Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Bukan Situasi yang Diinginkan


__ADS_3

Pov Gala.


Aku mengangkat wajahku ketika sosok orang yang sangat aku hormati tiba-tiba ada di hadapanku. Meskipun aku tahu kalau kedatangan Kakek pasti ada maksud tersendiri. Aku pun tetap mencoba biasa saja dan tetap sopan pada Kakek, meskipun aku tahu Kakek datang ke kantor pasti ada hal yang akan dibicarakan. Entah masalah apa, tetapi dari sorot matanya aku tahu kalau Kakek sedang  menahan kemarahan.


Namun, aku tetap bersikap santai, toh sudah biasa Kakek, melakukan hal itu bukan.


"Tumben Kek, apa ada masalah dalam perusahaan?" tanyaku setelah memberi salam hormat pada Kakek.


"Sejak kapan kamu menikah dengan wanita itu?" tanya Kakek, tanpa berbasa basi. Aku pun mengurai senyum tetap bersikap santai meskipun aku tahu, kalau sudah berurusan dengan beliau tidak bisa aku menganggap santai.


"Jadi Kakek sudah tahu, kalau Gala sudah menikah dengan wanita yang pernah Kakek minta pergi menjauh dari Gala dengan memberikan uang seratus juta," tanyaku dengan tetap tenang. Aku tahu kalau caraku berbicara kali ini sudah tidak sesopan dengan sebelumnya, tetapi bukan aku yang membuat beda cara berbicara dengan Kakek, tetapi Kakek yang selalu membuat aku selalu hidup dalam tekanan.


"Wanita itu yang cerita?" Tatapan Kakek, sudah mulai tidak enak untuk aku rasakan. Aku hanya mengagguk, sebagai jawaban atas pertanyaan Kakek.

__ADS_1


"Tia, mengembalikan uang yang pernah Kakek berikan pada Gala. Jujur Gala sangat kecewa, karena sebelumnya Gala mengira kalau Tia, meninggalkan Gala karena tidak cintai," ucapku dengan suara yang kembali melembut, aku tahu betul kalau watak Kakek yang keras apabila aku bersikap keras yang ada nanti Kakek akan kembali membuat masalah, dan aku tidak bisa mengambil hatinya. Aku harus bisa menujukan kalau pengaruh Tia dalam hidupku itu sangat baik, bukan justru sebaliknya.


"Sombong sekali dia, dikasih enak malah milih yang sengsara," balas Kakek dengan ketus, aku hanya mengelus dada ini. Meskipun bukan aku yang dikatakan secara sekaligus, tetapi aku merasakan sangat sakit ketika mendengarnya.


"Maaf sebelumnya kalau jawaban Gala, terkesan membela istri Gala, tetapi yang Gala tahu dia bukan wanita yang sombong, justru Tia tidak mau  memakai uang-uang itu karena dia merasa itu bukan haknya. Tia mencintai Gala dengan tulus, bukan karena uang maupun harta. Hal itu sudah Gala buktikan sendiri Tiga tahun kita berpisah dan dipertemukan baru dua bulan yang lalu, dan rasa cinta itu masih utuh. Jadi tidak ada alasan Gala untuk tidak menikahi Tia. Yang Gala butuhkan saat ini adalah cinta  yang tulus, yang bisa menerima Gala apa adanya dengan segala kekuranganya. Tidak mudah mendapakan wanita seperti Tia," jawabku dengan nada yang sopan dan juga memberikan pandanganku pada Tia dalam versi yang aku lihat sehingga aku tidak ragu menikahi dia.


"Tahu apa kamu tentang cinta, apa kamu  bisa hidup hanya dengan cinta. Dunia ini keras, tanpa harta kita hanya dipandang sebelah mata. Dia bisa memilih dan tetap mencintai kamu, karena kamu  kaya dan sarang duit coba kalau kamu miskin mana mau dia menikah dengan kamu." Kakek pun masih bisa membalasku dengan pandanganya yang membuat aku kembali tersenyum dengan teduh, meskipun aku tahu pembicaraan kita tidak akan bisa menemukan titik terangnya. Kakek sudah benar-benar dibutakan oleh dunia.


"Kakek, barusan bilang kita tanpa harta hanya dipandang sebelah mata. Dan itulah yang dirasakan oleh Tia. Cintanya yang tulus, karena dia tidak berasal dari keluarga kaya yang Kakek nilai setara dengan keluarga kita, membuat dia dipandang sebelah mata."


"Mohon maaf Kalau Gala lancang. Tapi sekalipun Kakek tidak menyetujui pernikahan Gala, kali ini Gala akan tetap menjalani pernikahan ini. Bukanya dua pernikahan Gala yang sangat disetujui oleh Kakek pun berakhir sia-sia. Bahkan Kakek tidak tahu betapa menderitanya Gala menikah dengan orang yang tidak cintai. Bagaimana pernikahan Gala yang tanpa cinta berjalan, bagaimana para istri Gala yang tidak menghormati Gala. Kakek tidak akan pernah tahu, karena yang ada dalam pikiran Kakek hanya harta, uang, Gala menikah karena harta," ucapku sedikit mengeluarkan unek-unek.


Pernah belajar membuka hati pada istri pertama, tetapi tetap saja yang namanya menikah tanpa adanya cinta itu sulit, akan banyak cobaan yang menghadang. itu yang aku rasakan selama menikah dua kali dengan wanita yang bukan dari pilihan hatiku.

__ADS_1


"Tapi bukanya kamu butuh harta dan uang? Buktinya kamu nyaman dengan menikmati uang-uang yang Kakek hasilkan dengan menjual kamu."


"Kalau Kakek izinkan Gala tidak akan bekerja di kantor ini lagi. Gala tidak pernah takut hidup sengsara yang penting bahagia hatinya. Dan Gala pun akan buktikan pada Kakek kalau Gala menikahi Tia bukan karena Tia yang matre,"  ucapku dengan setiap kata yang penuh penekanan.


"Buktikan kalau omongan kamu  seperti itu."


"Baiklah Gala akan buktikan, dan mulai saat ini Gala tidak akan lagi membantu Kakek untuk menjalankan bisnis ini. Gala akan hidup dengan hasil uang-uang Gala karena bekerja keras Gala." Aku pun berdiri dan meninggalkan kunci mobil, dan segala ***** benek yang berhubungan harta-harta yang bisa membuat Kakek mengungkitnya di kemudian hari.


"Gala.. Ka... kamu... ku... rang... ajar...."


Brukkkk tubuh yang tidak lagi muda pun jatuh pingsan.


Bersambung....

__ADS_1


...****************...


#Mohon maaf karena othor udah kembali nguli, jadi jadwal up hanya sekali dan itu pun malam hari.🙏🏻


__ADS_2