
"Tia, Momy pergi ke toko dulu yah, kamu di rumah istirahat saja, jangan pikirkan Gala terus, dia aman dengan Momy," ucap Momy Bela ketika sudah siap akan segera pergi ke toko.
"Baik Mom, hati-hati di jalan," balasku dengan memberikan senyum terbaik.
"Hai calon istri, calon suami mu mau pindah dulu yah. Karena takut kalau kita tetap tinggal dalam satu rumah malah ada setan yang lewat yang ada nanti malah bakal dapat dosa," ucap Pak Gala tidak mau kalah berpamitan dengan ku. Ah, itu sebenarnya tidak begitu penting. Tapi lagi-lagi hatiku terhibur dengan izin dan candaan versi Pak Gala.
Aku hanya membalas dengan senyuman, aku tidak bisa terlalu lucu seperti dulu. Maklum Momy Bela tahunya aku itu orang yang cukup pendiam dan tidak banyak berbicara, bahkan Momy Bela yang sering memulai mengajakku ngobrol, dari pada aku sendiri yang memulai sebuah obrolan. Kadang aku masih bingung mau ngajak ngobrol apa.
Setelah aku memastikan kalau majikan aku dan anaknya sudah pergi ke toko, aku pun langsung masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. Tempat pertama yang aku kunjungi adalah kamar, rasanya aku sudah tidak sabar untuk memberitahukan keluargaku di kampung, dengan rencana pernikahan aku dan Pak Gala. Aku sangat yakin kalau ke dua orang tuaku akan setuju dengan pernikahan aku. Yah, menikah adalah impian dari aku dan ke-dua orang tuaku.
"Hallo assalamualaikum..." Suara Ibu berhasil membuat hatiku terenyuh, meskipun aku sering bertukar kabar dengan Ibu, Bapak dan Lili, tetapi entah kenapa kali ini suara Ibu benar-benar membuat aku semakin rindu pulang.
"Walaikumsalam, Ibu lagi apa?" tanyaku basa basi, yah jujur aku bingung mau memulai obrolan dari mana. Sudah bisa aku bayangkan bagaimana reaksi Ibu dan Bapak kalau tiba-tiba tidak ada angin dan tidak ada hujan aku tiba-tiba mengabarkan kalau aku bakal menikah. Sedangkan sebelum-sebelumnya Ibu maupun Bapak bertanya soal pasangan aku selalu menjawab belum ada dan aku bahkan beberapa kali minta sama Bapak atau Ibu agar jangan tanya pacar atau calon suami terus karena aku bilang jodohku masih jauh.
"Kamu kenapa Mbak, kok kaya bingung gitu?" tanya Ibu, yang langsung mengagetkan aku yang berada di tempat yang berbeda.
__ADS_1
"E... Ibu, Tia mau tanya tapi bingung mau mulai dari mana," balasku dengan sedikit terbata.
"Loh kok bingung, mau tanya apa? Jangan bikin Ibu bingung dan cemas deh Mbak, kamu kenapa?" tanya Ibu, dari suaranya aku bisa menyimpulkan kalau Ibu pasti cemas dengan ucapan aku.
"Kalau Tia nikah bagaimana?" Dengan suara lirih, aku langsung menyampaikan apa yang menjadi tujuan aku langsung menghubungi keluargaku itu.
"Loh, kok bagaimana? Itu kabar bagus dong, itu yang Ibu dan Bapak inginkan kenapa kamu tanya kenapa? Dan kamu seperti ketakutan gitu, kamu tidak melakukan kesalahan kan Mbak?" tanya Ibu, justru berpikir yang tidak-tidak dengan anaknya. Dan itu membuat aku malah semakin bingung dengan pertanyaan Ibu.
'Maksud Ibu, melakukan kesalahan yang seperti apa? Hamil maksudnya? Ya Allah Bu, Tia tidak seburuk itu, Tia masih bisa jaga diri Ibu tidak perlu berpikir yang tidak-tidak,' ucapku dengan suara yang bergetar, rasanya sakit ketika tiba-tiba wanita yang telah melahirkanku bertanya seperti itu. Meskipun aku tidak melakukanya.
Aku kembali diam bingung antara jujur dan merahasiakan setatus calon suamiku, tapi kalau pun dirahasiakan bukanya nanti juga kedua orang tuaku akan tahu juga. Malah nanti kalau tahu diakhir pasti akan semakin kecewa karena aku tidak jujur dengan setatus Pak Gala, tapi kalau aku jujur apa nanti kata tetanggaku dan juga penilaian dari ke dua orang tuaku.
"Tia, kamu kenapa sih? Dari tadi Ibu tanya malah kayak melamun? Apa jangan-jangan ada yang disembunyikan dari kamu yah. Kamu sebenarnya ada apa Mbak, pergaulan kamu di Jakarta tidak neko-neko kan Mbak?" Kembali Ibu bertanya dengan pertanyaan yang bagi aku kurang nyaman, tetapi aku mencoba mengerti mungkin memang sebagai orang tua itulah yang sangat ditakutkan ketika anaknya kerja di luar kota. Takut kalau aku terbawa pergaulan bebas. Apalagi sekarang banyak yang berhijab tetapi prilakunya tidak sebaik dengan pakianya yang dikenakanya. Banyak yang berhijab tetapi mereka berzina, mungkin Ibu dan Bapak juga takut kalau aku akan seperti itu.
"Tidak Bu, Ibu boleh tanyakan pada majikan Tia, bagaimana prilaku Tia selama kerja bersama dengan beliau, Tia sebisa mungkin selalu menjaga diri dari pergaulan yang neko-neko, bahkan Tia hampir terus di rumah karena memang tidak suka keluar luar rumah," balasku agar Ibu tidak berpikir yang neko-neko.
__ADS_1
"Yah, Ibu sih percaya tapi kamu kaya ada yang disembunyikan menyenai calon suami kamu. Emang kenapa?" Aku tahu Ibu tidak akan tinggal diam kalau aku belum menceritakan kegalauan aku.
"Bu kalau Tia nikah dengan Duda apa Ibu dan Bapak setuju?" tanyaku dengan suara yang terdengar sangat lirih.
Satu... dua... tiga... aku menghitung sampai tiga. Tapi Ibu tidak menjawab juga pertanyaan aku, yah aku tahu kalau Ibu dan Bapak pasti tidak akan dengan mudah mengizinkan aku menikah dengan duda. Apalagi kalau mereka tahu kalau calon suamiku duda dua kali. Di kampungku menikah dengan duna masih menjadi hal yang tabu, alias jarang terjadi, mereka bahkan menilai kalau menikah dengan duda itu konotasinya buruk dan seolah tidak laku dan masih banyak anggapan-anggapan yang tidak mauk mengenai duda. Bahkan kalau aku sudah memutuskan kalau aku siap menikah dengan duda, maka aku juga harus menyiapkan mental kalau nanti bakal banyak gunjingan baik maupun buruk. Aku harus bisa menyiapkan kalau aku adalah orang yang menerima calon suamiku dengan tulus. Dan begitupun Pak Gala bisa membuktikan kesetiaanya.
"Bu, Ibu tidak setuju yah kala Tia menikah dengan duda?" tanyaku lagi, setelah beberapa menit tidak juga aku mendapatkan jawaban dari Ibu. Mengenai calon suamiku yang duda.
"Apa tidak ada calon suami yang masih bujang Mbak yang mau menikah dengan kamu?" tanya Ibu, yah sesuai tebakan aku kalau Ibu kurang setuju dengan keputusanku yang akan menikah dengan duda.
Kini aku yang kembali diam, aku memikirkan cara agar Ibu setuju dengan pilihan calon suami fersiku. Nyaranya halangan untuk aku dan Pak Gala bersatu tidak selalu dari keluarga Pak Gala, dari keluarga aku juga. Yang mana Ibu tidak setuju dengan pilihan calin suamiku yang duda.
"Apa kalau setatus duda tidak pantas untuk Tia, Bu? Bukankah keseriusan seseorang bukan dinilai dari setatusnya?" tanyaku dengan suara yang lirih, dan jujur dalam hatiku, seperti ada batu yang mengganjal. Ini baru aku berbicara dengan Ibu belum dengan Bapak, apakah Bapak akan sama pandanganya seperti Ibu, atau justru Bapak akan setuju dengan calon suamiku yang duda? Aku jadi seolah kehilangan semangatku untuk kembali mengabarkan pernikahanku pada Bapak, bagaimana kalau kedua orang tuaku tidak setuju, apakah aku dan Pak Gala akan tetap menikah tanpa restu dari ke dua orang tuaku atau justru membiarkan aku menikah karena menikah adalah ibadah tidak ada aturanya menikah perawan harus dengan perjaka, atau perawan dilarang menikah dengan duda, bukankah menikah itu menyempurnakan agama, dengan duda, maupun janda yang penting tujuannya dan tanggung jawabnya.
Bersambung
__ADS_1
...****************...