Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Momen Terakhir Bersama Sahabat


__ADS_3

"Tia, lu kenapa?" Suara yang sangat dikenal membuat aku menghentikan aktifitas ku yang tengah merapihkan pakaian seragam, dan juga merapihkan barang-barangku.


"Tia, lu di pe..."


"Hust.... jangan berisik. Nanti akan gue ceritakan di kontrakan. Sekarang pura-pura tidak tahu saja," ucapku dengan meletakan jari telunjuk di depan bibir, agar Misi jangan melanjutkan ucapanya yang menimbulkan keributan nantinya. Bukan karena aku yang malu karena di pecat bukan, tetapi aku yang tidak mau kalau akan banyak gosip dengan pemecatan aku dan Pak Gala di luar kota akan tahu permasalahan aku di sini, yang ada akan membuat konsentrasi kerjanya terganggu.


"Jadi benar apa yang gue takutkan terjadi." Misi yang masih penasaran pun melanjutkan ucapannya, tetapi setengah berbisik, dan aku hanya membalasnya dengan anggukan yang menandakan kalau apa yang dia ucapkan itu memang benar adanya, apa yang dia khawatirkan terjadi.


Sakit memang, tetapi setidaknya jauh lebih sakit atas apa yang dilakukan oleh Yuda. Patah hati aku kali ini bukan karena Pak Gala yang selingkuh ataupun tidak setia, tetapi ini soal restu, si kaya dan si miskin yang sampai kapan pun akan ada jarak yang seolah mejadi belenggu yang terus menguasainya.


"Jangan berisik yah, sekarang gue akan pulang. Dan kita bertemu di kontrakan," ucapku sembari memeluk sahatku itu. Rasanya yang paling berat untuk meninggalkan kota ini adalah teman-temanku yang sering bikin rusuh dan selalu berantem terus, tetapi mereka adalah teman terbaik ku.


"Gue dan Tulip akan segera pulang. Kami hari ini tidak akan mengambil lembur," balas Misi ketika aku pulang lebih dulu, dan seperti biasanya aku hanya membalas dengan anggukan yang samar.


Di saat aku pulang lebih awal banyak yang bertanya kenapa dan lain-lain mereka tentu merasa aneh seorang Tia, yang pekerja keras pulang lebih awal dengan wajah yang masam.


"Tia,  kamu kenapa pulang duluan, sakit?"


"Tia, kamu kenapa izin, sakit kamu kambuh lagi? Dan masih banyak pertanyaan 'kenapa' yang lainya yang hanya aku balas dengan anggukan, agar tidak menimbulkan banyak gosip. Meskipun aku tahu seiring berjalanya waktu, mereka pasti akan tahu kenapa aku tidak kembali lagi bekerja di tempat yang sudah dua tahun menjadi tempat aku mengais rezeki. Dari pertama kali aku menginjakan kaki di Ibukota tempat ini adalah tempat pertama yang mengajarkan aku mendapatkan banyak pengalaman dan teman yang perduli. Tempat yang mengajarkan aku mengenal kerasnya kehidupan.


Aku membuang nafas kasar ketika tubuh ini mulai meninggalkan kantor dengan empat lantai itu. Untuk terakhir kalinya aku pun menatap bangunan yang selama ini menjadi tempat aku mengais rezeki. tanpa sadar aku pun meneteskan air mata, ini adalah terakhir kalinya aku menginjakan kaki di temapt ini. Setelah ini aku akan kembali ke kampung halaman. Menepati janjiku pada kakek dan juga ibu dari Pak Gala.

__ADS_1


"Jangan-jangan Pak Gala pergi ke luar kota adalah rencana dari keluarganya agar bisa menyingkirkan aku?" Sepanjang perjalanan pulang aku pun terus memikirkan hal itu sebenarnya itu mungkin saja terjadi mengingat apabila Pak Gala di sini pasti mereka akan sangat sulit untuk menemui aku. Itu karena hampir setiap pulang dan pergi kerja aku selalu diantar oleh Pak Gala, dan apabila sudah di kontrakan aku akan sangat jarang ke luar kecuali ke kontrakan Misi atau Tulip.


"Terus tadi Tuan Piter dan ibu dari Pak Gala mengatakan kalau Pak Gala adalah orang yang pernah gagal dalam menjalani rumah tangga dengan kata lain Pak Gala adalah duda, tapi kenapa selama ini Pak Gala tidak menyinggung tentang statusnya?" batinku lagi, bahkan saking aku tidak fokus berjalan beberpa kali aku dikelakson oleh sepeda motor karena jalan meleng. Mungkin mereka mengira kalau aku akan bunuh diri. Tenang Pak, saya nggak sesempit itu kok pikiranya, ini hanya galau sedikit saja.


Sesampainya di kontrakan dengan peluh yang bercucuran, karena perjalanan kantor dan kontrakan yang cukup memakan waktu, belum sinar mata hari sedang panas-panasnya. Aku menyeka peluh dan duduk termenung dengan nafas yang masih tersengal karena cape.


Pandangan mataku pun tertuju dengan perabotan yang sudah hampir penuh. "Perabotan sebanyak ini aku akan titipkan ke siapa? Tidak mungkin kalau di bawa pulang kampung, yang lain pasti akan curiga kalau aku tidak akan kerja di sini lagi, sedangkan kata Tuan Piter aku diminta pergi menghilang dar Pak Gala tanpa adanya jejak."


"Misi dan Tulip, apa aku titipkan barang-barangku pada Misi dan Tulip yah?" Aku pun bergumam seorang diri sebelum akhirnya aku tertidur karena cape.


"Tia... bangun lu hutang penjelasan sama gue." Telingaku tergelitik dengan suara yang sudah sangat aku kenal. Meskipun mataku masih berat dan ngantuk yang masih menyelimutiku, aku pun terpaksa bangun dan menatap Misi dan Tulip sudah di hadapanku dengan tatapan yang seolah tengah mengulitiku.


"Kalian bawa makanan nggak, gue laper," ucapku membuat suasana yang tegang agar mencair.


"Hemzz... nggak usah di bahas lah. Tolong masalah ini hanya kita aja yang tahu yah. Gue nggak mau nanti Pak Gala tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini dan Pak Gala nanti tidak fokus kerja di kota lain yang sulit sinyal itu," ucapku dengan nada bicara yang lirih.


"Ya Allah, kenapa mereka tega banget sih. Padahal lu dan Pak Gala itu kan saling cinta, dan gue rasa hubungan lu dan Pak Gala tidak mengganggu mereka, tapi kenapa mereka sensi banget." Kini Misi yang sejak tadi menyimak saja pun langsung angkat bicara dengan kasus yang menimpaku.


Aku pun menarik bibir ini dengan getir. "Itu kata lu tidak mengganggu, kalau kata mereka ini sangat merusak nama baik mereka. Lagian yang mereka lakuin itu mungkin sudah yang terbaik untuk Pak Gala, tidak mungkin mereka mau bersusah-susah menemui gue kalau yang mereka lakukan bukan untuk kebaikan Pak Gala dan mereka."


"Lu mah kebaikan Tia, jadi mereka ngelunjak, kalau gue jadi lu mah tetap bertahan karena yang namanya cinta harus diperjuangkan." Tulip justru terlihat sangat kecewa dengan keputusanku.

__ADS_1


"Udah ah, jangan bahas masalah ini lagi. Lebih baik kalian buatkan gue seblak kih, ini adalah hari terakhir gue di sini. Kalian bikinkan seblak untuk kenangan terakhir kita. Laper banget gue dari pagi baru sarapan aja, siang hari boro-boro pengin makan udah kecapean jalan dari kantor sampai kontrakan berasa di jemur cape banget." Aku meminta agar Tulip dan Misi membuatkan makanan yang tempo hari mereka buat, tapi tidak membagi ke aku sehingga dari pada aku kepikiran terus aku pun ingin mereka membuatkan untukku sebagai kenangan untuk yang terakhir kalinya.


"Yeh, kemarin ajah lu bilang kalau seblak sudah bukan tipe makanan lu, tapi sekarang malah minta dibuatkan, dasar manusia tidak punya pendirian," dengus Misi tetapi mereka akhirnya bangun juga karena tidak mau lihat aku bersedih karena apa yang aku inginkan tidak terpenuhi.


"Ya elah itu kan kemarin pas gue udah jadi orang kaya karena punya pacar orang kaya, sekarang  gue udah balik kismin," balasku dengan setengah berkelakar.


Aku pun cukup terhibur dengan keseruan Misi dan Tulip yang heboh membuatkan aku seblak ala dua sohibku yang sebenarnya ilmu masak mereka itu pas-pasan, ya sebelas dua belas dengan aku.


Aku pun beberapa kali mengabadikan keseruan Tulip dan juga Misi saat masak seblak yang lebih dominan ke kerupuk rebus dan juga rasanya jangan ditanya dari penampilanya sih ok, tetapi rasanya  sangat unik. Antara cikur dan cabe yang tidak kira-kira lebih bisa diartikan kalau yang aku makan itu adalah kuah cabe.


"Tara... ini adalah seblak buatan Miss Misi dan juga Miss Tulip," ucap Misi dan Tulip saat menyodorkan seblak satu baskom yang cukup menggoda mata.


"Waw, terima kasih sahabatku, ini adalah kenangan terindah yang tidak akan pernah gue lupakan, gue di perlakukan sangat sepesial oleh kalian," ucapku dengan bersiap mencicipi masakan ala Miss Misi dan juga Miss Tulip.


Uhukkk... Uhukk... Aku justru baru mencicipi kuahnya langsung tersedak. "Tulip, Misi lu pada mau bikin sakit gue kambuh lagi yah?" Kedua mataku langsung melebar sempurna ketika mencicipi rasa seblak yang tidak karuan hanya rasa pedas, pantas saja sejak bikin hidungku terasa panas mencium aroma masakan yang Tulip dan Misi buat.


"Ini kerjaan Tulip, katanya kalau bikin seblak tidak pedas kurang mantap,"  ucap Misi dengan menujuk Tulip yang terlihat santai saja.


"Tapi lu juga yang bilang kurang-kurang terus, alhasil gue tambahin lagi cabenya, kan gue mah gimana lu yang nyicipin," bela Tulip alhasil seblak itu di makan Tulip dan Misi yang mana mereka memang sangat doyan dengan makanan pedas itu, sedangkan aku memilih masak orek-orek telur.


Tidak masalah hasil masakan Misi dan Tulip aku tidak bisa menikmatinya, yang penting kenangan ini tidak akan pernah aku lupakan, di mana ini adalah hari terakhir aku akan ada di kontrakan ini, entah aku akan kembali bertemu dengan mereka lagi atau justru ini adalah pertemuan kami untuk terakhir kalinya.

__ADS_1


Bersambung...


...****************...


__ADS_2