
[Ini bukan masalah pantas atau tidak pantas Tia, tapi ini masalah apa kata tetangga. Kamu masih muda dan perawan, masa ia dapat duda, nanti tetangga pasti mengunjungi kita terus] balas Ibu dengan suara yang terdengar berat, dari balik telepon.
[Kan yang mau jalanin Tia, bukan tetangga Bu,] Ketika Ibu memiliki satu alasan untuk aku mencoba mengerti apa keputusan Ibu, maka aku juga punya satu cara untuk meyakinkan Ibu kalau semuanya akan baik-baik saja. Yah, aku akan berusaha mengertikan pada Ibu kalau Pak Gala itu baik, dan juga tidak neko-neko.
[Yah, memang yang kamu katakan ada benarnya kamu yang menjalani rumah tangga ini, tapi ketika kamu dibicarakan di sini, Ibu juga dengar Mbak, malah yang paling dengar dan kupingnya panas adalah Ibu jadi kamu jangan berbicara seperti itu, karena baik dan buruknya kamu orang tuanya yang menanggungnya," ucap Ibu, dan yang dikatakan oleh ibu itu benar.
Kini justru aku tidaklah bisa tenang mendengar jawaban Ibu, sebelumnya aku sangat bahagia ketika akan mengabarkan kalau akan ada laki-laki yang akan menikahi aku, di mana keluargaku sudah sangat berharap kalau aku menikah, tetapi setelah mendengar jawaban dari Ibu, aku jadi ragu, karena itu tandanya Ibu sepertinya tidak akan merestui hubungan aku dan juga Pak Gala.
[Jadi apa itu artinya Ibu tidak merestui aku menikah dengan seorang duda?" tanyaku dengan suara yang lirih, aku semakin tidak ada harapan kalau memang kedua orang tuaku tidak merestu itu tandanya mungkin aku memang tidak berjodoh dengan Pak Gala, apalagi hubungan aku dan Pak Gala juga tidak diresui oleh keluarga besar Pak Gala.
Aku mengusap dadaku dan mencoba menenangkan perasaan ini yang semakin tidak menentu, aku benar-benar mencoba sabar dan menerima apa pun itu, aku akan mencoba terima meskipun aku dan Pak Gala memang tidak ada jodoh nantinya.
[Ibu tidak tahu, kamu coba tanya sama Bapak kamu, kalau Bapak merestui hubungan kamu meskipun calon suami kamu adalah duda, Ibu bisa apa, tidak mungkin kalau Ibu akan keras kepala tidak merestui dan tidak setuju dengan kamu, sedangkan Bapak kamu itu setuju dengan hubungan kamu," ucap Ibu yang itu tandanya aku harus sabar untuk menunggu Bapak dan mengobrol dengan Bapak, untuk meminta izin dari beliau.
[Kalau gitu, kira-kira Ibu dan Bapak selesai dari kebun pukul berapa?" tanyaku, kembali aku dibuat penasaran dengan apa yang terjadi nanti apabila aku dan Bapak meminta restu.
__ADS_1
[Paling sebentar lagi, nanti Ibu bilang kalau kamu telpon, biar Bapak telpon kamu," balas Ibu, dengan suara yang terdengar kalau Ibu memang kurang cocok dengan pilihan suami dariku, tetapi hati ini sudah jatuh cinta pada Pak Gala sehingga aku tidak bisa diam dan pasrah begitu saja. Aku harus berusaha sekali lagi, apabila Bapak juga keberatan tandanya aku yang harus legowo.
[Ok, baiklah Bu, kalau gitu Tia pamit dulu, dan tolong sampaikan pada Bapak kalau Tia nunggu telpon dari Bapak,] ucapku dengan suara yang tetap bersemangat meskipun jawaban dari ibu cukup membuat aku kurang bersemangat.
Setelah aku memastikan pada Ibu, kalau Bapak pulang kerja maka beliau akan meneleponku. Padahal aku belum berkomunikasi dengan Bapak tetapi jujur aku semakin tidak bisa berbuat apa-apa, dalam hati, aku sudah kembali menyiapkan penolakan seperti ibu tadi.
Kira-kira aku harus segera hubungi Pak Gala, untuk mengabarkan restu yang ibu tidak berikan, terutama Ibu tidak merestui karena calon suamiku duda. Dalam hatiku bahkan merasa takut kalau hubungan aku dan Pak Gala yang diperjuangkan nyatanya tidak semanis yang aku bayangkan. Pasti Ibu akan kecewa lagi. Aku kembali terdiam.
Aku merebahkan tubuh ku yang lelah ini ke atas kasur yang empuk, bagaimana tidak lelah, akhir-akhir ini aku tidak bisa istirahat dengan tenang. Apalagi sekarang ditambah dengan penolakan dari Ibu akan jodoh yang aku pilih.
Sebelum aku mengangkat panggilan telepon dari Bapak, aku lebih dulu menyiapkan mental. Menghirup nafas dalam dan membuangnya perlahan untuk menyiapkan apapun jawaban dari Bapak.
[Hallo Pak, Ibu sudah bilang apa yang ingin Tia bahas tidak?] tanyaku dengan suara yang lemah, bahkan aku seolah kehilangan harapan, ketika Bapak lama memberikan jawaban. Mungkin ini memang tandanya aku harus kembali pergi menjauh dari Pak Gala, soal cinta bukanya pasti akan ada penggantinya ketika aku kembali membuka hati ini.
[Tia tidak memaksa Bapak dan Ibu merestui pilihan hati Tia, kalau memang Bapak tidak merestui Tia, maka Tia tidak akan keberatan, Tia tidak akan menikah,] ucapku dengan nada bicara yang pasrah.
__ADS_1
[Calon suami kamu kerja apa? Apa yang membuat kamu mau menikah dengan dia, dan dia duda umur berapa?" tanya Bapak, seperti memberikan harapan baru untuk aku. Aku mengusap dada ini, sebagai tanda kalau aku cukup lega dengan jawaban Bapak.
[E... calon suami Tia bekerja di expedisi barang Pak, dan dia hanya karyawan biasa, dan yang buat Tia mau menikah dengan dia pastinya karena baik dan tidak neko-neko, kalau umurnya sudah tiga puluh sembilan tahun,] jawabku, aku tidak ingin orang tuaku tahu kalau calon suamiku adalah orang kaya yang bisa membeli apapun dengan uang dan membuat harapan yang terlalu tinggi untuk Bapak dan juga Ibu, lebih baik mereka tahu karena Pak Gala memang baik dan bertanggung jawab.
[Tiga puluh sembilan tahun, perbedaan kalian empat belas tahun Tia? Apa umur segitu tidak terlalu tua dengan kamu?] tanya Bapak dengan kata lain beliau juga kurang setuju aku menikah dengan laki-laki yang sudah terlalu tua untukku.
[Bukankah umur tidak menjamin Pak, calon suami Tia dia lebih dewasa dan juga lebih bisa membimbing Tia, itu sebabnya Tia suka dengan dia karena Tia seperti dianggak adiknya, baik dan bertanggung jawab.] Ini adalah jurus terakhirku dan itu tandanya kalau Bapak tidak terketuk juga pintu hatinya aku sudah menyerah, tidak aka lagi berusaha untuk meminta restu dari keduanya, tandanya aku belum jodoh.
[Kalian mau nikah di mana?] Kalau bisa jangan di rumah kita, kalau di rumah orang tua calon suami kamu mau, maka lebih baik di sana saja, karena di sini tetangganya, sedikit agak julid, kalau ngomong suka sesuka sendiri. Biarkan kamu yang ke rumah calon mertua kamu biar kita tidak ada omongan yang aneh-aneh,] jawab Bapak dengan nada bicara yang pasrah aku bahkan tidak bisa berkata lagi, meskipun sedikit nyesek tapi setidaknya aku mendapatkan restu dari kedua orang tuaku.
[Apa itu artinya Bapak merestui Tia nikah dengan duda?] tanyaku untuk memastikan lagi. Aku seperti merasakan semangat baru. Ketika Bapak mengucapkan sesuatu.
"Ya Alloh semoga Bapak tidak keras kepala."
Bersambung....
__ADS_1
...****************...