
Sungguh aku sangat merasa hari-hari yang telah berlalu sangat berwarna, ada lelah bersama rezeki yang Tuhan titipkan. Bertahun-tahun diliputi tawa dan kesedihan, yang menjadi saksi atas perjalanan kehidupan. Ku hempaskan problematika dengan penuh keikhlasan, agar tak menjadi beban. Tahun ini ku rajut hikmah, ku syukuri umur yang masih terjaga, semoga waktu yang akan terlewat akan penuh dengan hikmah.
Waktu berlalu terlalu cepat rasanya aku baru saja terpejam, tetapi jeritan dari alarm sudah menggelitik telingaku. Meskipun rasa malas masih menyelimutiku terlebih aku baru saja terpejam ketika jam sudah menunjukan pukul dua dini hari. Aku baru saja istirahat tiga jam, tetapi kini aku harus tetap menyibakkan rasa malas dan segera menyembah Tuhan ku untuk mengadukan semua yang baru saja terjadi pada hidupku, dan meminta petunjuk darinya untuk menghadapi hidup yang misterius ini.
Setelah membersihkan tubuh dan melaksanakan kewajibanku, seperti biasa aku akan mulai menyiapkan sarapan dan bersih-bersih rumah ini. Pagi ini aku mulai dari mencuci pakaian yang cukup banyak sisa pakaian Pak Gala yang dari rumah sakit dan juga seprei-seprei yang kemarin belum sempat aku cuci.
"Tia, kamu sudah bangun," panggil Momy Bela, dengan suara lembutnya. Mamih Bela memang sudah biasa bangun di awal hari dan akan membantu pekerjaanku. Apabila aku larang, beliau akan beralasan tidak biasa apabila hanya berdiam diri. Yah, untung di aku sih, pekerjaan aku jadi lebih ringan.
"Udah Mom, Tia sedang nyuci pakaian," jawabku setelah hampir selesai aku mencuci.
"Kalau cape jangan dipaksa Tia, pasti kamu semalam tidak langsung tidur yah, bisa di kerjakan nanti kalau kamu sudah merasa enakan." Kembali majikanku mengingatkan aku agar tidak memaksa bekerja apabila capek.
Aku heran hati majikanku terbuat dari apa. kenapa bisa sangat baik sekali. Di mana biasanya namanya pembantu mau cape atau tidak, maka majikan masa bodo, pekerjaan harus selalu selesai, tetapi berbeda dengan Momy Bela, yang selalu meminta aku istirahat cukup meskipun pekerjaan numpuk. Aku kadang berpikir, hidupku justru seperti majikan.
"Tidak apa-apa Mom, ini paling abis nyuci, nyapu dan ngepel nanti bisa istirahat lagi. Kalau masak dan menyiram tanaman pasti Momy Bela yang akan mengerjakannya kan?" godaku yang sudah hafal sekali kegiatan Momy Bela apabila di rumah.
"Momy ingin memasakan anak Momy saat di rumah, lagi pula jarang-jarang anak Momy ada di rumah kan? Dia akan sangat senang kalau Momy yang memasakan," balas majikanku, kalau kaya gini aku tidak bisa membantah lagi, karena pasti pekerjaan aku akan lebih banyak dikerjakan oleh Momy Bela.
Seperti biasanya kami pun terlihat dalam pekerjaan yang kompak, pekerjaan yang berat terasa ringan dan tidak usah menunggu lama menu sarapan pun sudah siap dihidangkan.
"Mom, untuk menyiram tanaman biar Tia yang kerjakan yah, Momy pasti cape sudah memasak, lagi pula Tia sudah selesai beres-beres," ucapku dengan santai, dalam hatiku ingin sekali aku bertanya kenapa Pak Gala di jam tujuh pagi belum juga bangun, jujur aku berpikir hal yang buruk ada rasa takut kalau terjadi sesuatu dengan Pak Gala. Namun aku juga tidak berani bertanya dengan majikan aku, apa kata Momy nanti kalau aku kepo dengan anaknya sedangkan Momy saja terlihat biasa saja.
__ADS_1
"Ya udah kamu yang siram tanaman. Momy akan siapkan sarapan." Mungkin Momy sedang cape sehingga mengizinkan aku menyiram tanaman kesayangannya, apabila biasanya Momy sangat sulit untuk aku menggantikan pekerjaannya. Aku akan menyirami tanaman kesayangan Momy apabila majikan aku kecapean atau ada keperluan yang mendadak.
Tanpa menunggu lama, gegas aku mengayunkan kaki ini untuk ke taman depan dan akan menyiram tanaman. Namun, baru juga tangan ini akan memegang handle pintu ternyata pintu lagi dan lagi terdorong dari luar.
Bruggghh... Untuk kedua kalinya jidat ini pun terbentur pintu.
"Awhhh.... sakit," ringis ku ketika daun pintu menguji kekuatan jidat ini.
"Loh Tia ngapain kamu di situ?" tanya Pak Gala dengan wajah cemas ketika mendengar suaraku yang nyaring karena kesakitan.
"Pak Gala ngapain di situ, bukanya masih di kamar?" tanyaku dengan tangan yang terus mengusap jidatku.
"Aku dari tadi udah bangun dan langsung jalan-jalan pagi, kenapa kangen," tanya Pak Gala dengan nada yang seperti dulu. Sekilas aku sampai merasa de javu dengan kenangan tiga tahu silam.
"Enggak nuduh, hanya nebak aja tapi biasanya tebakan aku benar, tapi itu juga kalau kamu mau mengakui, masalahnya kamu tidak mau mengakuinya, kamu selalu malu untuk mengakui perasaan kamu beda dengan Tia yang dulu, yang selalu maju lebih depan, sekarang malu-malu tapi mau," ledek Pak Gala, yang membuat aku tersinggung sedikit. Ingat hanya sedikit, lebihnya aku merasa benar. Tapi aku malu untuk mengakuinya.
"Maaf Pak Gala, Tia mau menyirami taman," ucapku sembari berjalan tanpa menunggu reaksi atau jawaban dari laki-laki yang membuat aku gugup.
"Mau ditemenin nggak?" tanya Pak Gala yang aku tahu pasti niatnya untuk mengejek.
"Tidak usah, Tia sudah biasa melakukanya," jawabku dengan ketus dan tanpa menoleh ke arah Pak Gala berdiri.
__ADS_1
"Ya, mungkin aja ingin ditemenin, dan pastinya kalau ditemenin akan sangat berbeda rasanya. Pastinya akan sangat bersemangat." Entah kenapa sekarang Pak Gala jadi berubah genit. Tiga tahun aku tidak bertemu dengan mantan kekasihku, tetapi sudah banyak sekali perubahannya. Yah sekarang jadi semakin genit dan semakin berani menggoda aku. Padahal kalau dulu aku yang sering menggoda mantan bos aku itu.
"Ngomong-ngomong sudah berapa cewek yang kena gombalan Pak Gala?" tanyaku yang merasa kalau mantan bosku itu sekarang sangat berbeda.
"Baru satu, mau tau nggak siapa orangnya?" tanya Pak Gala yang tidak jadi masuk ke dalam rumah malah memilih menyenderkan tubuhnya ke dinding rumah dengan. pandangan terus menatap aku.
"Tidak usah, kayaknya nggak penting," jawabku dengan tetap fokus dengan pekerjaan aku. Jangan sampai kalau aku tidak fokus malah tanaman terlalu banyak disiram nanti mati. Bisa-bisa majikan aku bakal marah.
"Itu sangat penting, karena wanita itu sangat sepesial."
Huh, aku mungkin lupa lagi kalau Pak Gala itu orang paling ngeyel.
"Pak Gala, tadi dipanggil sama Momy katanya diminta pasang gas," ucapku agar Pak Gala tidak menggoda aku terus, bisa-bisa kerjaan tidak selesai-selesai.
"Hah, pasang gas? Mana aku bisa," balasnya dengan mengernyitkan dahinya.
"Coba tanya Momy saja, dari pada Tia nanti kena marah." Aku terus meyakinkan kalau Momy Bela memang memanggil putranya.
Setelah aku menunjukkan wajah yang sangat serius, akhirnya Pak Gala masuk juga ke rumah dan bersiap akan masang gas.
Aku terkekeh, sebelum mungkin saja nanti bakal kenapa oceh karena sudah berbohong.
__ADS_1
Bersambung...
****************