Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Nikmatnya Punya Teman


__ADS_3

"Ngomong-ngomong, Tia kamar lu kok bau makanan sih. Mana wanginya enak banget sampai cacing pada memanggil minta diisi," ucap Misi sembari mengendus endus aroma makanan yang hampir mengkontaminasi ruangan kosan ku.


"Ah loh mah Mis, bikin malu ajah. Bukanya kita tadi udah makan mie selera rakyat bareng, segala mengendus yang aneh-aneh," balas Tulip dengan menepuk paha Misi.


"Laga banget lu, abis ini juga palingan lu maju duluan." Misi pun nggak mau kalah, dan seperti biasa Tulip akan tertawa dengan renyah, karena yang dikatakan Tulip adalah suatu sendirian untukku, dan aku sudah sangat hafal sekali.


"Oh iya itu Mis, ada makanan dari Pak Gala. Mana banyak ayo makan bersama," balasku dengan menunjuk makanan yang aku letakan di meja.


"Serius Tia, uh kamu memang baik banget. Eh, salah maksudku Pak Gala memang baik banget. Enggak salah lah lu deket dengan bos besar, setidaknya dapat makan enak dan gratis lagi." Tulip pun memelukku yang masih duduk dengan malas, sedangkan Misi sibuk menyiapkan piring dan juga makanan yang ternyata bebek bakar sambel bajak. Pantas saja hidung temanku langsung tajam emang dari aromanya aja sudah terkenal dengan makanan enak.

__ADS_1


"Wah, kalau tiap malam dapat kiriman makan kaya gini gue sih ridho Tia pacaran sama Pak Gala," seloroh Misi ketika membuka makanan yang memang sepertinya di sengaja untuk tiga orang. Buktinya nasi juga ada tiga bungkus dan bebek bakarnya satu ekor dengan ukuran besar.


"Kalau gantian tiap hari kerjanya gimana, gue di bawah lu di atas," balasku dengan menaik turunkan alisku sembari tersenyum penuh bujuk rayu.


"Enggak-enggak, kalau itu mah gue nggak setuju. Pokoknya setelah lu sembuh balik lagi lu ke atas. Pak Gala nggak ada pawangnya serem ngamuk mulu. Apa lu nggak kasihan sama yang lain kena marah terus tanpa sebab," balas Misi, entah bener atau tidak tetapi cukup membuat aku terkekeh karena ucapan Misi.


"Kata siapa Pak Gala suka sama gue? Kalian nggak tahu kan Pak Gala itu ngelakuin ini semua bukan karena dia suka sama gue Tulip, Misi. Yang Pak Gala lakuin karena beliau sudah anggap gue teman," jadi lu pada jangan berpikiran lebih dah. Gue nggak mau berharap lebih lagi. Untuk saat ini dan kedepannya, gue hanya teman kerja, atasan dan bawahan. Lu semua tahu kan kalau gue itu orang yang gampang banget baper. Baru ngomong lu itu lucu, cantik, gemesin, dan seru. Gue anggapnya tuh cowok udah suka sama gue," balasku yang kada punya sifat buruk banget, ingin cuek gitu kalau ada yang muji setinggi gunung, tapi nggak bisa tetap saja gede rasa, dan pikiranku menebak yang tidak-tidak.


"Ya udah kamu yang sabar yah, apapun yang lu lakuin gue setuju. Gue juga nggak ingin lu patah hati lagi, apalagi sampai stres. Mending lu makan dah, ini enak banget. Masalah Pak Gala biarin berjalan seperti air, dan masalah Yuda dan Bu Fany, kita hempaskan bersama. Sekarang kalau Bu Fany macem-macem sama lu, bilang aja kita-kita akan berdiri buat lu," balas Misi dengan bibir terus mengunyah.

__ADS_1


Aku pun tersenyum, yah  jujur rezeki paling nikmat adalah dapat teman seperti mereka. Karena mereka selalu kompak, apalagi ketika aku berulang kali cerita kalau Bu Fany sudah dua kali menemui aku nuduh dengan hal yang tidak-tidak, Tulip dan Misi pun nggak tinggal diam, dia siap bantu kalau Bu Fany ganggu aku lagi.


Untungnya sampai sekarang Bu Fany nggak nemuin aku lagi, mungkin dia sudah kapok, atau memang sudah sadar kalau aku sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan suaminya.


Malam ini aku pun ditemenin oleh Tulip dan juga Misi, meskipun kadang dua teman itu ngeselin, kalau ngomong nggak disaring. dulu, jujur pake banget, tapi kalau aku lagi sakit gini mereka kampak kerokin, pijitin, dan juga menghibur pokoknya terbaik deh. Aku jadi nggak sedih lagi karena sakit jauh dari ortu.


Ya meskipun berisik sih, kuping sampe panas dinasihati terus, tapi itu karena aku yang bandel kadang malas banget untuk makan dan juga selalu bergadang entah mikirin apa, tapi seolah sudah jadi kebiasaan kalau malam sulit tidur. Akibatnya aku pun yang hampir tidak pernah sakit, tumbang juga. Dan paling sedihnya sakit di rantau yang jauh dari orang tua. Dengan adanya sakit ini aku jadi semakin bersemangat untuk menjaga kewarasan ku agar tidak jatuh sakit lagi. Minimal makan teratur dan tidur cukup.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2