
Detik terus bergulir hingga tidak terasa tiga bulan paska pernikahan Yuda, tiga bulan juga aku menyandang setatus jomblo bahagia, yah aku tetap bahagia meskipun di tengah-tengah gempuran gosip yang mengatakan aku hadir di tengah-tengah keluarga Yuda dan Fany.
Nyatanya aku pikir paska pertengkaran ku dengan Mbak Fany siang itu akan tetap kembali seperti biasa dan Mbak Fany sadar bahwa aku sejak pernikahanya dengan mantan kekasihku tidak pernah aku berhubungan baik say hallo biasa sama Yuda, mengingat kita kenal dari sekolah dan berasal dari kota yang sama. Aku benar-benar tidak lagi mau perduli dengan Yuda, seharusnya bukti itu cukup bukan, bahwa aku memang tidak pernah berkata bohong.
Mbak Fany seolah semakin suka apabila ada masalah dengan Yuda selalu membuat setatus di media sosialnya yang menggiring opini bahwa awal dari pertengkarannya adalah aku. Memang sekarang tidak lagi melabrak ku tapi justru membuat keributan dengan cara baru
Mantan yang tidak tahu diri, itu yang selalu Fany sebut “Mantan Tidak Tahu Diri” entah dari mana wanita itu selalu menyebut aku dengan istilah sampah seperti itu, sedangkan aku dan dia saja nggak pernah mancing-mancing tapi wanita itu selalu senang dengan huru-hara, dia yang selalu cari keributan.
“Tia, loe tahu tidak setatus Tante itu?” tanya Misi temanku yang sampai sekarang masih menjadi bestie, sedangkan Tulip dia sudah sibuk sehingga jarang kumpul lagi dengan kami, hal itu karena Tulip sedang mempersiapkan pernikahanya.
“Mantan Tidak Tahu Diri!” balasku yang menekankan dalam setiap ucapanku, sembari Misi duduk di samping ku.
“Loe kok diem ajah sih. Kebiasaan tahu nggak kalau di diamin terus, sekali-kali napa tuh Tante di gayang, empet banget gue lihat tingkahnya.” Kembali Misi mengompor-mengomporin aku untuk membuat pelajaran pada Mbak Fany.
"Ya terus, aku harus gimana? Sedangkan melawan gue juga udah, bahkan gue bukan sekali dua kali melawan, tetapi tetap saja loe tahu sendiri kan selalu ada lagi ajah masalah yang di sangkut pautkan dengan gue." Yah, seperti yang udah-udah aku malas menanggapi istri Yuda, aku pun sudah bertekad dari awal tidak ingin menanggapi postingan dia biarkan orang menilaiku seperti apa yang penting aku tidak pernah melakukan yang dituduhkan oleh Fany. Kami pun terus bercerita dan mencoba mecari cara untuk membuat Fany sadar, setidaknya tidak membawa pihak ke tiga ketika rumah tangganya ada masalah.
“Loe kayaknya mesti bilang deh sama Yuda, jangan lagi nyimpen poto loe jangan lagi ngintilin Loe, emang loe nggak berhubungan dengan dia lagi, tapi kalau Yuda masih ngintilin loe yang ada Fany makin menjadi-jadi dia kira loe juga nanggapin apa yang Yuda lakukan. Lagian gue heran deh tuh laki bininya lagi bunting bukanya pulang urusin rumah tangganya setiap malam nongkrong dekat kontrakan kita ya Fany anggap kalau dia sedang pendekatan lagi sama kamu,” ucap Misi yang tiba-tiba datang langsung nyerocos marah dengan mantanku.
“Kamu tahu dari mana kalau Yuda masih simpan foto gue, dan dia suka nongkrong di warung kopi Pak Haji?” tanyaku pada Misi, semakin serius.
__ADS_1
“Tante itu yang bilang, banyak yang udah tahu juga kalau Yuda masih nyimpen foto lu.” Kembali Misi memberitahukan akan berita itu.
“Terus menurut lu gue harus temui Yuda agar dia hapus foto-foto gue?” tanyaku pada Misi sebagai teman terbaiku.
“Ya kalau bukan loe siapa lagi, emang dia bisa dengerin omongan orang lain. Kali aja kalau loe yang bilang Yuda bakal insap.”
“Ok gue bakal ngomong sama Yuda, tapi loe temanin gue yah! Gue nggak mau ada ucapan yang tidak-tidak kalau hanya aku yang ngomong dengan Yuda.”
Padahal sejujurnya aku sudah sangat malas untuk berhubungan dengan mantan, tetapi demi hari-hariku yang indah aku pun mau melakukan apa Yang Misi sarankan.
Sesuai yang kami rencanakan pulang kerja aku menyempatkan diri untuk menemui Yuda tentu aku mengajak Misi agar kami tidak bertemu hanya berdua yang akan menimbulkan Fitnah, rasanya hidup ini sangat tidak nyaman ketika apa-apa disangkut-sangkutkan dengan mantan. Apalagi mantan yang belum move on dari diri kita, dan pasangan yang posesif semua gerak gerik dijadikan gosip.
Tanpa bersama aku dan Misi menghampiri Yuda di kantin. Untung kondisi kantin sedang sepi sehingga aku bisa aman tidak banyak mata-mata yang bisa saja menyampaikan apa yang aku katakan pada Yuda.
“Mau kamu apa memang Yuda, kenapa kamu masih simpen foto aku. Kamu nggak kasihan apa sama aku dan juga sama Mbak Fany dia sedang hamil besar loe malah harus dukung dengan pikiran yang tenang bukan malah menambah-nambah beban pikiran, dan aku juga sudah tidak ada hubungan lagi dengan kamu jadi jangan kamu tambah-tambah lagi masalah aku dengan kisah masa lalu yang seolah belum selesai, padahal sudah jelas dengan kamu memilih menikah dengan Bu Fany kamu sudah seharusnya menghapus semua yang pernah terjadi di antara kita,” ucapku memulai obrolan ini dan aku tidak ingin ada basa-basi yang justru semakin membuat obrolan ini melebar ke mana-mana aku ingin agar urusanku dengan Yuda selesai dan aku tidak lagi disangkut pautkan dengan rumah tangga mantan.
Aku lihat Yuda cukup bingung dengan ucapan aku yang tiba-tiba datang langsung nyerocos.
“Tapi aku tidak pernah menyimpan foto kamu, lagi itu hanya di fb dan aku sendiri sudah lupa sandinya mau masuk ke Fb lama aku tidak bisa lagi. Lagian yang cape juga bukan kamu ajah Lyd, aku juga cape bentar-bentar dituduh ini dan itu.
__ADS_1
Entahlah ini hanya pembelaan dari Yuda atau memang itu yang terjadi. Aku tidak tahu mana yang benar Yuda atau justru Bu Fany yang seolah mencari cari kesalahanku.
"Itu bukan urusan aku, dan itu juga mungkin resiko kamu, enak gak enak kamu telan aja toh kalian sudah jadi suami istri. Cuma aku gak mau dituduh macam-macam apalagi dengan istilah tidak tahu diri. Yang belum move on siapa yang selalu kena sindiran siapa. Pokoknya aku nggak mau tahu kamu bilang sama Mbak Fany setop cari gara-gara kalau nanti aku balas malah jadi makin rame. Hargai aku yang masih bisa sabar. Aku tunggu sampai besok, kalau Mbak Fany masih bikin-bikin status mancing-mancing aku bakal bikin pelajaran," ancam ku pada Yuda, dan aku pun tidak mau membuang-buang waktu, dan makin. panjang obrolan.
Aku dan Misi langsung pergi begitu Yuda sudah siap memberikan pembelaan. Aku gak mau lagi dengan pembelaan apapun.
"Keren Tia." Misi memberikannya dua jempol sembari tersenyum bangga dengan tindakan aku.
"Liat aja kalau masih ngusilin aku, mereka bakal tau siapa Tia sebenernya," balasku tanpa melihat Misi, padang mataku lurus ke depan dengan berjalan tegap penuh emosi.
Emang lu siapa kok gue juga gak tau," balas Misi kepo.
"Mutia Arum Wulandari lah, emang siapa?"
Tungg.... akhirnya aku merasakan toyoran juga dari sohibku itu. Biasanya Tulip yang jadi langganan toyoran Misi kali aku dong.
"Sue gue udah serius dia malah ngelawak," dengus Misi dengan menatap kesal padaku yang justru tertawa dengan renyah.
Hahaha...
__ADS_1
Bersambung...