
Aku sangat terharu ketika mas saumi sangat tulus melayaniku. Ini adalah pertama kali aku dilayani dengan sangat baik, aku pernah berpikir kalau mantan bosku adalah orang yang dingin dan tidak romantis, tetapi aku salah. Mas suami justru sangat romantis ketika kita sedang berduaan saja. Yah, memang ketika kita sedang kumpul dengan banyak orang sangat terlihat kalau laki-laki yang saat ini sudah menyandang setatus sebagai suamiku memang sedikit dingin dan kaku.
"Minumlah, dan jangan terlalu tegang agar tidak sakit lagi." Mas suami memberikan aku segelas air putih ketika kita selesai bermain dokter-dokteran.
"Terima kasih Mas, padahal Tia bisa ambil air minum sendiri," ucap ku, tetapi aku pun tetap mengambil gelas air minum itu dan meneguknya hingga tandas. Ingat itu adalah jawaban basa-basiku nyatanya aku tentu sangat senang diambilkan air minum. Mengingat di bawah sana rasanya sangat sakit dan pegal. Aku tidak bisa membayangkan nanti cara jalanya seperti apa, mungkin aku akan sama seperti jalanya bebek.
"Sama-sama, lagian hanya mengambilkan air minum saja kok. Yang seharusnya bilang terima kasih itu aku, karena kamu sudah memberikan pengalaman yang berbeda. Pengalaman yang pertama untuk aku, dan aku akan selalu mengingat malam ini indah ini," balas Mas suami, sembari mengambil gelas yang sudah kosong. "Masih haus?" tanya Mas suami lagi.
Dan aku pun membalas dengan gelengan kepala dan juga tersenyum tipis serta nafas yang masih memburu. Aku kembali merebahkan badan ini dan menutup tubuh polosku dengan selimut. Aku benar-benar sangat cape dan juga ngantuk. Padahal ini adalah permainan pertama, tetapi tenagaku seolah sudah habis. Sedangkan dari cerita-cerita novel yang aku baca ada yang bermain hingga dua atau bahkan lebih dari tiga kali. Sedangkan aku satu kali saja sudah KO.
Kembali aku membuka mata dengan malas, ketika ranjang bergerak, sebagai tanda kalau ada yang duduk. Tangan kekar mas suami mengusap rambutku yang acak-acakan.
"Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Mas suami dengan nada bicara yang sangat lembut.
Bibir ini mengulas senyum dengan manis, lalu aku kembali menggelekan kepala dengan pelan. "Lydia hanya cape, tidak ingin apa-apa," balasku. Ini masih pukul delapan, tapi aku rasanya sudah sangat ngantuk. Aku ingin tidur sebentar dan berharap setelah bangun tubuhku sudah tidak sakit lagi.
__ADS_1
"Baiklah, kalau gitu kamu istirahat dulu. Sekali lagi terima kasih."
Entah Mas suami mengucapkan terima kasih untuk keberapa kalinya, dan aku pun lagi dan lagi hanya membalas dengan senyum terbaikku.
Tanpa menunggu lama aku pun kembali memejamkan mata ini, rasanya kelopak mata sudah ada yang menggelayutinya sehingga aku pun tidak menunggu lama langsung terlelap tidur.
Saking lelahnya, aku baru terbangun ketika suara alarm yang sudah biasa aku setel di jam lima pagi berbunyi. Dengan mata yang masih berat aku pun membuka mata dengan perlahan. Tempat asing yang pertama kali aku lihat, yah aku baru sadar malam tadi aku tidur di kamar mas suami.
Awhhh... Aku meringis dan mengaduh, ketika tubuhku setelah tidur bukanya sembuh dan enakan malah pagi hari sekujur tubuh rasanya sangat sakit, bukan hanya sekujur tubuhku saja yang pegal, bagian pangkal paha pun rasanya sangat sakit.
"Mas..." Aku menggoyangkan tubuh mas suami yang masih terlelap. Bagaimana aku akan berjalan ke kamar mandi kalau tubuhku saja sakit semua.
"Hemzz... kenapa Sayang?" tanya Mas suami dengan suara serak dan juga tangan menggosok-gosok kelopak matanya, yang aku tahu kalau kang mas bojo masih ngantuk.
"Tubuh Tia sakit semua, terus ininya sakit," rengeku seperti bocah yang kesakitan. Ingat, dulu aku tidak manja seperti ini, tetapi saat ini rasanya aku sangat ingin nangis. Aku tidak menyangka kalau melepas keperawanan sangat menyiksa seperti ini.
__ADS_1
"Astaga, coba Mas lihat."
Mas Gala justru dengan cekatan menyibakan selimut yang menutupi tubuhku yang masih polos, dan seperti mau melihat benda sakralku, tetapi buru-buru aku menutupnya dengan telapak tanganku. Rasanya aku tidak bisa membayangkan ketika Mas suami melihat benda keramat itu. Padahal semalam kami melakukan lebih dari sekedar melihat.
"Loh, kenapa Mas hanya mau melihat saja, untuk memastikan kalau kamu tidak luka. Lagi pula semalam Mas sudah melihatnya, bahkan lebih dari melihat," ucap Mas suami, yang justru berhasil membuat wajahku kembali memerah ketika aku mengingat kejadian semalam. Sungguh aku tidak bisa membayangkan ternyata aku senakal itu.
"Tidak usah Mas, ini udah sembuh kok." Aku pun dengan tertatih beranjak dari atas kasur dan bersiap untuk ke kamar mandi selain aku ingin buang air kecil, aku juga harus segera membersihkan tubuh ini, dan mengadukan semua yang terjadi pada Tuhanku, serta yang terpenting aku ingin bersujud dan berdoa agar aku segera diberikan keturunan. Hanya itu harapanku yang sangat besar, dan tentunya aku berharap dengan hadirnya malaikat kecil mampu meluluhkan keras hati Tuan Piter. Aku masih belum merasakan tenang ketika restu dari sang kakek belum kami kantong.
Awhhh.... Aku memekik kaget ketika tubuh ini tiba-tiba melayang.
"Mas, kamu ngapain?"
"Hush, kamu diam saja."
Bersambung....
__ADS_1
Silahturahmi yuk ke rumah Abang Jati.