Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Tentu yang Masih Terpaksa


__ADS_3

POV Gala


Meskipun aku berat meninggalkan istri tercinta, tetapi demi restu dari Kakek mulai malam ini aku akan mengikuti apa kata Papi, aku harus pelan-pelan dan tidak keras lagi menghadapi Kakek. Meskipun entah keberapa kali aku mencoba memahami bagaimana kerasnya watak Kakek. Dan dari usaha yang pernah aku coba semuanya gagal. Kakek lah pemenangnya, apakah aku kali ini juga akan gagal lagi?


Yah, meskipun dalam usaha-usaha sebelumnya, aku tidak pernah menujukan sifat kerasku, tetapi Kakek juga tidak pernah mau mengerti perasaanku.


"Gala, Kakek sudah sadar," ucap Papi mengagetkanku yang sedang duduk melamun, di ruang tunggu dengan menatap lalu lalang orang yang mulai sepi.


Aku menatap Papi dengan tatapan yang penuh arti. Rasa malas untuk menemui Kakek, karena yang sudah-sudah selalu sifat keras Kakek memenangkan semua yang jadi kehendak Kakek, tanpa mau tahu bagaimana perasaanku.


"Kamu temui Kakek dulu, jangan pernah lelah untuk berusaha. Papih dukung kamu." Hanya Papi dan Momy yang selalu mengerti perasaanku. Aku pun heran alih-alih aku adalah cucu satu-satunya dengan kata lain aku akan mendapatkan kasih sayang yang luar biasa dan apa yang aku inginkan tercapai, justru beban yang aku rasakan. Bayangkan saja apa yang aku inginkan dari jaman sekolah hingga sekarang umurku tiga puluh sembilan tahun, hampir aku tidak bisa merasakanya. Apa yang aku jalani semuanya disetir oleh Kakek.


"Terima kasih Pih." Dengan malas aku pun beranjak dari duduk dan masuk ke ruangan di mana Kakek di rawat.


Dengan terpaksa aku mengulas senyum pada Kakek yang menatapku dengan tajam. Ruangan yang penuh dengan alat medis pun kembali hening, aku tidak bisa memulai obrolan, ada rasa takut yang nanti justru membuat Kakek kembali sakit, aku hanya diam menunggu Kakek untuk memulai obrolan. Meskipun aku tahu pasti tidak akan berakhir dengan apa yang aku inginkan.


"Di mana wan- wanita itu sekarang?" Suara lemah Kakek akhirnya keluar juga. Aku mengangkat wajah dengan tatapan yang datar.

__ADS_1


"Ada dengan Momy..." jawaku seadanya, aku tidak bisa menceritakan panjang lebar dengan hubunganku dan Tia.


"Tidak ikut ke sini...?"


Aku menatap tajam pada Kakek. "Apa ini artinya Kakek menyetujui pernikahan kami?" tanyaku dengan antusias. Mungkin dari sekian banyak ucapan Kakek, baru kali ini aku merasa sangat bahagia dengan apa yang Kakek katakan.


"Papi kamu yang minta agar Kakek mencoba memberikan kesempatan itu."


Ada rasa kecewa karena ternyata restu yang Kakek berikan tidak tulus karena keinginan Kakek dari hati terdalamnya, tetapi ada Papi yang mencoba merayu Kakek hingga laki-laki yang tidak berdaya di hadapanku memberikan kesempatan itu.


"Nanti Gala akan ajak Tia ke sini. Dan mudah-mudahan Kakek bisa menerima Tia dengan tulus, karena hanya Tia wanita yang sangat Gala cintai." Meskipun aku kecewa dengan jawaban Kakek, karena beliau masih belum sepenuhnya tulus menerima Tia sebagai cucu menantunya, tetapi aku akan tetap mencoba untuk menunjukan pada Kakek, kalau pilihan aku tidak pernah salah, Tia adalah wanita yang pantas menjadi istriku, dan cucu menantu di rumah Kakek.


Glekk...


Aku menelan salivaku kasar. Belum apa-apa aja aku sudah merasakan sakit dengan ucapan Kakek, bagaimana besok kalau Tia aku ajak ke sini. Apa Kakek juga akan berbicara ketus seperti ini.


"Meskipun Tia bukan terlahir dari golongan orang kaya, seperti mantan Gala, tetapi kalau soal mandiri Tia sangat mandiri, banyak nilai positif yang Gala ambil dari wanita itu, dia tidak pernah memanfaatkan Gala."

__ADS_1


Yah, jelas bagiku sebagai wanita Tia sudah sangat mandiri, tetapi aku tidak tahu tingkat mandiri dalam versi Kakek itu seperti apa? Apakah harus yang memiliki penghasilah tinggi melebihi penghasilanku, seperti para mantan istriku, atau justru yang seperti apa?


"Itu di mata kamu, bukan di mata Kakek."


Aku menatap Kakek. "Gala akan mengajak Tia untuk menjenguk Kakek, sekaligus memperkenalkan istri Gala, tapi sekali ini saja Gala minta agar Kakek bisa menjaga cara bicara Kakek. Tia juga manusia jangan Kakek hina terus karena nasib dia yang tidak seberuntung para mantan Gala, setiap manusia diciptakan dengan segala kekuranagn dan juga kelebihanya. Mungkin Tia tidak beruntung dalam segi materi, tetapi dia beruntung dalam segi hati, dia adalah wanita yang bisa menghormati Gala dengan sangat baik, dan apabila Kakek menghina Tia, itu tandanya Kakek juga menghina Tuhan, karena rezeki sudah diatur oleh Tuhan, tidak seorang pun di dunia ini yang ingin hidup dengan kekurangan harta."


"Yah kamu memang benar, kalau rezeki sudah diatur oleh Tuhan, tetapi kamu juga harus tahu kalau Tuhan memberikan kesempatan pada hamba-Nya untuk bekerja dan merubah apa yang sudah Tuhan tetapkan."


Kembali aku tersenyum masam. "Yah, apa yang Kakek katakan lagi-lagi benar, tetapi Kakek juga perlu tahu ada seseorang yang tidak seberuntung kita, meskipun mereka sudah bekerja lebih keras dari kita, lebih berat dari kita, jadi kita tidak boleh menghina mereka yang kurang beruntung karena mereka juga punya hati, jangan sampai apa yang jadi kesombongan kita justru suatu saat jadi mara bahaya untuk kita."


Bisa aku lihat kali ini Kakek hanya diam.


"Bukan maksud Gala menasihati Kakek, karena Kakek pastinya jauh lebih tahu dengan apa yang Gala katakan. Sebagai cucu Gala hanya ingin kita hidup damai, dan saling menghargai dan menerima apa keputusan satu sama lain, jangan memaksakan kehendak yang tidak sesuai dengan jalan pikiran orang lain. Gala berharap ini adalah perselisihan terakhir kita setelah ini Gala berharap kalau Kakek bisa menerima Tia, dia wanita baik dan tidak pernah meminta yang aneh-aneh, meskipun dia tahu kalau Gala bisa memberikan apapun yang dia minta."


"Semoga saja apa yang kamu katakan benar, dan semoga Kakek tidak kecewa karena sudah berusaha menerima dia."


Meskipun jawaban Kakek masih sedikit tidak meyakinkan, tetapi aku cukup tenang, tidak apa-apa pelan-pelan saja yang penting Kakek sudah ada kemauan untuk menerima istriku.

__ADS_1


Bersambung....



__ADS_2