Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Tukang Gombal


__ADS_3

[Ya, kalau memang laki-laki itu baik untuk kamu kenapa Bapak tidak setuju, dan Bapak akan setuju apapun pilihan kamu, asalkan laki-laki itu baik, dan kamu bahagia maka tidak ada alasan kalau Bapak menolak dia, duda atau perjaka yang penting dia baik," ucap Bapak yang lagi-lagi membuat aku semakin bahagia karena memiliki Bapak yang selalu mendukung pilihan aku.


[Tapi, kalau Ibu tidak setuju bagaimana?] tanyaku lagi, bukankah menikah kunci keharmonisan adalah di orang tua, tapi kalau orang tua tidak setuju aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya ingin pernikahan kami benar-benar mendapatkan restu yang lengkap.


[Kata siapa Ibu tidak setuju, Ibu kamu pasti setuju,] balas Bapak dengan yakin, membuat hati ini langsung lega.


[Alhamdulilah, terima kasih Pak, nanti Tia akan bilang dengan calon mertua Tia dan juga dengan calon suami Tia, dengan apa yang Bapak dan Ibu inginkan,] Setelah aku mengobrol panjang kali lebar dengan Bapak aku pun kiniĀ  sudah lebih tenang karena Bapak pada akhirnya mau merestui anaknya menikah meskipun menikah dengan duda.


Kini aku pun hanya tinggal mengabarkan apa yang Bapak mau, yang ternyata malah Bapak dan Ibu yang mau datang ke sini untuk menghadiri pernikahan anaknya, bukan anaknya yang pulang ke kampung untuk menikah. Yah, aku paham betul sih apa yang Bapak dan Ibu khawatirkan, omongan tetangga yang kadang hanya melihat dari luar.


Gunjingan tetangga yang bisa membuat Ibu dan Bapak malu, menikah dengan duda, di mana di kampung ku masih menjadi hal yang jarang terjadi dan seolah tidak pantas, apalagi kalau mereka tahu bahwa calon suamiku pernah dua kali gagal menikah seperti apa keritingnya mulut-mulut tetanggaku nanti. Mungkin tidak akan pernah ada sepinya gunjingan untuk aku, dan yang paling tersiksa dengan gunjingan itu adalah keluargaku di kampung.


"Itu loh, si Tia nikah sama duda, dua kali gagal menikah, kasihan padahal masih muda malah dapat duda, bekasan dari orang lain."


"Kayak tidak ada yang masih sendiri lagi, malah milih yang duda."


Mungkin akan banyak lagi omongan-omongan yang menyakitkan, dan aku harus terbiasa akan hal itu.

__ADS_1


Aku tersenyum ketika membaca pesan dari nomor yang baru. Siapa lagi kalau bukan calon suamiku, yah itu adalah nomor Pak Gala.


[Calon istri sedang apa? Udah kangen nih] Itu adalah pesan dari Pak Gala, aku jadi heran kenapa Pak Gala yang sekarang dengan Pak Gala yang dulu sangat berbeda sekali. Pak Gala yang sekarang sangat senang menggombal, berbeda dengan dulu yang lebih banyak diam dari pada memulai ngobrol, ya meskipun tidak jarang sering bercanda, tetapi masih ada rasa gengsinya berbeda dengan sekarang suka gombal dan sepertinya romantis.


Aku memutuskan tidak membalas pesan dari Pak Gala, aku memilih menunggu Momy Bela dan juga Pak Gala pulang untuk berbicara secara langsung agar aku bisa bercerita dengan apa yang Bapak dan Ibu inginkan, barusan dari obrolan kami di telepon.


[Kenapa tidak di balas sih? Apa kamu tidak kangen dengan aku?] Pak Gala mengirimkan pesan lagi, dan aku pun hanya tertawa semakin kencang ketika membaca pesan dari Pak Gala.


Sifat jahilku pun langsung ke luar, aku bukanya membalas pesan dari calon suami malah mematikan ponselku, dan bersiap untuk istirahat, tubuhku sudah benar-benar sakit semua karena kurang tidur semalam.


Biarlah aku sengaja tidak membalas pesan dari calon suami toh nanti sore juga kita akan bertemu lagi.


Pukul enam, mobil Momy Bela pun terdengar dan aku pun langsung menghampiri ke depan.


"Wah, ini wangi apa Tia, kenapa Momy jadi lapar?" ucap Momy Bela yang membuat aku jadi besar kepala.


"Tia masak sambel terasi, sayur asem dan ikan goreng Mom, abisan tadi Tia tanya sama Momy katanya terserah Tia mau masak apa, jadi Tia hanya masak seperti ini," balasku dengan mengambil tas Momy Bela dan meletakkannya di kamar Momy, aku sudah biasa keluar masuk kamar majikanku.

__ADS_1


"Itu makanan mewah Tia, Momy jadi ingin langsung makan. Lagian asal kamu tahu kalau sayur asem itu juga makanan kesukaan anak Momy, benar kan Gala?" tanya Momy Bela dengan meledek Pak Gala yang sedang menatapku secara diam-diam.


"He... iya Mom, Tia sudah tahu kan dulu dia sering masakin makanan untuk Gala," jawab Pak Gala yang mana aku langsung kaget, sejak kapan aku memasakan Pak Gala. Pernah sih masakin, tapi masak nasi goreng, bukan sayur asem. Seperti yang Pak Gala katakan.


"Wah berati Tia sudah banyak tahu tentang anak Momy yah?" tanya Momy Bela, mungkin ingin mengetes seberapa kedekatan aku dan Pak Gala saat dulu.


"Tidak juga Mom, Pak Gala terlalu berlebihan Tia, pernah masakin Pak Gala memang, tetapi itu juga sekali, mana nasi goreng bukan seperti yang Momy bilang kalau Pak Gala suka sayur asem," jawabku jujur. Sedangkan Pak Gala malah senyum-senyum terus, mungkin beranggapan kalau aku dan Momy Bela itu lucu.


"Ngomong-ngomong tadi Tia sudah bilang pada Ibu dan Bapak soal Pak Gala yang akan menikahi Tia, tapi Ibu sama Bapak mintanya kita justru menikahnya di Jakarta saja, biar nanti Ibu dan Bapak yang datang ke sini," ucapku memulai obrolan yang serius. Tapi tentu aku tidak mengatakan kalau Pak Gala keberatan dengan aku yang akan menikah dengan duda.


Terlihat senyum dari majikanku. "Kalau boleh jujur, Momy malah sangat setuju dengan apa yang orang tua kamu katakan. Bukan kami tidak ingin datang ke kampung halaman kamu, hanya saja kalau di kampung halaman akan butuh waktu untuk cuti, dan bisa saja kakek Gala akan curiga karena Gala yang pergi lama, kalau di sini kita bisa atur dengan baik. Dan soal menikah dan acaranya biar Momy dan Papi yang atur kalian tenang saja."


"Gala, serahkan semuanya sama Momy dan Papi, karena Gala tahu kalian lebih tahu mana yang terbaik untuk Gala," balas Pak Gala, dan aku pun menganggukkan kepala tanda aku setuju dengan yang Pak Gala katakan. Aku pun tidak ingin berlebihan untuk menyiapkan pernikahan ini, karena bagi aku menyiapkan mental untuk menjalani kehidupan paska pernikahan nyatanya jauh lebih penting, aku harus kuat dan yakin kalau aku dan Pak Gala bisa menjalani hidup dengan baik mekipun mungkin Tuan Piter tidak akan setuju dengan pernikahan ini. Dan ini tugasku dan Pak Gala untuk menunjukkan bahwa pernikahan ini bukan karena harta dan harta. Dan aku juga harus menunjukkan kalau aku bisa membimbing suami aku untuk jauh lebih baik dan juga sukses.


Bukankah istri sudah membawa rezekinya masing-masing. Ah, rasanya aku malah tidak sabar ingin menunjukkan kalau aku adalah istri yang baik dan bisa membahagiakan cucunya. Kira-kira bagaimana reaksi Tuan Piter kalau ternyata aku jauh lebih baik dari dua istri sebelumnya Pak Gala? Apalagi kalau aku bisa memberikan cicit untuk beliau apa Tuan Piter masih bisa mengelak dan tidak merestui pernikahan kami?


Bersambung....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2