Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Manfaat Jatuh Cinta


__ADS_3

Tatapan Kakek bergantian menatap kami berempat. Seolah tengah mengakses. Aku menatap Momy Bela yang terlihat justru tetap tenang, tentu berbeda dengan aku di mana perasaanku sudah tidak karuan. Bahkan mungkin wajah aku juga pasti bisa mengartikan kalau saat ini aku sedang tegang campur cemas.


Perut rasanya mulas, dan kering mulai membasahi tubuh.


"Yusuf, Bela ini kalian yang akan jelaskan duluan atau Papah yang akan bongkar semuanya?" tanya Kakek, membuat aku semakin tegang. Padahal yang ditanya bukan aku, tapi aku ikut berpikir untuk memberikan jawaban. Takut juga kalau jawaban dari Momy Bela dan Papi Yusuf bikin Kakek tambah kesurupan.


Bahkan kayaknya bukan hanya aku yang tegang, tapi semuanya pun dari wajahnya sangat serius, termasuk Mas Gala yang duduk di samping Momy Bela.


"Seperti yang Kakek lihat, Yusuf ke sini tidak mungkin hanya ingin melihat Tia maupun Gala. Dan Kakek juga pasti sudah tahu kalau kita sebenarnya belum bercerai," jawab Papi Yusuf dari cara bicaranya yang tenang. Sepertinya Papi mertua sudah sangat siap dengan segala hal yang mungkin terjadi, contohnya seperti ini.


Kakek tampak menggerak-gerakan kepalanya. "Papah suka kejujuran kamu, tapi kalau Papah beri satu pilihan kamu akan pilih Bela atau Mizel?" tanya Kakek dengan tatapan yang tajam menatap Papih Yusuf. Suara dingin Kakek menambah ketegangan saja.


Cukup lama Papih Yusuf tidak menjawab, dan Momy Bela pun nampaknya sudah sangat siap dengan  keputusan suaminya.


"Yusuf akan memilih orang yang paling sabar, karena Yusuf hanya ingin memiliki pasangan yang sampai menua bersama, dan mungkin saja Yusuf saat tua akan banyak merepotkan anak maupun pasangan, sehingga Yusuf akan pilih yang paling sabar." Papi Yusuf menatap Momy Bela yang sedang menunduk dengan memainkan jari-jarinya.

__ADS_1


"Kenapa tidak pilih yang masih muda, kan dia juga nanti bisa mearawat kamu karena tubuhnya yang masih muda pula," ucap Kakek. Yah, aku tahu arah bicara Kakek ke mana.


Papi Yusuf langsung menggeleng dengan mantap. "Tidak kalau masih muda, kemungkinan untuk merawat Yusuf sangat kecil. Justru kemungkinan besarnya akan menyerahkan urusan Yusuf pada perawat atau pembantu. Uang bisa mengerjakan semuanya, dan ia pasti akan memilih bekerja dan bukan tidak mungkin dia akan mencari kepuasan di luar sana dan meninggalkan Yusuf dengan laki-laki lain."


Yah, aku sangat setuju dengan pendapat Papi Yusup. Top markotop deh dengan penjelasan papi mertua.


"Tapi kalau tua juga akan sama-sama pakai perawat bukanya semakin sulit." Kakek masih tetap dengan perinsifnya, dan tentu Kakek tidak ingin kalau putranya memilih Momy Bela. Kakek lebih suka kalau papi mertua tetap berumah tangga dengan Tante Mizel pastinya.


"Ketika kita hidup bahagia dengan orang yang kita cinta, hidup semakin berwarna, dan perasaan gembira, menurunkan tingkat stres dan depresi, meningkatkan kekebalan tubuh, menjaga kesehatan jantung, jatuh cinta yang sehat juga dapat membuat umur lebih panjang, membuat kulit lebih cerah, merawat kesehatan mental yang lebih baik. Dan masih banyak manfaat lainya di saat kita hidup dengan orang yang dicintai. Itu adalah penelitian dari para ahli. Jadi Yusuf akan tetap memilih hidup dengan orang yang paling sabar."


"Bela?" Kali ini Kakek menatap pada Momy mertua, ingin mendengar jawaban dari menatunya yang dari menikah tidak disetujui karena ia adalah adik dari  ibunya Mas Gala yang dulunya adalah orang tidak punya, bahkan untuk kuliah mengandalkan almarhum kakaknya, itu sebabnya Kakek tidak setuju karena Momy Bela dan almarhum kakaknya sama-sama orang miskin. Kakek mengira kalau Momy Bela akan mengeruk hartanya. Dengan cara naik ranjang. Apalagi pernikahan Papi Yusuf dan Momy Bela berdasarkan permintaan almarhum mamahnya Mas Gala. Hal itu membuat Kakek berpikir kalau Momy Bela hanya mengicar harta suami kakaknya saja. Itu yang aku dengar dari cerita Momy Bela.


Momy Bela mengangkat wajahnya dan mengulas senyum tipis. "Tidak ada yang harus Bela katakan, saya rasa pembuktian selama ini sudah membuktikan kalau saya tetap ingin hidup dengan papihnya Gala." Momy Bela menatap ke arah kami, tapi yang  jelas bukan menatap kearahku, melainkan kearah papi mertua alias suaminya.


"Jadi kamu akan ceraikan Mizel?" tanya Kakek dengan nada yang kecewa berat.

__ADS_1


"Nyatanya hidup dengan dua wanita juga hanya menambah beban pikiran." Papi Yusuf menjawab dengan tegas.


"Tapi pernikahan kalian sudah hampir berjalan sepuluh tahu, itu bukan pernikahan yang  singkat. Apa tidak ada pertimbangan lain?"


"Menikah dengan Bela jauh lebih lama." Tidak ada keraguan lagi Papih Yusuf nampaknya kali ini benar-benar memperjuangkan cintanya.


"Hidup dengan dua istri mungkin bisa dipertimbangkan." Kakek kali ini berbicara dengan suara yang lembut.


"Itu tidak semudah Papah berbicara. Mungkin dengan Bela mungkin akan  menerima, karena dia sudah biasa, tapi dengan Mizel cape kalau harus bersitegang terus. Hidup dengan dua istri artinya setatus Bela juga diakui, dan saya pun tidak akan sembunyi-sembunyi lagi untuk menemui Bela. Apa Mizel mau, dan menerima? Tolong jangan egois Pah." Papi Yusif kali ini berbicara dengan nada yang cukup tegas.


"Sepertinya Papah salah datang ke sini." Kakek menatap putranya dengan tajam.


"Tidak ada yang salah karena memang mungkin ini saat semuanya harus diakhiri salah satu. Yusuf tidak bisa terus-terusan berperan menjadi anak yang patuh."


Bersambung....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2