
Kakek kembali menatap papi mertua dan momy mertua secara bergantian.
"Jadi kamu tetap akan menceraikan Mizel dan memilih Bela?" tanya Kakek dengan tegas, pada Papi Yusuf.
"Sepertinya jawaban dari Yusuf tadi sudah cukup jelas Pah."
"Baiklah untuk sekarang urus keluargamu sendiri, mungkin ini waktunya kalian memilih kebahagiaan kalian sendiri. Dan kamu urus perpisahan dengan Mizel dulu jangan sampai membuat masalah kedepanya," imbuh Kakek, setelahnya Kakek pun berdiri hendak pergi dari rumah kami.
"Tia, Gala, kapan-kapan menginaplah di rumah Kakek, agar Kakek tidak kesepian."
Aku tersentak kaget mendengar ucapan Kakek di mana, nada bicara beliau sudah sangat berbeda. Kali ini jauh lebih lembut.
"Baik, Kek lain kali Tia akan main ke rumah Kakek," jawabku dengan yakin. Yah, kalau sudah tidak ada Tante Mizel aku rasa tidak ada salahnya sesekali main ke rumah Kakek.
"Kalau gitu Kakek pulang dulu. Kamu malam ini akan tidur di sini atau pulang Yusuf?" tanya Kakek sembari melihat ke arah Papi Yusuf.
"Di sini saja Pah, lagi pengin kumpul dengan anak-anak," jawab Papi Yusuf setelah menatap Momy Bela. Kakek hanya mengangguk pelan. Kemudian bersiap pulang.
__ADS_1
"Apa tidak lebih baik di sini dulu Pah, makan malam bersama kita?" Momy Bela pun nampak hangat memulai obrolan dengan Kakek.
"Mungkin lain kali, tidak sekarang." Kakek pun berjalan dengan pelan, di tuntun oleh Mas Gala, dan kami pun ikut mengantar Kakek ke mobil.
"Hati-hati Kek," ucapku sembari bersalaman dengan Kakek. Seperti biasa Kakek akan membalas dengan anggukan kepala.
Aku membuang nafas dalam, rasanya lega setelah pertemuan yang menegangkan, tetapi setidaknya aku bisa menghirup nafas lega setelah akhirnya Kakek mengalah memberikan restu pada pernikahan aku dan Mas Gala, bukan hanya Mas Gala saja, tetapi juga memberikan restu pada pernikahan Papi Yusuf dan Momy Bela juga. Setelah puluhan tahun mereka tidak mendapatkan restu dalam pernikahanya. Penantian yang panjang pada akhirnya mendapatkan akhir yang membahagiakan.
"Selamat yah Mom, akhirnya Momy mendapatkan restu dari Kakek." Aku mendekat ke arah Momy Bela yang justru nampak wajahnya sendu.
Momy Bela mengusap tanganku. "Momy tidak tahu, apakah harus bahagia atau bersedih. Ini adalah kabar yang sudah Momy dan papinya Gala tunggu-tunggu, tapi rasanya ketika restu itu hadir ada rasa bersalah yang Momy rasakan terutama, ketika papihnya Gala memilih Momy dan itu artinya akan menceraikan Mizel, kasihan juga. Apalagi nanti Mizel pasti akan semakin benci Momy, selama ini saja dia sudah sangat benci Momy apalagi kalau benar-benar papinya Gala menceraikan dia mungkin Momy akan benar-benar di benci untuk selamanya."
"Kamu jangan merasa bersalah seperti itu. Kalau aku boleh jujur pernikahan kami memang sudah lama bermasalah. Manis yang kami tunjukan hanya di luar saja kalau dilihat ke dalam maka kondisinya keropos. Semoga saja Mizel menerima dengan lapang dada apa yang jadi keputusan aku." Papi Yusuf tidak mau kalah memberikan ketenangan pada istrinya.
"Ya udah terserah kalian saja. Momy mau siapkanĀ makan malam untuk kalian, Gala kamu bersih-bersih aja dulu," ucap Momy Bela, tidak lagi membahas ucapan Kakek. Memang keputusan Papi Yusuf sudah yang paling baik sehingga tidak usah harus diperdebatkan lagi.
"Kok Gala aja, Papi nggak diminta bersih-bersih," ucap papi mertua dengan nada manja, aku pun hanya tersenyum menanggapinya.
__ADS_1
"Itu mah terserah Papi saja, mau bersih-bersih ya silahkan, tidak ya tidak masalah," ucap Momy dengan ketus.
"Cie... yang sekarang kalau malam ada yang nemanin tidur," goda Mas Gala, membuat wajah Momy Bela berubah merah karena malu. Kini rumah ini pun semakin ramai. Aku juga semakin betah tinggal di rumah ini. Rumah ini memang tidak mewah semewah rumah Kakek, tetapi di sinilah aku merasakan kedamaian, dan kebersamaan.
"Udah-udah Papi dan Gala cepatan mandi, Tia tolong bantu Momy siapkan makan malam yah."
"Siap Mom." Aku pun tanpa berpikir panjang langsung membantu Momy Bela untuk bantu siapkan makan malam. Begitupun untuk Mas Gala dan Papi Yusuf mereka membersihkan diri masing-masing.
Makan malam kami pun terasa sangat hangat dan berbeda, karena pada akhirnya Papi Yusuf akan menjadi anggota tetap juga di rumah ini, kini tidak hanya bertiga yang akan mengisi ruang makan ini tetapi akan ada tambah satu orang lagi yaitu papi mertua.
Tuhan memang maha adil ia tidak akan memberikan cobaan terus mernerus Tuhan akan memberikan jawaban atas doa Hambanya di waktu yang tepat. Mungkin selama ini doa Momy Bela tidak juga di kabulkan karena baru kali ini Tuhan merasa waktu yang tepat untuk mengabulkan doa Momy Bela.
Di saat masa tua menjemput ditemani oleh orang yang dicintai sangat indah memang. Apalagi aku melihat kedua mertuaku sangat romantis. Meskipun umur pernikah mereka sudah lama, tapi mereka bisa menjaga keharmonisan bersama. Semoga aku juga kelak akan seperti mereka selalu romantis hingga maut memisahkan kita.
...****************...
Sembari nunggu kelanjutan kisah Tia, yuk mampir ke novel bestie othor.
__ADS_1