Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Toge Goreng


__ADS_3

"Astaga Sayang, kamu masih tidur ...."


Aku terkejut dengan suara Momy Bela. Meskipun aku masih mengantuk, tetapi ku paksa mata yang seperti ada lemnya untuk aku buka dan menatap Momy Bela yang ternyata sudah pulang dari toko. Pandangan mataku menatap televisi yang masih menyala.


"Astaga Mom. Tia ketiduran lagi, padahal tadi habis makan dan sedang nonton film tapi malah ketiduran." Aku menggosok-gosok kataku yang masih berat, berharap rasa ngantuk akan hilang.


Momy Bela duduk di hadapanku, sembari mengusap rambutku yang acak-acakan. "Apa yang kamu rasakan?" tanya Momy Bela.


Aku tidak langsung menjawab pertanyaan yang Momy Bela tanyakan, tetapi aku mencoba mengingat-ingat kira-kira apa yang aku rasakan selain mengantuk dan mengantuk. Setelah cukup lama aku mengingat apa yang aku rasakan, aku pun menggelengkan kepala sebagai jawabanya.


"Tia tidak merasakan apa-apa, biasa saja. Hanya hari ini mata Tia seperti orang yang tidak tidur satu minggu sangat mengantuk sekali." Yah, memang itu yang aku rasakan sehingga aku pun harus jujur dong.


"Yang lainnya, kayak makan. Nafsu makan gimana?" tanya Momy Bela lagi. Aku kembali berpikir untuk perbedaan nafsu makanku hari ini dengan nafsu makan sebelumnya.


"Tidak terlalu banyak perbedaan Momy makan biasa saja, hanya mungkin tadi bangun-bangun sangat lapar, dan makan cukup banyak, mungkin karena melewatkan jadwal sarapan," jawabku dengan jujur.


"Kamu siap-siap yah, kita ke dokter!!"


Aku terkejut dengan ucapan Momy Bela, ngapain coba ke dokter, aku merasakan kalau tubuhku tidak ada yang beda, aku hanya butuh istirahat saja, tapi kenapa harus ke dokter. Hanya buang-buang duit, itu yang aku pikirkan.


"Buruan jangan pakai lama, Momy tunggu di luar!"


Lagi aku seolah tidak diberikan kesempatan untuk protes, mau tidak mau meskipun aku merasakan kalau aku baik-baik saja, tetapi aku pun akhirnya mengikuti apa kata Momy Bela aku siap-siap tentunya tanpa mandi benar-benar aku seperti takut terkena air. Padahal cuaca di luar cukup panas, tetapi tubuhku begitu masuk ke dalam kamar mandi seperti masuk ke dalam kulkas dingin banget.

__ADS_1


Tidak harus berlama-lama aku bersiap aku hanya memakai gamis dan hijab instan, polesan bedak tipis dan lipstik berwarna nude. Aku tidak suka terlalu menor dandan, simpel aja, aku sudah cantik ko. Hehe pede aja dulu.


"Kita mau priksa apa Mom? Perasaan Tia tidak sakit, biasa saja badanya, tidak ada merasa yang aneh," ucapku begitu aku menemui Momy Bela yang sudah menungguku.


"Nanti kamu juga tahu."


Bukan itu jawaban yang aku inginkan, kalau tunggu sampai nanti baru tahu untuk apa aku bertanya. Namun, aku tahu saat Momy Bela berkata nanti juga tahu, itu tandanya aku tidak lagi harus bertanya yang macam-macam, karena jawabanya pasti sama intinya nunggu nanti.


Sebagai menantu yang baik dan tidak sombong aku pun mengikuti saja apa yang kiranya Momy Bela katakan, aku hanya mengekor di belakang Momy Bela hanya berkomunikasi yang simpel-simpel saja.


"Kamu lihat apa?" tanya Momy Bela, saat mobil kami berhenti di lampu merah.


"Tidak ada Mom," jawabku simpel.


"Kamu mau itu? Kalau mau beli saja jangan ditahan-tahan."


Karena aku memang ingin cicipi bagaimana rasanya toge goreng khas Betawi aku pun tidak nolak ketika Momy Bela meminta aku agar membelinya.


"Momy mau?" tanyaku agar aku bisa kira-kira belinya.


"Ya udah kamu belikan untuk Bibi di rumah juga."


"Ok." Aku pun membeli empat bungkus untuk aku, Momy Bela, Mang Sono, dan Bibi di rumah. Karena yang beli ngantri aku pun cukup lama menunggunya, lagi-lagi perutku sangat lapar ketika mencium aroma toge goreng, terlihat simpel sih hanya toge yang ditumis dengan bumbu yang sudah diracik dan ada mie berwarna kuning dan entah apa lagi aku hanya melihat sekilas, tetapi dari harumnya sudah membuat cacing dalam perutku langsung menjerit-jerit minta mencicipi bagaimana rasa dari makanan khas Betawi itu.

__ADS_1


Setelah lebih dari setengah jam aku menunggu akhirnya aku pun berhasil membawa empat bungkus toge goreng.


"Aduh Tia hampir saja ngences saking harumnya makanan ini," ucapku sembari memberikan satu bungkus toge goreng ke mang Sono.


"Mau makan di sini?" tanya Momy Bela. Namun aku langsung menggeleng, aku masih kuat kok untuk menahanya sampai rumah.


"Nanti aja Mom di rumah, tidak lama kan ke dokternya?" tanyaku penasaran, jujur pengin sih makan saat ini juga, tetapi aku bingung makan di mana, mana tadi nggak dikasih sendok kata abangnya kehabisan, aku sih maklum aja, namanya juga pedangang kecil hanya jualan di pikul, jadi aku memaklumi kalau kehabisan sendok.


"Tidak paling setengah jam."


Tidak lama dari membeli toge kami pun sampai di rumah sakit bersalin.


Aku mengernyitkan dahi, sekali lagi membaca tulisan yang ada dihadapanku Rumah Sakit Bersalin Bunda dan Anak.


"Kok ke rumah sakit bersalin, siapa yang lahiran Mom?" tanyaku tidak mungkin kan binatang peliharaan Momy, kalau lahiran tentu bukan di rumah sakit bersalin khusus manusia.


"Kamu .... "


"Hah Tia?" Terkejut dong mendengarkan ucapan Momy Bela.


"Maksud Momy apa?" tanyaku kepo.


"Nanti kamu juga tahu. Ayo!" Dengan rasa penasaran yang begitu tinggi aku pun langsung mengikuti langkah Momy Bela.

__ADS_1


Bersambung.....


...****************...


__ADS_2