
Awhhh... Aku memekik, ketika tiba-tiba tubuhku merasa melayang, bahkan aku memejamkan mata, heran apa aku pingsan? Namun, aku segera membuka mata ketika aku merasakan kalau ini bukanlah pingsan melainkan mas suami yang membopong tubuhku.
"Mas, kamu ngapain?" tanya dengan suara yang masih kaget.
"Hust, kamu diam saja, biarkan aku yang bekerja." Mas Gala langsung membawa tubuhku yang hanya terlilit handuk ke kamar mandi.
"Terima kasih Mas, tapi bisa keluar dulu sebentar. Tia mau mandi dan...." Kembali ucapan aku terhenti ketika Mas Gala meletakan jari telunjuknya di depan bibirku yang masih bersiap untuk ngomong.
"Buka saja handuknya, kita mandi bersama, dan Mas bakal gosok punggung kamu dan rambut kamu. Kamu cukup duduk saja," ucap kang mas bojo, yang langsung aku menggelengkan kepalaku dengan pelan. Sebagai penolakan kalau aku tidak mau mandi bareng dengan mas suami.
"Loh kenapa? Ini hanya mandi saja Tia, Mas itu hanya kasihan dengan kamu yang pasti cape, dan sakit. Biar Mas bantu untuk menggosok tubuh kamu," ucap Mas suami dengan suara yang lembut, tetapi aku yang memang masih belum terbiasa tetap bersikeras juga tidak mau mas suami membantu aku mandi.
"Mas, tolong. Biar Tia mandi sendiri saja. Sakit seperti ini bukanya hal yang wajar, setiap wanita pasti mengalaminya, jadi biar Tia mandi sendiri yah. Mungkin nanti kalau sudah terbiasa biasa kita bisa mandi bareng, tapi untuk kali ini Tia benar-benar masih malu, tolong" ucapku dengan pandangan mata yang mengiba.
"Ya udah, kalau gitu Mas tunggu di luar, tapi nanti kalau kamu butuh sesuatu jangan sungkan panggil Mas, dan minta bantuan Mas."
Aku pun membalas dengan anggukan kuat, sebagai jawaban kalau aku tidak akan pernah malu dan juga aku tidak akan sungkan meminta bantuan mas suami kalau butuh sesuatu.
Meskipun dalam batinku tetap saja aku merasakan malu kalau harus meminta tolong, mas suami apalagi urusan yang bisa dibilang sensitif aku belum terbiasa.
__ADS_1
Akhirnya setelah aku menunjukan wajah memelas Mas suami pun mau mengurungkan niatnya untuk mandi bareng. Ya, mungkin bagi mas suami hal seperti ini wajar, tapi untuk aku yang tidak terbiasa pasti malu dan malah jadi tidak leluasa mandinya.
Aku merasa sangat beruntung karena ternyata laki-laki yang sudah sah menjadi suamiku itu sangat romantis dan juga sangat baik, lembut dan tidak kasar, tidak memaksakan kehendaknya.
Aku meringis saat buang air kencing. Oh, ternyata untuk merasakan surga dunia yang kebanyakan orang katakan sangat nikmat saja harus melewati rasa sakit dulu.
Yah, tidak salah sih kalau ada laki-laki yang mau membayar mahal hanya untuk menikmati wanita yang masih perawan, karena melepas keperawanan nyatanya sangat sakit, dan itu pasti akan aku ingat sepanjang hidupku. Kenyataannya memang di dunia ini tidak ada yang benar-benar langsung enak, pasti akan ada sakit dulu baru enak.
"Sayang, kamu apa baik-baik saja di kamar mandi?" tanya Mas suami yang mungkin aku terlalu lama di dalam kamar mandi. Sebenarnya aku sudah lama selesai mandi tapi aku malu kalau harus ke luar kamar mandi, cara jalan aku yang aneh pasti bakal ditertawakan oleh kang mas bojo.
"Udah Mas, Tia sebentar lagi keluar," jawabku dari balik pintu.
Begitu aku keluar, mas suami pun langsung bergantian untuk masuk ke dalam kamar mandi, karena matahari sudah hampir menampakan cahaya cerahnya, yang artinya nanti malah Mas suami tidak kebagian waktu beribadah, dan penyebabnya adalah aku. Dan dosanya tentu nanti jadi dosaku.
"Nanti Mas sudah mulai kerja, dan kamu jangan ke rumah Momy dulu istirahat di sini, nanti bahak ada Ica yang temenin kamu," ucap Mas suami begitu sudah selesai beribadah, sedangkan aku duduk dan membaca buku-buku tentang islam, koleksi pribadi mas suami.
"Ica siapa Mas?" tanyaku yang belum begitu kenal dengan penghuni rumah ini apalagi kemarin kami cukup sibuk sehingga tidak keburu untuk berkenalan.
"Ica, asisten rumah tangga di sini, dan usianya mungkin tidak jauh dari kamu, dan nanti bisa diajak curhat sama kamu. Agar kamu tidak kesepian.
__ADS_1
"Oh, kirain siapa. Tapi memang Mas harus banget yah berangkat kantor hari ini? Tia pikir akan ambil cuti," balasku yang jujur dalam hatiku lagi-lagi ada sedikit kesedihan, ketika orang lain saat menikah maka akan ada waktu kebersamaan, nah ini hari kedua nikah sudah langsung kerja. Udah gitu juga semalam mas suami tidur cukup larut karena kembali mengurus pekerjaannya.
"Kenapa? Pasti masih kangen yah?" goda Mas suami. Ya jelas iya lah masih kangen, tapi aku juga tidak boleh egois, aku harus tahu kalau aku menikah dengan orang sibuk. Maka akan banyak waktu yang harus aku mengerti karena tidak bisa bersama, karena urusan pekerjaan.
"Bukan gitu hanya tanya saja, tapi Tia tahu kok Mas itu banyak kerjaan, dan hubungan kita juga masih backstreet," balasku dengan menarik bibir tipis. Agar mas suami tahu kalau aku baik baik-baik saja.
"Maaf yah, Mas janji perlahan akan mencoba berbicara dengan Kakek, dan mudah-mudahan Kakek, mengerti dan menghargai keputusan Mas, setelah dua kali Mas gagal dalam urusan rumah tangga yang di jodohkan oleh Kakek." Mas Gala duduk di sampingku dan menggenggam tanganku, serta mengusap punggung tangan ini dengan lembut.
"Gak apa-apa Mas, pelan-pelan saja. Tia tahu kalau Kakek memang wataknya sedikit keras sehingga lebih baik pelan-pelan yang penting pasti," balasku, kasihan juga kalau kang mas bojo sampai tertekan dengan hubungan kami yang belum juga direstui.
"Terima kasih yah, kamu sudah mau mengerti posisi Mas. Kalau gitu kamu diam saja di sini, untuk kali ini biarkan Mas yang siapkan sarapan untuk nyonya Gala,"
Tanpa menunggu jawaban dariku Pak Gala pun langsung beranjak untuk keluar kamar dan menyiapkan sarapan, padahal tidak usah harus repot-repot aku masih bisa melakukanya sendiri, tapi aku pun tidak bisa memungkiri kalau aku senang dengan perlakuan mas suami.
"Kapan lagi dilayani oleh suami, seperti ini."
Bersambung....
...****************...
__ADS_1