Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Berpamitan


__ADS_3

Apabila di hubungan sebelumnya yang jadi penghalang adalah kelakuan Yuda yang ternyata sangat buruk di belakangku dan membuat hubungan kami berujung sebuah penghianatan. Aku berharap dihubungan yang sekarang aku dan Pak Gala, aku ingin lebih bisa merasakan apa itu menjadi wanita yang bisa dihargai.


Sejak Pak Gala yang meminta agar aku menjalin hubungan yang lebih serius, hari-hariku pun semakin bahagia. Ternyata Pak Gala juga memiliki sisi lain yaitu dia sangat romantis ketika memperlakukan aku. Meskipun umur kita cukup jauh perbedaannya nyatanya Pak Gala bisa mengimbangi sifatku yang mungkin masih sangat labil, kadang berpikir A dan kadang juga berpikir B. Namun, untungnya memiliki pasangan yang umurnya sudah matang itu sangat aku rasakan, Pak Gala bisa memaklumi semua sifat labilku, dan aku pun lama-lama menjadi terbiasa dengan sifat Pak Gala, dan ingin menirunya agar tidak membuat Pak Gala ilfil dengan sifatku yang labil ini.


Semakin hari hubungan aku dan pak Gala pun bisa dibilang semakin hangat dan bahkan Pak Gala tidak malu menggandeng tanganku apabila kita akan makan siang bersama, sehingga berita akan hubunganku dengan pak Gala pun semakin menyebar. Tentu tanpa terkecuali Yuda pun tahu kalau aku menjalin hubungan dengan pak bos besar.


Dulu niat aku ingin membuat Yuda panas karena aku mendapatkan pengganti dirinya yang jauh lebih baik lagi, saat ini harapanku tercapai. Bahkan setiap aku berjalan dengan Pak Gala aku bisa melihat wajah Yuda yang marah. Padahal tidak harus marah kan, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa, bahkan Yuda sudah punya anak.


[Nanti pulang tunggu di tempat biasa yah!] Itu adalah pesan dari Pak Gala, setiap pulang kerja aku selalu diantar oleh bos sekaligus kekasihku. Awalnya sih nolak, tapi lama-lama aku tidak bisa menolak juga, karena sekali pun aku menolak, Pak Gala akan marah. Jadi dari pada marah-marah terus mending aku iyain aja mau diantar atau jalan kaki bagiku sama saja. Dan lagi sejak gosip aku berpacaran dengan Pak Gala, dan aku pulang hampir tiap hari bersama Pak Gala aku tidak lagi di ganggu oleh Mbak Fany. Ada untungnya juga aku menjalin kasih dengan Pak Gala.


Entah Mbak Fany benar-benar sudah sadar kalau aku sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan suaminya atau justru Mbak Fany mulai kena mental karena pacarku adalah bosnya, sekalinya marah aku ngadu bisa-bisa di pecat kan. Eh, tapi tenang aku nggak sejahat itu Kok.


Seperti yang Pak Gala minta aku pun nunggu di tempat bisa, sama seperti biasanya juga begitu aku mengabarkan kalau aku sudah ada di tempat biasa maka Pak Gala tidak lama langsung datang.

__ADS_1


"Udah lama nunggu?" tanya Pak Gala yang mana ini adalah pertanyaan yang selalu sama apabila baru datang.


"Seperti biasanya, paling sepuluh menit," jawabku sembari masuk ke dalam mobil mewah Pak Gala.


"Besok kayaknya kamu pulang dan berangkat sendiri yah, aku ada kerjaan luar kota, dan mungkin akan satu bulan baru pulang, ada masalah di kantor cabang, jadi aku harus turun tangan," ucap Pak Gala begitu kami masuk ke dalam mobil.


Aku menatap laki-laki yang sudah jadi kekasihku. "Tia tidak masalah kalau harus berangkat dan pulang sendiri toh sudah biasa kok, tapi kamu jaga diri jangan jangan macam-macam di sana, apalagi kalau sampai cari pengganti Tia," ucapku sembari menatap kekasih ku yang sedang fokus mengemudi.


"Hahaha, kamu adalah wanita yang paling aku cintai, mana mungkin aku macam-macam, apalagi sampai cari pengganti kamu. Jujur deh kalau bukan masalah yang penting aku paling malas kalau harus kerja luar kota, alasannya ya hanya satu aku nggak mau pisah sama kamu. Ini aja aku sedang siapkan mental kira-kira kuat nggak menjalani hubungan jarak jauh mana kira-kira satu bulan itu lama banget kalau buat aku Tia," ucap Pak Gala dengan wajah yang murung.


"Nanti kalau aku nggak balas pesan atau telpon kamu, itu tandanya aku sedang sibuk yah, dan juga menurut survei orang yang sudah ada di sana, lokasi kantor kadang sinyalnya buruk sehingga takutnya nanti kamu kirim kabar belum aku balas kamu berpikir yang aneh-aneh. Kamu boleh pegang omongan aku, aku itu tidak mungkin berpaling dari kamu, kamu adalah orang yang sangat cocok dengan kriteria wanita yang aku cari," ucap Pak Gala sebelum benar-benar pamit untuk pulang dan juga mulai saat ini hingga mungkin satu bulan mendatang aku tidak bertemu dengan kekasihku lagi.


"Ok siap, Tia sih santai saja itu tandanya aku bisa nonton drama korea dan baca novel lebih banyak, kamu juga tenang saja aku nggak bakal macam-macam, jadi jangan berpikir macam-macam," jawabku dengan mengembangkan senyum, dan Pak Gala pun sama terkekeh mendengar jawabanku yang sejak kita  pacaran Pak Gala sih tahu kalau aku kebiasaanya hanya nonton film seharian di kontrakan, dan akan pindah atau mandi kalau Pak Gala ajak jalan.

__ADS_1


Kami pun berpisah, dan ada harapan kalau sepulangnya nanti aku mendapatkan kabar baik terutama mengenai kabar restu dari keluarga Pak Gala. Di mana sepertinya hingga detik ini aku dan Pak Gala belum dapat restu, setiap aku menyinggung soal restu pasti Pak Gala akan mengalihkan ke hal yang lain.


Pagi hari aku pun berangkat seorang diri, begitupun pulang kerja mengingat aku dan Misi serta Tulip sekarang beda jam masuk kerja sehingga setiap pulang dan berangkat jalan kaki hanya seorang diri.


“Tia...” Aku menghentikan langkahku di mana seperti biasa berangkat dan pulang kerja aku masih memilih berjalan kaki selain sehat juga jarak kontrakan aku dan kantor yang tidak terlalu jauh sehingga apabila menggunakan angkutan umum justru hanya buang-baung duit.


Keningku mengerut sempurna ketika Yuda ada di belakangku. “Ada apa? Kamu jangan dekat-dekat aku lagi Yuda, banyak CCTV yang siap menyampaikan berita yang tidak-tidak sama Mbak Fany,” ucapku yang malas sekali kalau harus berhubungan dengan wanita itu, apalagi di sebut tidak bisa move on. Kalau Pak Gala sih tidak pernah cemburu dengan Yuda, sehingga aku tidak khawatir akan Pak Gala, aku khawatirnya dengan Mbak Fany yang bentar-bentar main labrak.


“Kamu ngapain pacaran dengan Pak Gala, nanti kamu malah diapa-apakan. Lebih baik kamu cari cowok yang lebih baik dari pada Pak Gala. Aku nggak mau kalau kamu dibuat mainan oleh laki-laki yang sudah tua seperti Pak Gala.”


Aku terkekeh mendengar ucapan Yuda. “Pak Gala memang tua, tapi jangan samakan dengan Mbak Fany yang janda itu. Pak Gala tidak pernah berpikir macam-macam seperti yang ada di dalam pikiran kamu. Meskipun kamu tidak menjabarkan secara detail apa yang kamu maksud, tetapi aku tahu apa yang ingin kamu sampaikan sama aku. Dengar yah Yuda. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa. Mau aku pacaran atau nikah dengan duda, aki-aki atau bujang lapuk sekali pun kamu tidak berhak untuk mengatur hidup aku. Atur saja rumah tangga kamu dengan Mbak Fany, bukanya kalian sudah punya anak. Lebih baik dari pada mengurusi hidup aku bilakah jauh lebih baik kamu belajar jadi papah yang baik untuk anak kamu. Kurangi judi online kasihan Mbak Fany kerja banting tulang kamu malah ketagihan judi online.” Aku pun bersiap meninggalkan Yuda yang tidak bisa berkutik karena ternyata aku tahu kebusukannya selama ini.


“Oh iya, kamu juga balikan uang-uang aku yang kamu pinjam karena aku tidak ikhlas barang seribu pun uangku kamu pakai.” Akhirnya ada kesempatan untuk menagih uang-uangku. Kali ini aku benar-benar meninggalkan Yuda yang semakin pucat wajahnya. Mungkin dia tidak pernah mengira kalau aku akan menagih uang-uangku yang dia pakai selama kita berpacaran. Padahal bukan aku tidak menagih selama ini, hanya saja aku memang menunggu waktu yang tepat untuk meminta hakku.

__ADS_1


Bersambung....


...****************...


__ADS_2