Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Gengsi Yang Semakin Besar


__ADS_3

Ada rasa deg-degan saat pertama kalinya aku akan bertemu lagi dengan sahabatku, dan aku juga akan mengunjungi kantor di mana dulu menjadi tempatku mengais rezeki. Dari office girl naik jabatan ke istri bos perusahaan, rasanya aku masih belum siap apabila ada yang masih mengenaliku dan tahu kalau aku kini jadi istri bos mereka.


"Kok tumben sepi, batre kayaknya masih full kan?" ledek mas suami.


Aku mencebikan bibir. Laki-laki itu memang super iseng. "Tia hanya deg-degan aja gimana nanti reaksi Misi kalau tahu Tia malah sudah nikah dengan Pak Gala. Terus nanti karyawan di kantor kalau ada yang masih kenal Tia pasti bakal heboh kalau Mutia mantan office girl sekarang menikah dengan matan bosnya."


"Ya bagus dong, kabar bagus kan memang harus disebarkan. Kalau sudah tahu bos mereka sudah tidak sendiri lagi pasti mereka nggak caper-caper lagi."


Senyum merekah dan jahil terlihat dari wajah mas suami.


"Iya bagus, tapi Tia kurang nyaman." Sebenarnya apa yang dikatakan Mas Gala memang benar, kalau karyawan sudah tahu bos mereka sudah punya istri pasti nggak ada yang genit lagi, tetapi entahlah hatiku masih belum siap apabila banyak gosip-sosip berterbangan.


"Kenapa kan tujuan kamu tercapai pasti Yuda bakal iri sama kamu."


"Mas, jangan bahas orang itu lagi malas jadinya nih." Aku pun pura-pura merajuk.


"Iya-iya nggak bahas orang itu lagi, kan sekarang mantanya sudah dapat yang lebih. Lebih kaya dan lebih ganteng."


"Dih PD." Aku memutar bola mata dengan malas.


"Halah, akui aja sih, bukanya setiap malam juga selalu dielus-elus terus wajahnya, terus kalau Mas lagi tidur suka dilihatin terus. Kenapa suka yah." Mas Gala tertawa dengan renyah karena berhasil membuat wajahku memerah.


"Mas, bisa diem nggak."


"Udah sih akui aja, yang tiap malam suka lihatin suaminya terus kalau lagi tidur, cinta banget emang."


"Gini nih kalau pembagian kepercayaan diri maju paling depan. PD-nya kelewatan. Kalau malam Tia lihatin Mas, itu bukan karena kagum atau apa yah. Tia hanya heran aja kenapa bisa jatuh cinta sama laki-laki yang sudah tua."


Citttt... Mobil seketika berhenti.


"Bilang apa tadi?"


"Mas yang mulai duluan," elakku, entah aku sekarang gengsian untuk mengakui kalau aku cinta sama Mas suami, beda dengan aku yang dulu.


"Kalau gitu tunggu pulang kerja, Mas bakal hukum kamu." Dari nada bicaranya seharusnya aku takut.


"Dihukumnya sekali atau dua kali?" Nah kan malah nantang.

__ADS_1


Mas Gala pun hanya menggelengkan kepalanya. "Istrinya siapa sih ini, kenapa nakal banget, heh." Mas suami mencubit pipiku yang memerah.


"Suaminya aja nakal, masa istrinya baik, nggak adil dong," sahutku dengan santai.


Mas Gala justru meraih tanganku, dan menciumnya dengan lembut. "Mas suka kamu nakal, tapi ingat nakalnya hanya sama suami, nggak boleh sama yang lain."


Aku mengulas senyum jahil.


"Sama Misi?"


"Nggak boleh."


"Sama Tulip?"


"Nggak Juga."


"Sama Mas Yuda?"


Mas Gala langsung memalingkan pandangan ke arahku dengan sorot yang tajam.


"Cie cemburu..." godaku. "Ya udah pasti cemburu, kan istrinya cantik." Aku pun ketularan terlalu pede.


"Jadi mau terus debat nggak mau jalan nih?" tanya Mas Gala.


"Loh kok tanya Tia, kan Mas Gala yang berhentiin mobilnya. Lagian yang bisa bawa mobil Mas ya jalan ajah. Kasihan Misi udah nungguin besti-nya." Aku menggerak-gerakan tangan seperti mengusir ayam.


"Abisan kamu ngajak terus."


"Nahkan aku yang disalahkan, emang istri itu serba salah, diam aja disalahkan apalagi lucu kaya Tia. Nasib-nasib," gerundel ku yang mana mas suami malah mencubit pipiku lagi dengan gemas.


"Kenapa aku bisa punya istri kaya gini sih, ya Tuhan jangan-jangan ketuker sama badut ancol, bikin gemes."


"Tapi suka kan?"


"Enggak."


"Mulai deh gengsinya, ati-ati nanti ada yang nyuri loh kalau gengsi mengakuinya," godaku sembari mengerlingkan sebelah mataku.

__ADS_1


"Kalau ada yang berani nyuri siap-siap aja masuk neraka."


"Dih jahat banget."


"Tapi suka kan?" tanya Mas Gala gantian.


"Dih, tepatnya Tia hanya terpaksa sih."


"Tau ah cape ngomong sama kamu," rajuk Mas suami dan aku cukup terhibur dengan perjalanan kali ini, keteganganku pun sedikit menguai. Mas suami memang paling tahu kalau aku sejak tadi itu sangat tegang.


"Eh, ngomong-ngomong kamu mau ke kantor dulu, atau langsung ke kosan Misi?" tanya Mas suami saking asiknya ceng-cengan sampai lupa bilang, kalau aku akan langsung ke kosan Misi. Bahkan kayaknya aku bakal langsung kena omel kalau sampai telat sama bu RT itu.


"Kosan Misi, Mas. Buruan yah bawa mobilnya, pokoknya jangan sampai telat. Kalau telat bisa-bisa aku langsung dapat ceramah sama bu ustadzah itu," aduku.


"Emang Misi bawel?"


"Huh, Mas nggak tau dia paling bawel di kosan itu."


"Masa? Bukanya Mas dengar-dengar justru kamu yang paling bawel."


Ahhh...Ahhh... Mas suami kena cubit akhirnya kan.


"Lagian enak aja bilang seorang Tia bawel, aku nggak bawel kok cuma sedikit rame ajah, ingat hanya sedikit yah."


Lagi-lagi mas suami hanya menggelengkan kepalanya heran kali punya istri kaya begini.


Aku mengulas senyum manis, ketika baru turun dari mobil, eh tepat senyum rayuan agar Misi nggak marah, karena aku telat. Itu semua gara-gara Mas suami yang ngajak debat terus.


Awalnya aku sih lihat Misi wajahnya sudah ditekuk, dan lusuh, tapi pas lihat aku datang dengan siapa, senyum pun langsung terkembang dengan ramah.


"Hay Tia, kangen banget." Misi merentangkan tangannya dan senyum sok akrab.


Aku mengangkat sebelah bibir menunjukkan senyum sinis. "Cih, tadi ajah sebelum tahu kalau Pak Gala yang antar, mukanya sepet banget. Pencitraan"


"Diem lu, pura-pura akrab napa." Pundakku langsung jadi sasaran keisengan Misi.


"Kan, baru ketemu aja udah ngajak ribut."

__ADS_1


__ADS_2