
"Mbak, kata Bi Isah besok pagi suruh sia-siap nanti ada sopir dari calon majikan yang bakal jemput Mbak Tia." Lili tiba-tiba masuk kamarku dan membuat ku kaget, di mana aku sedang telponan dengan Misi, dan Tulip.
Hustt... Aku meletakan jari telunjuk di depan bibir agar Lili jangan ngomong kenceng kenceng, takut Misi dan Tulip dengar gagal dong aku bohong kalau aku bakal tetap tinggal di kampung dan dalam waktu dekat mengambil sekolah bahasa dan berniat jadi pahlawan devisa ke negri sakura.
[Tia lu mau kerja di Jakarta lagi?] Misi langsung nyeletuk memastikan apa yang dia dengar itu benar.
[Tadi katanya mau daftar jadi TKW, tenaga kerja wanita] Tulip pun tidak kalah langsung memastikan lagi apa yang dia dengar. Wajar sih kalau Misi dan Tulip bertanya lagi, abisan Lili ngomongnya kenceng banget mana jelas lagi, nggak pake bahas isyarat atau apa gitu, langsung nyerocos aja.
[Bukan Misi, Tulip itu bukan ke Jakarta tapi kerja di kota aku. Selama aku nunggu, tadi ada tetangga yang nawarin kerja bareng tapi masih di kotaku ko. Lagian kalau ke Jakarta lagi ngapain aku cape-cape pulang, baru sampai tadi pagi, besok paginya berangkat lagi, jadi kaya orang bingung aku bolak balik aja] balasku, dan aku sih berharap kalau teman-temanku percaya.
[Oh, aku pikir lu mau kerja ke Jakarta lagi, bisa kali kapan-kapan kita kumpul lepas kangen,] Pengin mereka sih gitu, cuma aku belum siap kalau harus kumpul sama mereka. Aku sedang benar-benar pengi ngilang dan melupakan Pak Gala, yang aku yakin kalau Pak Gala saat ini sedang sangat panik karena aku yang tiba-tiba menghilang, tidak ada kabar apa-apa, kecuali kalau karyawan kantor ada yang bocor.
Tapi kayaknya itu tidak mungki, karena kata Misi dan Tulip tadi pagi aman-aman saja, bahkan yang tanya aku tidak masuk hanya beberapa gelintir orang saja. Seperti sudah ada pemberitahuan agar tidak membahas masalah aku tidak kerja lagi oleh keluarga Tuan Piter. Yah tanpa kekuatan kekuasaan pasti bakal banyak gosip yang bisa sampai di telinga Pak Gala. Lagi the power of big boss jadi senjatanya.
Aku pun terus bertukar cerita dengan Tulip dan Misi, mereka benar-benar temanku yang paling baik. Buktinya kita sudah tidak bersama pun, mereka masih terus berkomunikasi terus dan bahkan mereka masih perduli dengan aku, masih selalu ngingetin aku makan, dan lain sebagainya, pokoknya aku masih merasa kita itu masih kumpul-kumpul. Paling berat berpisah dengan mereka, kesusilaan mereka bikin kangen. Apalagi kalau mengejek bener-bener total tapi mereka juga yang paling pertama nolong kalau aku sedang dalam masalah.
[Tia, tapi nanti kalau pernikahan aku kamu bisa kan datang? Padahal aku sudah siapin pakaian kita yang seragam loh, masa ia kamu nggak datang, sepi tau. Aku udah bayangin nanti kita bakal foto bertiga. Mas sih nggak kelaksanan,] ucap Tulip sebelum kita mengakhiri panggilan telpon kita.
__ADS_1
Aku baru teringat kalau Tulip dalam waktu dekat ini akan menikah.
[Aduh, maaf Tulip kayaknya aku nggak bisa datang deh, tapi tenang saja nanti kado dan juga kondanganya aku bakal transfer,] jawabku dengan enteng.
[Bukan soal kado dan kondangan Tia, tapi persahabatan kita itu loh yang sangat bikin aku sedih,] balas Tulip lagi yang mana kalau di dengar dari nada bicaranya Tulip memang sangat sedih kalau aku nggak datang ke pernikahanya.
[Iya atuh gimana yah Lip, jarak kita udah nggak dekat, dan butuh waktu yang nggak sebentar, belum ongkosnya. Mungkin nanti kalau aku ada waktu dan rezekinya lancar aku akan main buat ganti momen yang aku lewatkan.] Aku pun terus mencoba untuk menghibur Tulip. Bukan aku tega, tapi kembali lagi untuk menghindar dari seseorang yang ingin aku lupakan, memang harus ada perjuangan. Sudah jelas Tulip nikah pasti undang atasan, dan sangat besar kemungkinan aku akan bertemu dengan mantan. Lalu aku terlibat masalah baru lagi, yang ada nggak selesai selesai masalahku dengan Pak Gala.
[Iya udah nggak apa-apa Tia, aku berdoa aja kita akan kembali bertemu lagi di lain kesempatan, biar lu bisa pakai baju yang gue belikan untuk acara pernikahan gue.] Akhirnya Tulip mengerti juga kalau jarak kita sudah jauh.
Setelah hampir dua jam kita saling cerita-cerita yang nggak penting bahkan sampai ponselku panas, aku pun pamitan dengan dua temanku, tidak lupa kau memberitahu juga kalau kedepanya mungkin aku akan sulit dihubungi karena pekerjaan baruku yang tidak bisa selalu pegang ponsel. Dan dua sohibku pun mengerti akan kondisiku.
Pagi hari pun tidur nyenyaku sudah terusik dengan suara gaduh dari perabot yang saling beradu dari dapur. Meskipun aku sebenarnya masih sangat malas, ngantuk dan ingin tarik selimut lagi. Tapi aku ingat mulai hari ini harus belajar jadi orang yang rajin, dan bisa bangun pagi. Hilangkan rasa malas demi cuan.
Aku pun langsung bersiap untuk membersihkan diri dan juga langsung membantu Ibu, hal yang mungkin jarang aku lakukan. Untung Lili belum bangun kalau udah pasti bakal diceng-cengin, biasa lah ketika malas dinasihatin agar rajin, tapi ketika sudah rajin jangan ditanya kuping panas diledekin.
"Nah, gitu Mbak kalau nanti jadi pembantu itu harus rajin, kalau rajin majikan senang biasanya bakal dapat bonus juga." Kembali Ibu menasihati aku. Dan aku pun merasa bersyukur karena ada Ibu selalu perduli dengan aku, tidak sekali pun Ibu membahas tentang Yuda seperti yang aku katakan beberapa kali lewat sambungan telepon kalau hubunganku sama Yuda sudah berakhir dan aku malas apabila harus membahas tentang Yuda. Dan benar saja sepatan kata pun aku tidak mendengar Ibu, Bapak atau Lili yang membahas Yuda.
__ADS_1
Setelah aku ibadah dan membantu Ibu ala kadarnya aku pun langsung bersiap untuk berangkat ke Jakarta lagi, dan tentunya uang seratus juta itu aku bawa kembali. Aku belum sempat melakukan setor tunai sehingga aku harus membawa uang kesana kemari senilai seratus juta. Takut sih sebenarnya membawa uang banyak begitu, tetapi aku yakin pencuri pun tidak percaya kalau aku punya uang sebanyak itu. Penampilanku tidak mendukung kalau aku punya uang banyak.
Pukul delapan aku pun benar-benar berangkat lagi merantau ke kota yang sama dan juga tempat yang kemarin aku sudah pamit mengucapkan selamat tinggal dan kini aku datang kembali dengan harapan yang baru, takdir memang lucu aku seolah sedang bermain-main dengan waktu dua hari hanya untuk jalan-jalan ujungnya tetap di kota yang sama juga yaitu Jakarta.
Seperti sebelum-sebelumnya aku banyak di beri bekal nasihat dan ilmu dari Ibu dan Bapak, kalau Lili sudah berangkat sekolah.
"Mbak, kamu kerja yang benar yah, selalu jujur dan jangan lupa ibadah. Jangan tinggalkan sholat agar semua masalah di mudahkan oleh Allah."
"Bapak nggak bisa beri kamu banyak nasihat, karena Bapak tahu kamu orang yang sudah besar, sudah tahu mana yang harus dilakukan dan tidak, kerja di mana pun kuncinya jujur."
Itu adalah pesan Ibu dan Bapak yang masih aku ingat, dan akan selalu aku ingat.
Dari perlakuan pertama, aku tahu calon majikan aku memang baik, seperti yang Bi Isah katakan. Buktinya untuk berangkat ke Jakarta saja aku di jemput, berbeda dengan kebanyakan majikan akan membiarkan calon pembantunya naik bis, kali ini sedikit istimewa aku di jemput. Mana sopirnya cukup ramah sehingga aku tidak terlalu bosan dengan perjalanan kali ini. Karean banyak obrolan yang kami bahas terutama mengenai calon majikan aku, yang mana kurang lebih penjelasan Bi Isah dengan Mang supir sebut saja namanya Sono hampir sama, baik dan tidak bawel.
Aku jadi makin penasaran aja kira-kira bagaimana majikan aku sebenarnya, baiknya itu seperti apa?
#Sabar yah Tia sebentar lagi pasti kamu akan tahu kok.
__ADS_1
Bersambung....
...****************...