Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Keisengan Mas Bojo


__ADS_3

Setelah makan malam, dan pasokan energi aman, kami pun langsung naik ke kamar, bersiap untuk istirahat.


"Mas, mau mandi?" tanyaku begitu kami masuk ke dalam kamar dan mas suami langsung membuka pakaiannya.


"Iya gerah lagian kalau nggak mandi nanti kamu ngeluh bau lagi. Apa kamu mau ikut mandi lagi." Ah, tidak ada hentinya mas suami kasih-kasih kode, dan meledek ku.


Aku pun hanya membalas dengan mencebikkan bibir, tanda aku tidak setuju dengan ide Mas suami.


Jujur perasaan aku sangat tidak karuan, aku bingung harus berbuat apa ini adalah pertama bagiku, mana malam pertamanya dengan bos besar ku dulu, aku takut mengecewakan karena aku yang tidak pandai memberikan pelayanan yang memuaskan. Pak Gala adalah laki-laki yang sudah berpengalaman, menikah pun sudah dua kali, dengan kata lain pasti sudah pernah merasakan kenikmatan dari wanita lain, dan pastinya bisa membandingkan mana permainan yang memuaskan dan mana yang tidak. Aku tak jadi kepikiran kalau aku hanya akan membuat kecewa.


Selama Mas suami di kamar mandi aku pun mencari tahu lewat internet bagaimana cara memuaskan suami, aku sering mendengar dari sosial media kalau namanya suami itu bisa dibilang selera bercintanya benar-benar tinggi, aku juga dengar dari Momy Bela kalau suami paling senang istri yang bisa melayani sepenuh hati di atas kasur.


Gllekkk... aku menelan saliva dengan kasar ketika melihat mas suami ke luar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk di bagian bawah perut sehingga tubuh yang six pack pun menjadi pemandangan yang menggoda iman, dan imin ku. Aku wanita normal yang ingin juga merasakan surga dunia.


"Tidak usah tegang, bawa santai saja, aku tidak buas kok, sudah jinak." Mas suami seolah sangat senang ketika melihat aku yang tegang dan bersembunyi di balik selimut tebal ku.


"Mas, kira-kira menurut Mas, lebih baik Tia kabarkan Tulip dan Misi tidak kalau kita sudah menikah?" tanyaku yang mencoba mengalihkan ketegangan, meskipun aku yakin Pak Gala tetap tahu kalau aku sedang mencoba mengalihkan situasi yang canggung.


Mas suami justru berjalan dengan santai ke arah tempat tidur, dan memberikan handuk kecil yang ada di tangannya ke arahku, dan mengabaikan pertanyaanku. Kan, dia tahu kalau aku hanya berusaha mengurangi kegugupanku. Aku yang tidak tahu maksudnya apa pun menerima saja.

__ADS_1


"Tolong keringkan rambutku," ucap Mas suami sedangkan laki-laki yang pagi tadi sudah menikahi aku pun duduk di samping tempat tidur dengan rambut yang masih basah.


"Loh, emang Mas nggak bisa keringkan sendiri?" tanyaku, sembari kembali mengulurkan handuk yang baru saja diberikan oleh Pak Gala.


"Bisa, tapi rasanya akan beda kalau yang mengeringkan adalah istri, apalagi pengantin baru, anggap saja ini pemanasan," balas Mas suami, yang membuat aku mau tidak mau harus mengikuti apa kata suami. Pahala jaminannya, itu yang Momy Bela selalu katakan, di mana membuat hati mas suami bahagia maka surga jaminanku.


"Apa setiap mantan istri mas suami selalu seperti ini?" tanyaku kepo, meskipun aku tidak suka kalau Mas Gala membahas wanita lain apalagi yang sudah jadi mantan tapi rasanya jiwa penasaranku selalu ingin tahu dengan apa yang terjadi dengan mas suami dan para mantannya.


"Mantan istri sebelumnya, dua-duanya adalah hasil perjodohan. Aku tidak akan katakan perlakukan aku dengan para mantan, tapi kamu bisa bayangkan sendiri ketika kita menikah dengan orang yang tidak kita kenal sebelumnya, dan kita tidak mencintai, apa mungkin bakal bersikap manis seperti ini? Bahkan untuk bertegur sapa pun bisa di hitung," jawab Mas suami, yang entah mengapa jawaban seperti itu membuat aku merasakan nyaman dan senang.


"Tia tidak tahu, makanya Tia tanya, tapi kalau Mas suami merasa keberatan jangan di jawab, karena Tia juga takut malah nantinya cemburu," balasku dengan tangan terus menggosok rambut Mas suami yang wangi. Mungkin ini adalah interaksi aku dan mantan atasanku paling dekan, jangan ditanya bagaimana perasaan ku saat ini yang jelas jantungku semakin deg-degan.


"Sudah kering Mas?" ucapku sembari memberikan handuk kecil ke tangan Mas Gala.


"Kamu sudah siap kan?" tanya suamiku dengan memegang kedua tanganku, dan pandangan mata kita yang saling bertemu.


"Hah... siap apa?" tanyaku balik, aku sangat gugup dengan situasi seperti ini.


"Istirahatlah, kamu pasti cape. Terima kasih sudah mengeringkan rambutku." Mas suami justru meminta aku istirahat. Jujur aku merasa senang dan bahagia karena itu artinya malam ini aku bebas tugas, tapi dalam hatiku juga aku merasakan sangat bersalah. Bukanya ini malam pertama, di mana biasanya kalau pasangan pengantin baru di malam pertama pasti akan mengadakan ritual upaya melestarikan keturunan. Pasti Mas suami tidak ingin memaksa aku yang nampak belum siap.

__ADS_1


Aku jadi serba salah, satu sisi aku juga ingin menjadi istri seutuhnya yang bisa melayani suami lahir dan batin, tapi kalau Mas suami meminta aku istirahat masa iya aku yang menawarkannya. Kalau aku yang menawarkan lebih dulu, Kira-kira bahasanya apa?


"Sama-sama, Tia suka kalau bisa melayani Mas. Bukanya kita sudah jadi suami istri, sudah jadi tugas Tia melayani Mas suami. Kalau Mas butuh sesuatu katakanlah, Tia dengan senang hati akan membantu apa yang Mas Gala butuhkan."


Kali ini aku melihat wajah Mas suami yang nampak tersenyum malu. "Kalau minta yang enak-enak boleng nggak?" Mas suami menghentikan tangannya yang sedang mengambil pakaian di dalam lemari.


"Tia tidak begitu tahu akan kewajiban istri apa saja, tapi selagi bisa membahagiakan suami, bukanya Tia juga dapat pahala?" balas ku dengan tersenyum, aku sudah yakin tidak akan bersikap polos lagi, barusan saja saat mas suami di dalam kamar mandi bukanya aku sudah membaca beberapa artikel cara melayani suami saat malam pertama dan aku juga sempat melihat vidio edukasi, aku tidak ingin terlihat payah di hadapan mas suami, setidaknya aku bisa memberikan malam yang sangat berarti sepanjang hidup mas suami. Mungkin aku memang bukan yang pertama, tapi aku ingin yang paling berkesan dari mantan-mantan suami.


"Tidak masalah nanti aku ajarkan tugasnya apa saja." Mas suami mengurungkan mengambil pakaian, dan justru kembali lagi berjalan ke arahku.


"Kita malam ini usaha bikin anak yah, aku sudah sangat ingin memiliki anak, dan aku yakin kamu adalah istri yang akan memberikan buah cinta untuk Mas, dan juga penghangat dikeluarga besar Mas. Mungkin dengan adanya buah hati dari kita, Kakek akan memberikan restu pada kita. Apa kamu sudah siap dan tidak akan menyesal?" tanya Mas suami dengan nada bicara yang sangat lembut.


Sehingga aku merasa kalau aku adalah wanita yang paling beruntung karena mendapatkan suami yang sangat pengertian dan tidak pernah berkata kasar. Yah, tentunya itu adalah harapanku saat ini dan seterusnya, aku sangat berharap kalau perlakuan manis dan hangat tidak hanya saat kita baru memulai pernikahan, tetapi seterusnya hingga menua bersama.


Perlahan aku mengembangkan senyum terbaik dan mengangguk dengan yakin.


"Ajarkan Tia hingga bisa menjadi istri yang seutuhnya."


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2