
Aku menatap punggung Pak Gala perlahan ke luar dari kamarku, aku tahu betul sebenarnya laki-laki itu masih belum ingin kembali ke kamarnya, tetapi karena Momy Bela yang memintanya sehingga mantan kekasihku nurut saja.
"Duduklah Tia, Momy akan bertanya dengan kamu, tapi tolong jawab dengan sangat jujur, karena Momy tidak suka kebohongan, dan juga Momy tidak suka ada yang ditutup-tutupi." Suara Momy Bela sangat berbeda dari biasanya, dan lagi-lagi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Yah, aku harus mengikuti apa kata Momy Bela, berbicara jujur dengan pertanyaan yang akan Momy Bela tanyakan.
Aku mengikuti apa yang Momy Belas katakan, aku duduk di tepi ranjang bersebelahan dengan majikanku, dengan perasaan yang sudah tidak menentu, tetapi dalam batinku aku selalu yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Momy tahu, ini semua bukan urusan Momy, tetapi Momy adalah ibu pengganti dari almarhum ibunya Gala, sehingga Momy anggap ini juga masuk ke dalam urusan Momy juga. Momy hanya ingin tahu bagaimana perasaan kamu sebenarnya dengan anak Momy? Apakah kamu masih mencintainya?" tanya Momy Bela dengan nada yang sangat lembut aku sampai sangat merasa beruntung punya majikan yang sangat baik, dalam kondisi yang mungkin saja masih emosi, tapi beliau juga tidak ada nada bicara yang menunjukkan marah sama sekali, beliau tetap terlihat sabar dan mengajak aku berbicara dengan baik.
Aku yang sudah berjanji akan berbicara jujur pun, tidak akan berbohong lagi. Yah, aku sudah janji kalau aku akan berkata dengan jujur meskipun resikonya kembali kehilangan pekerjaan aku.
"Kamu tidak usah takut, Momy tidak akan marah apapun jawaban kamu, yang penting kamu berbicara dengan jujur, karena kejujuran yang Momy inginkan," ucap Momy Bela lagi, mungkin beliau sangat membutuhkan jawaban dari aku.
Meskipun perasaan aku sedang tidak baik-baik saja tetapi aku mencoba untuk tetap tersenyum. "Apa yang Tia rasakan kurang lebih sama dengan Pak Gala," ucapku dengan pandangan menunduk.
__ADS_1
"Jadi kamu juga masih mencintai anak Momy?" tanya Momy Bela untuk memastikan kembali apa yang aku katakan. Dan aku pun memberikan anggukan yang cukup jelas untuk memberikan jawaban dari pertanyaan Momy Bela.
"Terus kenapa kamu pergi tinggalkan anak Momy, Tia? Momy tahu kalau kamu melakukanya bukan karena sepenuhnya keinginan kamu, katakan pada Momy apa yang sebenarnya terjadi. Momy hanya ingin tahu dan mungkin bisa membantu kamu," tanya Momy Bela lagi, dan untuk pertanyaan ini aku masih bingung antara berkata yang sebenarnya atau aku akan tetap menutupi semua yang terjadi tiga tahun silam? Aku kembali diam, bingung dengan apa yang harus aku lakukan, aku benar-benar sangat bingung.
"Tia, dulu ibunya Gala adalah kakak dari Momy dan sebelum beliau meninggal menitipkan Gala dan suaminya pada Momy, itu sebabnya Momy menikah dengan ayahnya Gala, dan tidak lama dari itu ternyata orang tua dari papahnya Gala mengambil Gala, dan juga meminta agar Momy dan anaknya berpisah karena Momy tidak bisa memberikan anak, saat itu hati Momy sangat sakit, karena Momy juga mencintai papahnya Gala. Atas kesadaran dan kesepakatan bersama Momy dan papahnya Gala membiarkan Gala diambil hak asuhnya oleh kakeknya, itu sebabnya Gala sangat jarang ke sini karena Momy tidak ada hak asuh, dan juga pihak kakeknya Gala melarang Momy untuk dekat dengan Gala. Dan ternyata di usia pernikahan Momy yang ke dua puluh tahun dengan papahnya Gala harus kembali diuji, awalnya kami tetap bahagia meskipun tanpa anak di tengah-tengah kami, tapi kembali orang tua papahnya Gala meminta suami Momy menikah lagi. Kembali ujian berat Momy hadapi setelah dua puluh tahun lebih Momy kehilangan Gala, kini kembali di uji dengan suami yang dipaksa menikah lagi, dan sampai detik ini suami Momy untuk bertemu dengan Momy pun sangat sulit karena istri mudanya selalu melarangnya belum keluarganya juga seperti tidak mau kami tetap memiliki hubungan, tapi Momy yakin suatu saat Momy pasti akan bahagia, Momy percaya itu, kamu pun bisa ceritakan apa yang terjadi sama kamu, kalau tebakan Momy benar kamu juga dipaksa menjauh dari Gala oleh keluarga kakeknya Gala? Katakanlah Tia, dan Momy hanya beri saran sama kamu, kamu jangan seperti Momy yang pasrah, Momy tidak ingin kamu pasrah Momy ingin kamu tetap kembali semangat untuk apa yang seharusnya kamu perjuangkan."
Momy Bela mengusap pundakku, meskipun aku tidak merasakan dengan apa yang terjadi dengan Momy Bela, tetapi aku merasa ikut sedih dengan cerita Momy Bela yang sangat hebat. Aku yakin kalau aku yang ada diposisi Momy pasti tidak akan sanggup.
"Kamu boleh percaya pada Momy, dan katakan apa yang terjadi dengan kamu dan juga yang membuat kamu pergi meninggalkan Gala. Nasib Momy dan Gala kurang lebih sama, kita sama-sama menjadi korban keegoisan orang-orang yang tidak mau mengerti cinta, yang mereka cari hanya uang dan uang, bahkan mereka tidak mau tahu apa yang kami rasakan," balas Momy Bela dengan nada bicara yang cukup memberitahukan kalau wanita paruh baya itu sangat kesal dengan pihak mertuanya.
Aku pun beranjak dari dudukku dan menuju pada tas yang sejak tiga tahun silam tidak aku buka, tas yang berisi uang seratus juta yang pernah diberikan oleh kakek dan juga mamahnya Pak Gala, tetapi baru aku tahu kalau wanita cantik yang datang menghampiri aku tiga tahun silam adalah ibu tiri dari Pak Gala, sama dengan Momy Bela, tetapi gayanya seolah wanita itu adalah ibu kandung yang berkuasa mengatur apa yang terjadi dengan anak tirinya.
Uang seratus juta yang ada di dalam tas aku berikan pada Momy Bela.
__ADS_1
"Apa ini Tia? Uang sebanyak itu kamu dapat dari mana?" cecar Momy Bela yang kaget ketika aku memberikan uang sebanyak itu, uang yang tidak mungkin aku punya mengingat uang gajihku hanya empat juta. Mengumpulkan sampai lebaran monyet belum tentu aku punya sebanyak itu. Momy Bela menatapku dengan tatapan yang bingung.
"Apa ini uang dari orang yang sama yang tadi Momy ceritakan? Dan kamu juga orang yang mereka coba singkirkan?" tanya Momy Bela lagi ketika aku memilih duduk kembali, tetapi tidak juga menjawab apa yang Momy Bela tanyakan.
Aku melihat sorot mata majikanku yang terlihat memerah menandakan kalau wanita itu sedang mencoba menahan air mata yang akan menetes. Bisa aku rasakan bagaimana sedihnya Momy sa'at ini.
Bersambung....
\#**Selamat Hari Raya Idul Fitri**\#
Telah tiba masa bulan penuh keberkahan. Menuai berkah dalam kedamaian. Hati yang gembira menyambut takbiran yang menggema di mana-mana. Di hari ini saudara terlihat saling menyapa. Bersama dengan cahaya pagi bermentari ceria. Langkah demi langkah waktu tersiar. Dalam dekap silahturahmi pengikat keselamatan. Saya sadar masih banyak kekurangan dalam setiap kata yang ter-rangkai menjadi sebuah cerita, bahkan mungkin ada kata yang menyinggung pembaca sekalian. Jangan sampai kekurangan dan keburukan saya menjadi indah, seindah rangkaian bunga mawar di mata readers sekalian. Mungkin dalam tulisan saya ada kata yang kurang berkenan mohon di bukakan pintu maaf. Di hari yang sempurna ini, izinkan saya menghaturkan maaf yang sebesar-besarnya. Minal Aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Selamat menyambut hari raya idul fitri. Yang mudik semoga kita semua selamat sampai tujuan, dan kembali dengan selamat juga.
__ADS_1