
"Mbak, apa kamu yakin mau berangkat kerja lagi? Bahkan kamu aja baru pulang belum istirahat?" tanya Ibuku yang, tatapan yang terlihat sangat lelah.
"Yakin Bu, Pak, lagian Tia juga bingung kalau di rumah mau kerja apa? Mau bantu di kebun atau sawa juga pasti Bapak nggak izinin Tia untuk bantu-bantu di kebun kan?" ucapku setengah berkelakar, yah entah alasan apa sejak dulu Ibu, Bapak tidak mengizinkan aku ke kebun atau sawah, kalau dulu sih alasanya nanti malah kamu nginjek-injek bibit yang udah tumbuh, tapi itu dulu saat aku masih kecil, sekarang usiaku sudah dua puluh dua tahun, tentu tahu mana bibit dan tidak akan diinjak-injak dong.
"Ibu cuma kasihan kamu, mungkin memang masa kerja kamu sudah habis itu biar kamu istirahat, lah ini baru sampai rumah sudah mau berangkat lagi. Mana jadi pembantu Mbak, nanti kata orang sekolah tinggi-tinggi cuma jadi pembantu," balas Ibu lagi, seperti kurang setuju kalau anaknya jadi pembantu.
Ini bukan perkara gengsi, tetapi di kampungku sekolah SMA sederajat itu sudah tinggi dan minimal jadi penjaga toko, mereka masih banyak yang memandang rendah pekerjaan sebagai pembantu, masih banyak yang beranggapan pembantu itu hanya lulusan sekolah dasar atau paling mentok sekolah menengah pertama.
Bahkan banyak yang menganggap kalau pembantu itu identik dengan ibu-ibu. Anak muda, dan cantik jadi pembantu, nanti bakal ada yang nyeletuk. "Sayang banget masih muda, cantik, pendidikan tinggi kok mau jadi pembantu."
Sebenarnya bukan perkara mau atau tidak, tetapi soal cari kerja itu sulit, bahkan untuk mendapatkan pekerjaan yang nyaman, dan gajih sesuai itu sangat jarang, dan mungkin untung-untungan. Itu sebabnya di kampungku banyak yang menjadi pahlawan devisa, aku pun andai banyak uang untuk pendidikan dan biaya mau-mau aja kerja di luar negri, tapi aku tidak punya uang yang cukup biaya untuk bekalnya sehingga aku memilih kerja di negara sendiri saja.
"Ibu dan Bapak doakan saja semoga Tia dapat kerjaan dan majikan yang enak, perihal cape di rumah juga cape, cape dengerin omongan tetangga, apalagi kalau nggak kerja-kerja, puas di bandingin sama anak tetangga," kelakarku yang langsung dapat pelototan dari ibuku, dan Lili hanya tertawa saja.
Aku pun pamit ke kamar untuk bersiap menyortir pakaian yang tidak seharusnya aku bawa agar bawaanku tidak terlalu banyak, lagian pembantu paling pakaiannya yang praktis-praktis, biar nggak repot kalau beres-beres rumah dan masak.
"Mbak kamu mau makan apa? Biar Ibu masakan untuk kamu?" tanya Ibu. Aku bahkan sampai lupa kalau aku belum makan sejak pergi dari Jakarta.
"Apa aja Bu, masakan Ibu mah enak," jawabku yang mana ini bukan sekedar pujian belaka tetapi ini juga kenyataan, selama aku merantau makan masakan restoran mahal, tetap saja masakan Emak juara satu.
__ADS_1
"Barusan panen kacang panjang, sama daun singkong, mau nggak makan sama itu, nanti bapak ambil ikan di empang buat di goreng?" tanya Ibu lagi, enak memang kalau baru pulang dari rantau di rumah diperlakukan seperti ratu, termasuk adikku juga sangat baik dengan kakaknya, tapi jangan ditanya sebelum aku merantau kerjaan aku dan Lili itu ya berantem terus akurnya jarang-jarang.
"Mau Bu," jawabku dengan kencang, dan aku pun mulai mendengar kegaduhan di dapur sederhana milik Emak, kantor sekaligus tempat ternyaman untuk Emak menghabiskan waktunya. Aku pun mendengar Lili yang nampaknya ikut membantu masak dengan Ibu.
Yah, aku akui adikku itu memang lebih rajin dari pada aku yang setengah pemalas ini. Aku pun sebenarnya ragu apakah aku bisa kira-kira nanti bekerja jadi pembantu, sedangkan aku kadang merawat kamar kost aja sering dikomplain dulu sama Misi dan Tulip baru gerak untuk bersih-bersih. Bangun saja, habis sholat subuh lebih milih tidur lagi kalau libur, sedangkan jadi pembantu harus rajin bersih-bersih, pandai masak, bangun pagi dan masih banyak hal yang membuat aku sebenarnya masih merasa ragu.
Namun, aku tahu kalau kita tidak menantang diri sendiri kapan kita akan maju. Yah, sehingga aku pun dengan niat yang baik ingin membantu perekonomian keluarga dan ingin membantu adikku yang sangat ingin menjadi seorang guru. Aku harus mau merubah diri.
Dua jam sudah aku gunakan untuk memilah pakaian yang aku bawa, aku benar-benar memilih pakaian yang simpel dan tidak ribet saat kerja.
"Mbak, makan..." Suara Lili sudah melengking dari dapur.
Aku yang tadinya mau menghubungi Misi dan Tulip karena dipanggil untuk makan, jadi lebih baik isi bensin dulu, apalagi aku sempat sakit beberapa bulan lalu jadi nggak boleh telat makan dikit nanti lambungku kambuh.
"Wih, ini sih makanan kesukaan Tia," ucapku setelah aku melihat sambel, tumis daun singkong dengan teri dan pepes ikan mas.
"Yeh, perasaan Mbak Tia mah dari dulu bilangnya makanan kesukaan semua, tapi kalau di minta bantuin masak nggak mau," protes Lili, lihatlah baru juga aku bilang dia sekarang manis. Dan sudah terbukti anak ini sudah cari gara-gara, ngajak ribut.
"Ya elah, ngapain punya adek kalau kakaknya masih harus bantu-bantu," jawabku sembari mengambil nasi dan lauk serta sayur favoritku.
__ADS_1
"Bukanya seharusnya kakak yang selalu bantuin orang tua, adik tinggal makan," balas Lili lagi, ya begini lah dulu kami selalu tidak pernah mau kalah sehingga selalu bertengkar.
"Udah-udah, Mbak, Lili, makan dulu nanti juga kalau Mbak kamu nggak ada sepi." Bapak yang notabenya orang paling pendiam pun angkat bicara. Yah, Bapak memang sangat pendiam, tetapi anehnya anaknya nggak ada yang nurunin sifatnya alias aku dan Lili itu berisik semua, lebih nurun dari sifat Ibu yang banyak omong.
Bayangin kalau aku dan Lili ikut sifat Bapak sangat irit bicara, kasihan Ibu nggak ada teman untuk bertengkar. Hahah canda, kami nggak pernah bertengkar kok, hanya saja sering bikin gaduh aja.
Kami pun makan dengan damai, mungkin ini adalah makan bersama sebelum aku kembali merantau, kembali mengadu nasib, dan berharap aku bisa memperbaiki perekonomian keluarga, dan bisa mewujudkan cita-cita adikku yang ingin jadi guru. Yah, di saat banyak yang menghindari profesi guru karena kurang dihargai, terutama yang honorer, adikku justru ingin mengambil profesi mulia itu. Lili bahkan sudah siap apabila dia bernasib kurang dihargai, cita-cita mulianya yang tetap membuat Lili semangat untuk mengenyam pendidikan, dan tentunya tanpa pahlawan tanpa tanda jasa ini tidak negara ini maju.
"Mbak, bantuin cuci piring yah nanti," ucap Lili ditengah-tengah makan siang kami.
Aku menatap Lili dengan tatapan yang datar. "Kenapa nggak kamu aja?" tawarku, sembari kembali makan.
"Sekali-kali Mbak kalau pulang kampung gantian Lili yang santai Mbak yang cuci piring," balas adikku.
"Kamu aja nanti Mbak kasih duit." Jurus andalan sogokan agar aku tetap santai. Benar saja setelah aku iming-iming uang Lili pun langsung diam, dan itu tandanya dia yang akan mengerjakan tugas cuci piring.
"Kamu nanti kalau di tempat majikan jangan malas kaya gini Mbak. Ibu sebenarnya agak ragu sama kamu, orang malas gini kok mau kerja jadi pembantu, nanti kalau kamu malas-malas gini, majikan kamu marah-marah dan malah bikin malu yang bawa (Bi Isah). Terus Bi Isah bilang sama Ibu kan yang malu nanti malah keluargamu," ucap Ibu menyela ucapan aku dan Lili, sedangkan Lili justru senyum-senyum puas setelah dengar kalau aku dinasehati oleh Ibu.
"Iya enggak atuh Bu kalau kerja mah. Kalau kerja kan dibayar jadi mau nggak mau harus rajin. Kalau di rumah kan ada Lili jadi biarin dia kerja, biar nggak males," jawabku yang langsung dapat pelototan dari adikku, tapi aku yang sudah biasa tarung sama Lili pun tidak takut udah biasa kami saling serang. Tapi bagaimanapun aku tetap sayang, tanpa dia kerja pun kurang semangat. Bahkan aku yang sering dinasehati sama Lili, biarpun dia masih muda, tapi jangan ditanya sifatnya lebih dewasa dari pada aku.
__ADS_1
Bersambung...