
"Kamu, jangan ambil hati yah omongan Tante Mixel, dia memang gitu kalau ngomong suka asal. Mungkin karena terlalu dimanja oleh Kakek jadi berasa besar kepala," ucap mas suami ketika kita sedang dalam perjalanan kembali ke rumah Momy.
Aku memalingkan pandangan pada Mas Gala, dan memberikan senyum terbaik dengan tatapan yang teduh, bagaimanapun aku tidak mau Mas Gala beranggapan kalau aku marah atau sakit hati dengan ucapan Tante Mixel, memang aku masih sakit hati saat dulu dia adalah yang paling bersemangat untuk memisahkan aku dengan mas suami, tapi untuk sekarang setelah tahu status wanita itu yang sebagai istri muda dari papi mertua aku tidak ambil pusing, anggap saja mulut rombeng sedang bernyanyi.
"Mas Gala itu kaya baru kenal Tia aja, jangan lupa dulu Tia juga pernah menghadapi wanita yang kelakuannya melebih Tante Mixel, bahkan tidak jarang Tia dulu sering terlibat pertengkaran dengan orang itu. Mbak Fany itu kalau ngomong jauh lebih menyakitkan dari pada Tante Mixel, tapi Tia tetap santai bahkan tidak ambil pusing, jadi sekarang juga Tia akan lakukan yang sama. Anggap saja hiburan, apalagi Tia sudah lama tidak meladeni wanita seperti itu jadi berasa nostalgia," jawabku setengah berkelakar.
"Kamu itu memang aneh, tapi aku juga nggak tahu bisa suka orang aneh kayak gini," balas Mas suami dengan mengusap pucuk kepalaku.
"Mas ah, kerudung Tia berantakan," rengekku seperti suara anak kecil.
"Ih, suaranya gelai banget, kaya diapain aja. Kalau diapa-apain aja nggak merengek gitu." Mas Gala justru kembali mengusap-usap pucuk kepala hingga hijab ku berantakan.
"Mas ngomong-ngomong sekarang kan Kakek sudah tahu hubungan kita dan bisa dikatakan Kakek juga sudah sedikit memberikan lampu kuning untuk kita, ya mungkin bisa diartikan sudah dapat restu meskipun baru secuil. Bagaimana kalau Tia besok ikut ke kantor? Tia ingin main ke rumah Misi kangen banget sama anak itu," ucapku sembari menunjukan wajah memohon.
"Emang kangen banget?" tanya Mas suami dengan tatapan meledek.
"Kangen pake banget Mas, dulu Tulip sama Misi adalah orang paling baik dan susah senang bersama, apalagi pas Tia mau mudik mereka secara bersamaan patungan bayarin, barang-barang Tia untuk ongkos, maklum tabungan Tia habis untuk modal kondangan di acara pernikahan Yuda, udah gitu hanya punya waktu kerja sampai dipecat oleh Kakek hanya empat bulan, sebagian dikirim ke kampung, untung ada mereka jadi untuk ongkos pulang ada pegangan lebih, sekarang pengin gosip-gosip lagi kaya dulu dari sore sampai malam kerjanya ngomongin ngalor ngidul. Pokoknya kalau ada waktu yang boleh untuk diulang pengin deh ngulang masa-masa kost bareng sama mereka berdua."
__ADS_1
Aku sudah membayangkan bagaimana kalau nanti ngadain reuni, apalagi Tulip sudah punya anak dan aku sama Misi sudah menikah pasti bakal banyak yang diomongin.
Bayangkan saya aku tidak ketemu dengan mereka lagi sudah lebih dari tiga tahun dan itu untuk aku sudah sangat lama, meskipun masih berhubungan melalui telepon tapi beda kalau bertemu pasti banyak yang dibahas.
"Emang Misi sama Tulip udah nikah?" tanya mas suami.
"Yah Mas mah ketinggalan jaman, Tulip sudah punya anak, dan kalau Misi udah nikah tapi kayaknya belum punya anak sih."
"Mereka masih tinggal di kosan kamu yang dulu itu?" tanya Mas suami lagi, perjalanan pun makin tidak berasa karena kami membahas hal-hal yang ringan dan menyenangkan.
"Ya udah kalau gitu besok kamu boleh ikut ke kantor."
Aku langsung memalingkan pandangan dan duduk menghadap mas suami.
"Ini beneran Mas?" tanyaku untuk memastikan lagi.
"Iya, masa Mas bohong sih, lagian kamu juga pasti bosan di rumah terus, kalau kamu mau tiap hari juga boleh temenin Mas kerja, malah kalau ditemenin kerja sama kamu pasti makin semangat."
__ADS_1
"Ya jangan tiap hari juga Mas, kalau setiap hari gantian Tia dong yang bosan," ucapku dengan kembali duduk dengan posisi sebelumnya.
"Kan kamu juga bisa nonton drama kesukaan kamu itu bisa istirahat dan juga bisa ngapain aja."
"Ah, kalau Mas Gala mau setiap hari ditemani Tia, bagaimana kalau Tia juga kerja lagi di kantor Mas." Aku memberikan senyum semangat.
Bukanya aku dapat izin malah mas suami menatapku tidak suka.
"Jangan macem-macem deh kerjaan kamu cukup layani suami, bikin suami bahagia, bukan ngurusin kerjaan kaya gitu."
Bersambung...
...****************...
Sembari nunggu kisah kelanjutan Tia dan Pak Gala, yuk mampir ke novel bestie othor yah dijamin bikin baper...
__ADS_1