Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Indahnya Kebersamaan


__ADS_3

Pukul sebelas malam.


Aku terbangun ketika Mas Gala menepuk pundaku pelan. Aku tahu ini masih sangat awal untuk bangun di pagi hari, meskipun aku tidak melihat jam yang ada di dinding terlebih dahulu.


"Ada apa Mas?" tanyaku dengan suara yang berat. Sejujurnya aku masih sangat mengantuk.


"Kita ke rumah Kakek yah," jawab Mas Gala dengan suara lirih. Mendengar ucapan mas suami tentu aku sangat kaget pasalnya ini masih di jam malam, dan Kakek juga tadi pulang dalam keadaan baik-baik saja.


"Hah, sekarang Mas? Emang ada apa?" tanyaku penasaran.


"Mas nggak tahu, tapi tadi Papi dan Momy bilang Kakek jatuh sakit dan sekarang ingin kita datang ke rumah Kakek," jelas Mas Gala dengan menyiapkan pakaian ganti untuk aku, sedangkan mas suami sendiri sudah siap dengan pakaian santai.


Tanpa menunggu lama setelah aku berganti pakaian, kami pun bergegas untuk ke rumah Kakek. Sedikit aneh memang di saat pulang dari rumah kami saja masih sehat masa sekarang jatuh sakit.


Supaya kami cepat tahu apa penyebab Kakek jatuh sakit, tanpa membuang waktu kami pun meninggalkan rumah. Rasa ngantuk pun hilang mengetahui tertua dari kami sakit. Ada rasa takut tentunya kalau Kakek akan kenapa-kenapa, tapi sekali lagi kita percaya kalau Alloh tidak akan meninggalkan kita.


Tidak butuh waktu lama kini kami pun sudah masuk ke rumah yang jauh lebih besar dan mewah dari rumah yang kami tempati.


"Bi, Kakek ada di kamar?" tanya Papi Yusuf dengan nada yang cemas.

__ADS_1


"Iya Tuan, Anda semua sudah ditunggu sejak lama oleh Tuan besar."


Setelah mendengar jawaban dari asisten rumah tangga, Papih pun langsung mengayunkan kakinya ke  kamar Kakek. Sedangkan aku dan Momy Bela ikut di belakang dengan perasaan yang cemas. Jujur ada rasa takut kalau ini adalah malam terakhir untuk Kakek, sedangkan aku merasa belum sepenuhnya membuktikan pada Kakek dengan pembuktian cintaku pada cucunya.


Untuk pertama kalinya aku masuk ke rumah ini dan aku juga untuk pertama kalinya masuk ke kamar Kakek. Yah begitu juga dengan Momy Bela. Nasib kita sama jadi ini juga pertama kalinya Momy masuk ke rumah dan kamar Kakek, sangat tragis memang mendapatkan mertua seperti Kakek itu. Kesan pertama kali saat masuk ke rumah Kakek adalah merasa kalau kamar ini sepi dan bahkan aku melihatnya hampir seperti kamar di rumah sakit.


Banyak alat medis di kamar pribadi Kakek, ruangan yang luas rapi, tetapi aku tidak merasakan ada kehangatan.


"Kek, apa yang terjadi." Mas Gala langsung meraih tangan sebelah kanan Kakek dan mengusapnya dengan lembut. Begitupun dengan Papi Yusuf yang duduk  di sebelah kiri Kakek melakukan hal yang sama dengan yang mas suami lakukan.


"Mizel _ " Suara Kakek terbata memanggil Tante Mizel. Ah, aku baru sadar sejak tadi tidak ada tante Mizel yang aku lihat hanya para pekerja di rumah ini yang ditugaskan untuk menjaga Kakek.


"Dia kabur membawa uang-uang dan harta Papah, setelah Papah katakan kalau kamu akan menceraikan dia dan kembali dengan Bela." Kakek berbicara dengan pelan pandangan matanya menatap Papi mertua dan Momy Bela secara bergantian. Tanpa aku bertanya, dari sorot mata Kakek aku bisa artikan kalau Kakek memang sangat menyesal dengan pilihan menantunya. Memilih tante Mizel yang berada dari golongan atas dan kaya raya, tetapi mentalnya perampok. Jujur dari satu sisi aku ada rasa puas karena Kakek salah memilih menantu, diakhir perjalananya ternyata bisa membuktikan kalau yang paling bisa diadalkan adalah ia yang setia menemani anaknya meskipun berasal dari orang tidak kaya.


Mas Gala mengusap tangan Kakek dengan lembut sedangkan aku pun duduk di samping Kakek sama dengan Momy Bela yang memijit kaki Kakek dengan lembut, seolah tidak ada dendam sama sekali dari momy mertua.


"Kakek jangan khawatir, kita pasti bisa mengambil barang-barang itu lagi. Gala dan Papi akan urus semuanya dan Tante Mizel bisa kita laporkan ke polisi."


Dengan gerakan lembut Kakek pun mengangguk.

__ADS_1


"Bela, Tia, tinggalah di sini temanin Kakek. Kakek kesepian mungkin dengan adanya kalian Kakek tidak akan merasa sendiri lagi. Mizel juga sudah tidak ada . Maafkan Papah, Bela karena telah membuat kamu selama ini menderita dengan sikap Papah. Yusuf memang tidak salah pilih." Kakek menatap Momy dengan mata berkaca-kaca.


"Bela sudah maafin Papah, dan sekarang kita juga akan temanin Papah," ucap Momy, membuat garis lengkung di wajah tua Kakek.


"Terima kasih, Papah senang rumah ini rame." Kakek menggenggam tangan Momy bela dan tangan aku juga.


"Kakek tenang saja sebentar lagi akan lebih rame dengan anak-anak Gala," imbuh Mas Gala dengan mengusap perutku yang sudah mulai membuncit.


"Iya, ini adalah impian Kakek sejak lama, terima kasih Tia sudah mengabulkan impian Kakek."


Aku pun membalas dengan senyum bahagia, karena ternyata Kakek itu sangat hangat.


"Sama-sama Kek, Tia juga sangat bahagia karena bisa memberikan keturunan buat Mas Gala." Aku menatap Mas Gala yang tersenyum malu.


Mungkin ini jawaban dari Tuhan kenapa Mas Gala dengan pernikahan terdahulunya tidak juga mendapatkan keturunan itu semua karena Alloh ingin menghadirkan aku sebagai cucu menantu yang memberikan kebahagiaan di rumah ini. Sungguh ini adalah malam paling bahagia untuk aku, karena akhirnya Kakek merestui hubungan aku dan Mas Gala, begitupun Papi Yusuf dengan Momy Bela, yang akhirnya bisa mendapatkan restu dari Kakek.


...****************...


Teman-teman, mampir yuk ke novel bestiee othor dijamin keren👍

__ADS_1



__ADS_2