
"Loe hutang penjelasan." Misi langsung menahanku seperti penjahat yang telah melakukan kesalahan dan sekarang tengah diadili.
"Penjelasan apa sih, gue datang ke sini mau numpang makan Mis, nggak usah aneh-aneh deh," elakku, ah aku sih senang bikin Misi penasaran gitu, emang niatku bikin Misi kepo, dan misiku pun berhasil. Misi semakin kepo dengan ceritaku-ceritaku dan Pak Gala
"Enggak ada, suami gue belum gajihan, di kosan nggak ada makanan." Tatapan Misi terus melihatku dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Pelit loe, sama teman aja perhitungan banget. Padahl gue mau minta seblak." Aku meletakan tas mahalku di meja dan duduk dengan langsung mengambil remot Tv dan mengacuhkan Misi.
"Tia, loe harus jelaskan sama gue, kenapa tadi Pak Gala panggil kamu Sayang...? Kalian nggak jadi putus." Misi duduk di sampingku dengan tatapan kepo.
"Jadi..." jawabku santai tetap pandanganku ke layar TV.
"Terus kenapa sekarang loe datang ke sini dan diantar Pak Gala, mana panggilnya sayang."
Sumpah aku ingin sekali tertawa ngakat dengan kekepoan Misi.
"Loe salah dengar kali." Kembali aku memberikan jawaban yang memacing Misi semakin kesal.
"Enggak, mungkin gue salah dengar, gue nggak budek yah tadi pak Gala bilang *Sayang* ke loe itu kan tandanya loe masih pacaran dengan Pak Gala."
"Ih ini anak dibilang ngeyel. Gue nggak pacaran dengan Pak Gala, emang tadi Pak Gala ngomong apa? Kok gue nggak denger." Jangan di tanya muka Misi langsung bertanduk dengar jawabanku, bahkan sampai remot TV diambil. Karena aku yang tetap mengacukan wanita itu, dan lebih fokus ke acara TV.
"Tia kalau loe bohong gue nggak mau temanan lagi sama loe yah. Jelas-jelas tadi Pak Gala bilang. 'Kalau sudah selesai telpon yah Sayang' Loe jangan ngelak lagi deh, loe masih pacaran kan sama Pak Bos."
__ADS_1
Aku hanya membalas gelengan lembut. "Aku harus tunjukin apa kalau kamu percaya kalau aku nggak pacaran lagi dengan Pak Gala."
"Terserah deh males gue sama loe. Loe udah nggak asik, takut kalau gue bakal tikung Pak Gala atau gimana sih. Perasaan Tia yang dulu selalu terbuka baik soal percintaan maupun soalnya isi dompetnya. Tapi Tia yang sekarang suka main rahasia-rahasiaan. Terus niat loe datang ke sini untuk apa?"
Mendengar ocehan Misi aku justru semakin tertawa dengan renyah.
"Niat gue ke sini, selain kangen, gue juga laper mau numpang makan." Tatapan Misi langsung menatapku tajam.
"Gak mungkin loe sekere itu, pakaian dan tas loe mahal-mahal nggak mungkin sugar dady kamu nggak kasih uang untuk jajan."
Ck... aku mengucapkan bibir cukup kencang.
"Fitnah, itu namanya. Sejak kapan aku punya papah gula."
Dasar Misi, teman laknatullah memang.
"Minta lah loe sama suami, jangan ngandelin papah gula aku."
"Jadi loe serius, Pak Gala jadi sugar dady kamu." Misi kembali memancing hubungan aku dan Pak Gala.
"Udah ah jangan bahas Pak Gala lagi, laper kita beli makan yuk." Aku segera mengambil tas mahal yang diletakkan di atas meja, untuk mengambil ponsel dan pesan makanan enak.
"Tapi beliin yah, maklum pak suami belum gajihan." Misi menunjukkan senyum pepsodent dengan mode merayunya.
__ADS_1
"Iya, pilih lah makanan yang enak-enak. Gunakan kebaikan gue untuk perbaikan gizi." Kapan lagi coba bisa sombong kaya gini sama Misi. Sayang nggak ada Tulip sombongnya jadi berasa kurang maksimal. Kalau ada dia pasti lebih heboh lagi ngorek-ngorek hubungan aku dan Pak Gala.
"Tuh kan, duit loe banyak pasti hasil morotin Pak Gala. Udah ngaku aja deh. Dari pada gue cari tahu sendiri yang ada loe nanti nggak bisa ngelak."
"Dih, cari tau aja sana. Emang bener kok, Pak Gala bukan pacar gue, tapi.... " Melihat rasa penasaran Misi yang sangat tinggi, jiwa keisengan ku pun merasa terpanggil. Aku pun sengaja menggantung ucapanku biarkan Misi semakin penasaran. Hahah... melihat ekspresi kecewanya aku pun tertawa dengan renyah.
"Tapi apa sih Tia, loe itu pengin apa lihat orang mati penasaran," omelnya sembari hendak mencubit tanganku. Namun, aku yang sudah siap pun langsung menarik tangku, dan tetap bersikap acuh.
"Udah buruan nih, Tia nggak selamanya baik loh. buruan pilih makanan apapun dan sebanyak-banyaknya. Buruan kebaikan Tia hanya berlaku sekali."
Hehe sikap sombong ku pun kembali beraksi. Kapan lagi bisa lihat wajah Misi menggemaskan seperti sekarang.
"Iya bawel. Awas loh kalau nggak mau kasih tahu hubungan dengan Pak Gala, gue yang akan tanya sendiri sama bos kita dulu." Bibirnya sih masih terus ngoceh, tapi tangannya terus memilih menu.
"Wah itu ide bagus aku, nanti kamu tanya sendiri aja yah sama Pak Gala."
"Tia... aku tuh lagi ngancem kamu biar cerita, bukan begini jawaban kamu..."
Hahaha.... aku tertawa renyah, asli Misi sekarang baperan banget. Kenyang aku kena omel bu RT.
Bersambung.....
...****************...
__ADS_1