam kita kan mau lembur, tapi ingat kamu jangan nangis yah," balas Mas suami dengan menaik turunkan alisnya memberi kode. Mungkin agar aku bersiap menyiapkan lembur nanti malam, lembur yang seperti apa, aku pun tidak tahu mungkin lembur menghitung bintang di langit.
"Sayang makanan sudah datang, jangan di kamar terus turunlah kita makan bersama," pekik Mas Gala dari lantai bawah. Aku yang memang baru selesai membersihkan diri pun tanpa menunggu lama langsung turun dan bersiap untuk makan yang banyak mengingat aku memang sudah lapar, padahal aku dan keluarga tadi makan siang cukup banyak, tapi sekarang sudah lapar lagi, kayaknya cacing-cacing dalam perutku sangat manfaatkan momen ini.
Pak Gala terus menatapku tanpa kedip ketika aku turun dari tangga.
__ADS_1
"Kenapa sih Mas, lihatnya gitu banget ada yang aneh?" tanyaku, yang merasa tidak nyaman ketika Mas suami menatapku tanpa kedip.
"Tidak, aku hanya merasa kamu semakin cantik," jawab Mas suami yang langsung mengembangkan senyum terbaiknya.
"Tia tidak percaya, dari dulu wajahnya seperti ini ya tidak berubah. Ngomong-ngomong Mas beli makanan apa? Dari harumnya wangi banget sampe cacing langsung memanggil minta makan."
"Mas beli makanan yang enak-enak dan tentunya yang bergizi tinggi agar kamu punya banyak tenanga untuk lembur nanti." Kembali Mas suami tersenyum penuh arti. Ah, aku lupa malam ini adalah malam pertama itu tandanya kami akan melewati malam panjang dan membutuhkan banyak energi.
"Lembur emang mau ngapain? Tia malah pengin pulang ke rumah Momy Bela, di sini serasa sepi bahkan tidak ada teman ngobrol selain Mas. Kalau di rumah Momy kan Tia bisa bercerita dengan Momy dan ada teman ngobrol dan berbagi kisah kalau di sini mau cerita dengan siapa? Tembok," ucapku dengan jujur. Yah, di rumah ini memang ada asisten rumah tangga, tapi aku yang belum terlalu kenal dengan pekerja di rumah ini pun masih merasa canggung mau memulai obrolan aku adalah orang yang tidak terlalu bisa memulai obrolan pun hanya menyapa sesekali agar tidak di cap sombong.
"Untuk malam ini kita bermalam di sini yah, kalau di rumah Momy takut nanti ganggu istirahat Momy. Kalau di sini kan aman tidak akan ganggu istirahat siapa pun," tawar kang mas suami, yang mau tidak mau aku pun mengikuti apa yang dikatakan mas suami.
Malam ini kami pun makan dengan lahap, apalagi menu yang Pak Gala adalah makanan kesukaan aku, yah aku sangat senang makan yang berbau olahan hasil laut.
"Makan yang banyak Tia, sayang sudah di beli kalau tidak habis," ucap Mas suami yang mungkin melihat aku sudah menghabiskan isi piringku. Bahkan aku sudah nambah dia kali.
__ADS_1
"Kalau tidak habis bisa di makan oleh Bibi, Tia sekarang udah kenyang, dan nanti kalau lapar makan lagi," jawabku dengan santai, aku adalah orang yang apa adanya tanpa malu ataupun gengsi. Kalau lapar begitupun sebaliknya kalau sudah kenyang ya aku hentikan dan nanti bisa makan lagi kalau rasa lapar kembali datang.
Bersambung...