
Pagi-pagi buta bahkan adzan belum berkumandang, aku sudah terbangun dan dengan perlahan aku menyibak selimut yang menutupi tubuh polos ini, segera ku langkahkan kaki ke kamar mandi bersih-bersih dan melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim, lalu menyiapkan sarapan seperti biasa.
Hari ini perasaanku terlalu bahagia karena akan ikut mas suami untuk kerja dan tentunya akan segera bertemu dengan sahabatku. Sudah terlalu banyak cerita yang kami lewati sendiri-sendiri tidak sabar rasanya ingin berbagi pengalaman, dari yang berat, lucu, hingga kejutan yang diri ini tiba-tiba kembali bertemu dengan mantan bos mereka lagi.
Entah seperti apa hebohnya sahabatku nanti kalau tahu aku sudah menikah dengan Pak Gala. Ah, aku jadi tidak sabar ingin mendengar kehebohan itu.
"Duh yang mau ketemu dengan sahabatnya sampai bangun saja pagi bener."
Aku terkejut ketika mendengar suara mas suami yang masih serak.
"Iya dong, bahkan semalam entah sampai jam berapa Tia dan Misi saling bertukar pesan." Kebiasaanku dan Misi memang selalu seperti itu selalu ada saja yang aku dan dia bahas sampai-sampai ketiduran udah kaya pacaran aja kami memang.
"Iya deh yang punya bestie mah emang selalu begitu. Tapi ingat loh kamu juga harus pastika kalau suami Misi tidak akan marah kalau kalian sering berkomunikasi, takutnya nanti malah jadi masalah untuk keluarga Misi."
Ini yang aku selalu suka dari perlakuan mas suami, selalu mengingatkan aku untuk urusan yang sebenarnya bisa dibilang ini sepele bisa dibilang aku sendiri juga tahu aturan kapan aku harus menghubungi sahabatku atau tidak, dan aku sendiri juga selalu memastikan kalau aku dan sahabatku itu sedang dalam waktu yang kosong, aku juga takut kalau nanti gara-gara aku, rumah tangga Misi atau Tulip malah jadi masalah, itu sebabnya aku saat ini lebih sering menghubungi Misi dari pada Tulip, karena aku tahu bagaimana repotnya wanita yang sudah punya pasangan dan sudah punya bayi seperti Tulip. Namun bukan berati juga aku melupakan Tulip, sering juga aku bertukar kabar meskipun hanya menyapa basa basi agar tidak dicap sombong atau bahkan dicap tidak setia kawan.
__ADS_1
"Siap Mas, makasih untuk nasihatnya Tia pasti akan ingat itu." Aku pun setelah menjalankan sholat berjamaah dengan mas suami langsung bersiap untuk masak, sedangkan mas suami seperti kebiasaan di pagi hari. Ia akan berlari pagi keliling komplek. Jadi tidak heran ketika tubuhnya kekar dan tenaganya kuat itu semua karena Mas Gala rajin berolahraga.
Seperti biasa pertama yang aku lakuin adalah masak sembari mencuci pakaian, sedangkan untuk menyetrika pakaian sudah ada Bibi yang datang setiap hari dan akan pulang di sore hari, tugasnya sebenarnya untuk nyuci, menyetrika dan juga beberes rumah ini.
Sebenarnya aku masih sangat sanggup untuk mengerjakan ini semua seorang diri, tapi entahlah Mas Gala dan Momy Bela tidak mengizinkannya.
Namun berhubung hari ini aku yang sedang sangat bahagia, sehingga untuk mencuci pakaian aku lebih memilih mengerjakannya sendiri dan aku anggap ini juga olahraga. Maklum aku sangat malas kalau diajak untuk joging, aku memiliki kebiasaan yang sama dengan Momy Bela, lebih baik energiku terpakai untuk mengurus pekerjaan rumah daripada untuk lari-lari keliling komplek. Toh itu juga sudah cukup untuk membakar kalori yang cukup banyak.
"Wah kamu sudah bangun Sayang?" Suara Momy Bela berhasil mengagetkan aku yang sedang asik menyiapkan bumbu untuk membuat nasi goreng sepesial ala Tia.
"Tia hari ini akan ikut Mas Gala ke kantor jadi harus bangun lebih pagi," jawabku sembari menggeser tempat untuk memberikan tempat Momy membantu pekerjaan memasak.
"Hemz... itu ide yang bagus, lagian kalau kamu di rumah terus pasti bosan, sesekali temani suami kerja agar kamu tidak bosan, dan Gala juga semakin semangat cari nafkahnya. Ngomong-ngomong semalam ketemu Kakek gimana lancar? Maaf semalam kalian pulang Momy tidak dengar abis ngantuk banget jadi tidur duluan deh."
Ini yang selalu aku nyaman untuk bercerita dengan Momy Bela, cara berbicara dan menganggapku benar-benar spesial.
__ADS_1
"Momy tidak usah meminta maaf, memang Tia dan Mas Gala semalam sengaja jalan-jalan dulu memanfaatkan waktu untuk pacaran ala ABG. Soal Kakek meskipun belum sepenuhnya restu dikantongin tapi Tia senang setidaknya Kakek tidak terlalu menyeramkan seperti dulu."
Momy terkekeh mendengar jawabku.
"Yah, kakeknya Gala memang seperti itu, kamu harus sabar untuk menaklukanya kamu pasti akan mendapatkan restu itu sepenuhnya. Asalkan kamu sabar dan tetap menunjukan sisi baik kamu, Momy yakin kalau Kakek sudah tahu kalau kamu benar-benar mencintai Gala maka restu itu tidak akan jadi penghalanya."
Mendengar jawaban Momy yang sangat yakin, dan sepertinya sangat paham dengan sifat Kakek, rasa penasaranku semakin menggebu-gebu. Kira-kira apa gerangan yang membuat Kakek hingga saat ini belum memberikan restu untuk wanita hebat yang ada di hadapanku.
Namun, aku takut pertanyaanku nanti justru akan menyakiti Momy Bela. Aku takut sengaja ada yang ingin Momy tutupi buktinya sampai saat ini Momy tidak percaya menceritakan masalah mereka padaku, kalau aku yang inisiatif bertanya duluan, aku takut justru akan membuat Momy kurang nyaman.
Biarkan nanti aku bisa bertanya pada Mas Gala, mungkin saja mas suami tahu yang terjadi di antara Kakek dengan Momy Bela hingga saat ini Momy tidak mendapatkan restu menjadi menantunya.
Bersambung...
...****************...
__ADS_1