
Aku pun semakin yakin dan tahu bahwa hubungan aku dan Pak Gala hanyalah sebatas teman kerja saja. Buktinya semakin aku kenal dengan Pak Gala semakin aku sadar kalau kami tidak bisa bersama. Perhatian perhatian yang aku berikan pada Pak Gala pun nyatanya tidak dianggap dengan serius. Pak Gala hanya mengapa aku hanya OG yang kebetulan sangat asik untuk diajak bercerita.
Yah tidak ada yang salah sih, karena memang, aku yang tidak tahu diri mencoba mendekati bos besar, berharap pada kehaluan, yang ada hanya menyakiti hatiku sendiri. Aku pun kini tidak ingin lagi berharap pada sesuatu yang terlalu tidak masuk akal.
Ketika Pak Gala menganggap aku sebagai teman saja, aku pun seharusnya melakukan hal yang sama agar perasaan ini tidak semakin sakit dan tidak semakin membuat luka yang justru hanya menyakitiku sendiri.
Kembali aku teringat tujuan aku merantau, adalah untuk mencari perbaikan ekonomi, jadi seharusnya aku benar-benar hanya bekerja tanpa adanya pikiran yang lain. Andai ketemu jodoh, itu hanya bonus tidak bisa aku justru lebih terfokus dengan urusan yang hanya menyakitkan hati.
Cukup hati sakit dan hancur hanya sekali. Aku pun perlahan menarik diri dari Pak Gala. Bahkan aku beberapa kali meminta Misi agar bertukar pekerjaan.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih Tia? Ada masalah dengan Pak Gala?" tanya Misi setiap aku meminta kalau kita tuker posisi pekerjaan.
"Tidak Mis, hanya saja aku semakin merasa hampa, aku semakin terbawa dalam hubungan yang tidak jelas. Aku hanya ingin fokus lagi ketujuan aku merantau Mis, yaitu cari perbaikan ekonomi. Lagian kamu tahu kan jaraknya aku dan Pak Gala seperti apa, semakin aku berharap dan semakin aku dekat dan bersama setiap hari justru kemungkinan untuk sakit semakin besar, Kamu tidak mau kan kalau aku patah hati untuk kesekian kalinya. Oleh sebab itu aku harus mulai memberikan jarak. Makanya bantu aku yah," ucapku dengan lirih. Aku tahu Misi lebih bisa diajak kerja sama dibandingkan Tulip, kadang Tulip itu masih sering ceplas ceplos makanya aku tidak memilih Tulip untuk meminta bantuan agar aku bisa membatasi dengan Pak Gala, tidak secara langsung sih, pelan-pelan asal tidak terlalu ketara.
"Ya udah kalau memang itu yang terbaik untuk kamu, mana yang harus aku lakukan, minimal beri tahu apa yang boleh dan apa yang tidak boleh," ucap Misi, dan aku pun langsung memberikan tugas-tugas yang setiap hari aku lakukan. Dan tentunya yang harus dilakukan di ruangan Pak Gala, begitupun aku harus belajar dari nol lagi apa yang harus aku lakukan di tempat Misi biasa bertugas.
Yah, hari ini pun aku dan Misi beberapa bertukar tempat pekerjaan. Dan untungnya kita tidak dimarahi oleh kepala bagian. Sempat kena tegor sih, tetapi untungnya jawaban aku tidak memancing kemarahan. Aku beralasan kalau kita sedang bosan dengan pekerjaan masing-masing sehingga bertukar tempat.
"Lu nggak bilang kalau gue sedang ingin menghindar dari Pak Gala kan?" tanyaku dengan sedikit cemas, takut kalau Misi keceplosan.
__ADS_1
"Ya, enggak lah, gila banget kalau gue pada akhirnya bilang juga."
"Terus loe bilang apa?'" tanyaku dengan kepo.
"Bilang sedang sibuk di bawah, dan kita tukar bagian untuk beberapa hari," jawab Misi membuat aku merasa lega meskipun hanya sedikit.
"Mudah-mudahan kita bisa tukeran untuk selamanya yah," balasku dengan serius tetapi justru mendapat protes dari Misi.
"Jangan lah Tia, gue kerja baru sehari aja sudah setres dan juga sudah kesal dengan ucapan mereka, apalagi untuk balik lagi, belum siap aku. Belum Pak Gala yang kelihatan kurang suka kalau kerjaan kamu aku yang ganti," jawab Misi yang membuat aku bingung, itu tandanya aku harus tetap ketemu Pak Gala lagi.
__ADS_1
Bersambung....
...****************...